Budaya

Sambut Hari Jadi Humas Polri ke-74, Polres Mimika Laksanakan Bakti Kesehatan

Nampak personel Polres Mimika saat mengikuti donor darah.

MIMIKA, BM

Dalam rangka hari jadi Humas Polri ke-74 tahun 2025, Polres Mimika melaksanakan bakti kesehatan berupa donor darah di Aula Mako Polres Mimika, Mile 32 pada Senin (27/10/2025).

Bakti kesehatan ini mengusung tema "Transformasi Polisi Humanis Guna Mendukung Harapan Masyarakat".

Kapolres Mimika melalui Kasi Humas, Iptu Hempy Ona, SE menyampaikan bahwa kegiatan bakti kesehatan donor darah yang dilaksanakan ini sesuai arahan dari pimpinan pusat dalam hal ini Mabes Polri dan juga Polda Papua serta Papua Tengah.

"Kegiatan ini dilaksanakan secara serentak. Hal ini perlu kita lakukan karena pasien-pasien yang ada di Rumah Sakit membutuhkan darah," katanya di sela-sela kegiatan.

Dalam kegiatan ini Polres Mimika melibatkan tenaga medis dari PMI dan RSMM, mengingat klinik Tribata belum mempunyai kantong darah atau bank darah.

"Kami bekerja sama dengan PMI dan RSMM ini karena mereka pumya bank darah, sehingga sewaktu-waktu pasien membutuhkan darah silahkan menghubungi PMI dan RSMM," kata Kasi Humas, Iptu Hempy.

Lanjutnya,"Dalam kegiatan ini kami tidak punya target, kami hanya melaksanakan perintah dari pimpinan saja. Selain ini nanti akan ada nonton bareng pada hari H nya tanggal 30 Oktober 2025,"sambung Hempy.

Dengan hari jadi Humas Polri ke-74 tahun 2025, Iptu Hempy berharap supaya humas tetap berkembang, humanis dan tetap dicintai masyarakat. (Ignasius Istanto)

Kerukunan Keluarga Arui Das Gelar Syukuran 1 Tahun Kepengurusan

Foto bersama Badan Pengurus KKAD dan Pastor RD Gusty Rumsory

MIMIKA, BM

Kerukunan Keluarga Arui Das (KKAD) cabang Timika menggelar syukuran satu tahun kepengurusan yang berlangsung di Nawaripi Minggu (19/10/2025) kemarin.

Syukuran diawali dengan misa yang dipimpin oleh Pastor RD. Gusti Rumsory dengan mengambil tema “Menjadi Garam dan Terang Bagi Sesama Warga”.

Ketua KKAD Timika Andreas Batfin mengatakan Arui Das sudah berkerukunan 20 hingga 30 tahun yang lalu, tetapi pada tahun 2024 baru dilantik badan kepengurusannya.

“Jadi, jangan kita berpikir bahwa Arui Das baru satu tahun. Ini adalah satu tahun badan kepengurusan KKAD,” katanya.

Lanjutnya, ia menyayangkan karena masih ada yang belum aktif dalam badan kepengurusan dan mengapresiasi mereka yang konsisten aktif.

“Oleh karena itu, bapak ibu sekali lagi terkhusus keluarga Arui Das. Lihat baik-baik moto kita “Daliem Les, Andaun Le, Yoyouk Les” pasti kita orang Tanimbar mengerti,” ucapnya.

Ia menyampaikan bahwa Daliem Les berarti selalu satu hati, sementara Andaun Les selalu satu pikiran dan Yoyouk Les berarti sejalan.

“Selama ini dalam kepengurusan kami menilai bahwa warga Arui Das sudah 100 persen hidup di tanah rantau sesuai dengan moto. Namun, terkadang juga dalam kepengurusan ada persoalan kecil,” ungkapnya.

Oleh karena itu, selaku ketua kerukunan ia menghimbau agar warga Arui Das saling bergandengan tangan hidup di tanah rantau untuk tetap Satu Hati Satu Tujuan Satu Perbuatan.

“Hari minggu kedepan saya minta seperti ini. Jangan sampai ibadah yang datang cuma 10 orang. Saya tegaskan kepada bapak ibu pengurus jangan asal nama. Sudah di sumpah tetapi tunjukkanlah rupamu karena warga Arui Das Timika mempercayakan kita untuk membawa warga kita selalu sehati dan sejiwa,” tandasnya.

Sementara itu, Max Warwuru yang Mewakili Ketua Ikatan Kerukunan Kepulauan Tanimbar (IKKT), Karel Watunwotuk mengatakan satu tahun telah berlalu untuk kepengurusan KKAD ia mengucapkan terimakasih kepada badan pengurus yang telah bekerja dengan baik.

