Budaya

Festival Budaya Amungme Kamoro Berwawasan Nusantara Satukan Keanekaragaman Mimika

Bupati Mimika Johannes Rettob foto bersama di sela kegiatan

MIMIKA, BM

50 sanggar kerajinan tangan Amungme Kamoro, 40 Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) khusus kuliner Papua, dan 50 kelompok tari meriahkan Festival Budaya Amungme Kamoro Berwawasan Nusantara yang diselenggarakan perdana oleh Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Mimika.

Festival budaya yang mengangkat nilai-nilai budaya lokal ini juga diikuti oleh 24 sekolah dalam lomba cerita rakyat, 50 peserta dalam lomba Fashion Show dan 10 kelompok ikut lomba masak berbahan sagu.

Pagelaran dibuka secara langsung oleh Bupati Mimika Johannes Rettob dan diselenggarakan selama empat hari terhitung sejak Jumat (7/11/2025) hingga Senin (10/11/2025) di halaman GOR Futsal, SP5.

Bupati Mimika Johannes Rettob mengatakan kegiatan ini diselenggarakan untuk mempersatukan keberagaman budaya yang ada di Mimika baik bahasa, budaya, suku dan agama.

“Mimika Rumah Kita, dimana kita semua berkumpul disini bersama-sama. Rumah ini adalah rumah Amungme Kamoro dan kita semua yang datang disini kita jaga rumah ini dengan baik dan membuat Mimika jadi aman dan damai,” katanya.

Lanjutnya, untuk melaksanakan mandat pokok pikiran kebudayaan daerah maka perlu sautu kegiatan yang mencerminkan pengembangan dan pelestarian budaya seperti festival budaya ini.

“Saya berharap kerukunan dapat memberikan dukungan penuh kepada pemerintah bersama tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda untuk membuat kegiatan ini menjadi besar dan memberikan dampak luar biasa kepada masyarakat Mimika dan dapat menambah perekonomian,” ucapnya.

Menurutnya, festival budaya ini merupakan momentum penting untuk merayakan dan melesarikan kekayaan budaya yang ada di Mimika.

“Dengan perbedaan ini menjadi suatu kekuatan peluang untuk bersama-sama membangun Kabupaten Mimika. Mari kita hidup berdampingan, saling menghormati, bahu membahu membangun Mimika lebih baik dan maju lewat karya-karya yang kita miliki,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu, Bupati John berpesan agar sanggar-sanggar yang ada di Mimika dapat diperhatikan dengan baik.

“Saya berharap festival ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan membuat persatuan yang luar biasa di Kabupaten Mimika ini,” harapnya. (Elfrida Sijabat)

Peringati Hari Sumpah Pemuda ke-97, Polres Mimika Gelar Upacara

Suasana saat upacara peringati Hari Sumpah Pemuda di Mako Polres Mimika, Mile 32.

MIMIKA, BM

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97 yang jatuh pada tanggal 28 Oktober, Polres Mimika gelar upacara di Mako Polres Mimika, Mile 32.

Upacara dipimpin langsung oleh Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman S.I.K, M.H dan dihadiri sejumlah pejabat utama Polres Mimika serta seluruh personel Polres Mimika.

Dalam amanatnya Kapolres menyampaikan bahwa setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia mengingat kembali perjuangan dan semangat para pemuda pada Kongres Pemuda II tahun 1928, ketika mereka dengan penuh keberanian mengikrarkan sumpah pemuda, yakni bertanah air satu tanah Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia.

"Ikrar tersebut bukan sekadar kata-kata indah tetapi merupakan komitmen yang mengingatkan kita bahwa meskipun kita berasal dari suku, agama, budaya, dan daerah yang berbeda, kita adalah satu. Satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa," ujarnya.

Disampaikan Kapolres, tema tahun ini, “Bersatu, Bangkit, Majukan Indonesia” menyadarkan kita bahwa persatuan harus menjadi pondasi untuk kebangkitan nasional, terutama dimasa-masa penuh tantangan dan perubahan.

"Mari kita suarakan dan tunjukkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan terbesar bangsa ini dalam setiap tindakan kecil kita sehari-hari,"kata Kapolres. (Ignasius Istanto)

Gelar Aksi Demo Damai, FIM-WP-KPK Mimika Sampaikan Aspirasi

Nampak warga yang tergabung dalam FIM-WP-KPK Mimika saat menuju Kantor DPRK Mimika.

MIMIKA, BM

Masyarakat yang tergabung dalam Forum Independen Mahasiswa West Papua Komite Pimpinan Kota Timika (FIM-WP-KPK) menggelar aksi demo damai di Kantor DPRK Mimika pada Senin (10/11/2025).

Aksi demo damai ini mengusung tema “Papua Darurat Militerisasi, Investasi Dan Krisis Kemanusiaan".

Dalam aksi demo damai dengan menyampaikan aspirasi berjalan dengan tertib, serta mendapat pengamanan ketat dari pihak keamanan.

Selaku korlap, Freedom Kobogau menyampaikan bahwa ketidakadilan di atas tanah Papua kian banyak, sehingga FIM-WP-KPK harus bangkit bersama seluruh Papua menjaga dan mempertahankan tanah adat.

"Saat ini masyarakat Amungme, Kamoro dan OAP lainnya di Timika terpinggirkan. Kami yang saat ini bersuara adalah yang tersisa," katanya.

Menanggapi aspirasi tersebut Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau menyampaikan bahwa aspirasi akan diteruskan ke pihak-pihak terkait.

"Saya terima aspirasi ini, tapi kami tidak bisa menyelesaikan selain kami mendorong agar bisa temukan upaya bersama," katanya.

Adapun tuntutan yang disampaikan secara lisan dan tertulis sebagai berikut:

1. Hentikan kekerasan dan operasi militer terhadap masyarakat sipil di wilayah konflik Intan Jaya, Maybrat, Pegunungan Bintang, Yahukimo, dan daerah lain di Tanah Papua.

2. Hentikan seluruh Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke dan Kota Sorong yang mengancam kehidupan masyarakat adat Marind dan Moi.

3. Tutup semua perusahaan ilegal yang beroperasi di seluruh Tanah Papua dan berpotensi menimbulkan konflik.

4. Usut tuntas seluruh kasus pelanggaran HAM berat yang telah dan sedang terjadi di Tanah Papua.

5. Segera tutup PT Freeport lndonesia dan kembalikan hak kedaulatan rakyat Amungsa atas tanahnya.

6. Hentikan operasi militer berskala besar dan tarik seluruh pasukan non-organik dari Tanah Papua.

7. Pulangkan seluruh pengungsi sipil dari Nduga, Intan Jaya, Pegunungan Bintang, Maybrat, Yahukimo, dan Teluk Bintuni.

8. Karena militer terlibat dalam kejahatan kemanusiaan, maka kembalikan seluruh pasukan ke barak yang semestinya.

9. Prioritaskan pendekatan humanis dan dialog sebagai jalan damai untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan di Tanah Papua.

10. Berikan hak penentuan nasib sendiri (Right to Self-Determination) sebagai solusi demokratis bagi rakyat bangsa West Papua. Tanah Papua bukan tanah kosong. Papua adalah tanah air rakyat bangsa Papua yang berdaulat, yang terus melawan penjajahan, eksploitasi, dan militerisasi.(Ignasius Istanto)

Top