“Satu tahun berjalan tidak ada hal-hal sifatnya merusak nama baik kita. Saya mau menghimbau kepada warga Arui Das, jangan sekali-kali ada warga kita yang tidak mau bergabung di kerukunan kita,” harapnya. (Red)

Daerah Bertuan, PTFI Diminta Libatkan Unsur Adat Dalam Pencarian 7 Karyawan yang Terjebak

Area underground PT Freeport Indonesia 

MIMIKA, BM

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Peribahasa ini mengandung arti bahwa apapun bentuknya, siapapun kita, baik itu personal maupun kelompok bahkan perusahaan sekalipun wajib menghormati, menghargai dan mengakui aturan dan adat istiadat tempat dimana ia berada.

Keadaan ini mencerminkan sebuah penghormatan lebih pada nilai-nilai kearifan lokal tempat tersebut. Bahkan hal ini diakui terkadang menjadi dasar kuat dalam mencapai kesuksesan dan keberhasilan di tempat baru yang ditempati.

Peribahasa ini sebenarnya hanyalah sebuah pengingat sederhana yang tidak menjustifikasi apapun terhadap persoalan yang sedang terjadi di Mimika saat ini.

Perlu diketahui, sepekan sudah terhitung Senin (8/9/2025) hingga Senin (15/9/2025), PT Freeport Indonesia terus berupaya melakukan evakuasi terhadap ketujuh karyawannya yang hingga kini masih terjebak longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cove (GBC).

Proses penyelamatan oleh Tim Tanggap Darurat PTFI dilakukan terus menerus secara ekstra guna membuka akses ke lokasi perkiraan keberadaan ketujuh karyawan tersebut yang diketahui hingga saat ini dalam keadaan hidup.

Bahkan, dalam proses evakuasi PTFI bekerjasama dan terus melakukan koordinasi dengan Tim Inspektur Tambang Kementerian ESDM, MIND ID, Freeport McMoran, Pemda Provinsi Papua juga Pemda Mimika.

Selain terus berupaya melakukan evakuasi, PTFI juga menghentikan semua operasional dan terkini, telah mendatangkan keluarga dari ketujuh karyawan yang masih terjebak ke Mimika.

Upaya evakuasi ini juga mendapat dukungan dan doa dari pemerintah daerah dan masyarakat Mimika.

Salah satu perhatian yang diberikan masyarakat terkait persoalan ini adalah, mereka meminta agar proses evakuasi harus dlilakukan PTFI dengan melibatkan unsur adat seperti pemilik hak wilayat.

Menurut mereka, pendekatan tradisional juga perlu dilakukan karena bagaimanapun negeri ini bertuan teruatama di areal operasional PTFI sehingga dipercaya hal ini dapat membantu upaya penyelamatan walau dalam sudut pandang yan berbeda.

Terkait masukan dari masyarakat ini, BeritaMimika kemudian menghubungi salah satu tokoh pemuda Amungme yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Papua Tengah, yakni Yohannes Kemong.

Kepada BM, Yohannes Kemong membenarkan hal tersebut. Ia bahkan mendukung dan meminta PT Freeport Indonesia tidak mengabaikan hal ini.

Kemong mengatakan bahwa sudah ada beberapa kejadian yang tidak jauh berbeda dengan peristiwa saat ini dan ketika unsur adat dilibatkan, selalu membuahkan hasil positif.

“Ada beberapa persitiwa dan satu yang saya paling ingat sampai saat ini, dulu ada salah satu komandan yang hilang selama hampir seminggu. Tokoh-tokoh adat kemudian dikumpulkan, mereka buat adat dan berdoa, tidak lama dia kembali dari hutan,” ungkapnya.

Kemong mengatakan sudah pasti PT Freeport Indonesia dengan segala SDA yang mumpuni dengan berbagai peralatan canggih sudah dikerahkan namun tidak salah jika mereka juga melakukan pendekatan budaya.

“Saya sangat mendukung apa yang diusulkan oleh masyarakat dan saya berharap PT Freeport mempertimbangkan hal ini juga karena faktor alam dan keadaan setempat kadang butuh pendekatan adat-istiadat,” ujarnya.

Kemong kemudian mengatakan bahwa di areal PTFI itu ada beberapa marga besar (Amungme) yang memiliki pertuanan. Khusus untuk wilayah Gresberg dan sekitarnya, kepemilikannya olah tiga marga yakni Natkime, Jamang dan Omabak.

“Harus libatkan tiga marga ini karena itu pertuanan mereka. Mereka yang punya wilayah itu. Libatkan masyarakat adat untuk proses pencarian atau evakuasi ini. Karena kadang biar alat canggih tapi kalau tuan tanah sembunyi, kadang juga sulit. Artinya ini faktor lain tapi untuk persoalan kemanusian, tidak ada salahnya dilakukan. Dan saya sangat mengapresiasi ide masyarakat ini,” ungkapnya. (Ronald Renwarin

 

 

Top