Hari Tuberkulosis Sedunia : 900 Warga Mimika Sembuh Dari TBC

Kadinkes Mimika Reynold Ubra memberikan penghargaan kepada fasilitas layanan kesehatan
MIMIKA, BM
Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) selalu diperingati setiap tanggal 24 Maret, namun untuk Mimika baru diselenggarakan pada Kamis 31 Maret 2022.
Di tahun ini, peringatan HTBS 2022 mengusung tema “Investasi Untuk Eliminasi TBC, Selamatkan Bangsa”.
Peringatan HTBS berlangsung di Hotel Horison Diana, Kamis (31/3) yang ditandai dengan pemotongan kue.
Pemda Mimika melalui Staf Ahli Andi Ramli mengatakan, sesuai tema HTBS, tahun ini diharapkan menjadi momen yang tepat untuk mengajak keterlibatan multisektor dalam meningkatkan kampanye terkait TBC.
Kampanye dilakukan dengan menyebarluaskan informasi terkait TBC, serta mendorong semua pihak untuk terlibat aktif dalam pencegahan dan pengendalian.
"Dengan peringatan ini diharapkan agar kita semua tergerak untuk menyadari pentingnya investasi upaya sekecil apapun untuk menanggulangi TBC demi pencapaian eliminasi TBC serta menyadarkan kita bahwa bukan hanya sektor kesehatan namun ini jadi tanggungjawab semua sektor," jelasnya.
Menurutnya, Mimika merupakan salah satu dari tiga kabupaten di Papua yang dengan beban TBC tertinggi.
Hal ini mengindikasikan bahwa penyakit TBC telah berkembang di masyarakat. Hampir di semua fasilitas kesehatan yang terdapat di perkotaan maupun di distrik dan kampung, baik secara pasif dan aktif telah menemukan penyakit ini.
"Saya himbau kepada seluruh masyarakat, sektor terkait, kalangan swasta dan dunia usaha dan yang paling penting adalah pemerintah kampung agar dapat berpartisipasi untuk membentuk serta membiayai kader TBC kampung yang dapat dipergerakkan sebagai pendamping minum obat agar dapat menekan terjadinya putus minum obat," harapnya.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, Reynold Ubra mengatakan, Pada konteks global, Indonesia masih masuk dalam tiga besar kasus TBC. Sementara di Papua, khususnya Mimika menempati urutan nomor satu temuan kasus TBC.
Tingginya temuan kasus ini dikarenakan wasor dan juru TB melakukan upaya pelacakan kasus. Target nasional, pelacakan kasus minimal 42 persen dan Papua mampu berada di angka 46 persen.
"Secara keseluruhan TB bisa dikendalikan, ini terlihat dari angka temuan kasus dan juga kalau kita lihat dari sucsess rate dari keberhasilan pengobatan yang ada di 75 persen dan kami harus mengejar sekitar 10 persen lagi karena minimal 85 persen," kata Reynold.
Dikatakan, kalau dibreak down, dari 46 persen ini ternyata yang paling banyak melakukan pelacakan kasus itu Mimika. Walau kasus tinggi tetapi angka kesembuhannya juga tinggi dan angka lost to follow up rendah.
Persentase kasus lost to follow up pun mengalami penurunan dari 19 persen ke 15 persen. Dan tahun ini dipastikan angkanya akan turun menjadi 10 persen. Indikator lain, kegagalan dalam pengobatan, angkanya juga turun dari 1 ke 0,6 persen.
Dikatakan, bahwa sampai tahun 2021, kasus yang ditemukan sebanyak 1.707 dan dari jumlah tersebut sekitar 75 persen atau 900 sekian pasien sudah dinyatakan sembuh. Sisanya masih dalam pengobatan dengan durasi 6 bulan sampai 1 tahun.
Di tahun 2021 yang dilaporkan adalah sucsess rate di tahun 2020 karena pihak Dinkes selalu melakukan pemantauan selama setahun.
"Kalau TB resisten memang tidak banyak tapi cenderung meningkat karena case detection pencarian kasus secara aktif itu juga meningkat. Namun dengan mesin TCM (tes cepat molekuler), kami sudah tidak hanya mendeteksi tapi juga bisa mengetahui ini orangnya ada resisten atau sensitif terhadap pengobatan kira-kira sekitar angka 16 persen," jelasnya.
Diketahui, ada tiga Puskesmas yang sudah bisa melakukan TCM yaitu Puskesmas Timika, Wania dan Jileale. Kemudian RSUD Mimika dan RS Tembagapura.
Dinkes Mimika melalui penanggungjawab program TB di Mimika yang jumlahnya 56 orang termasuk dua Wasor kabupaten sedang berupaya bagaimana melakukan investigasi kontak, kontak serumah dengan penderita TB kemudian memberikan pengobatan untuk pencegahan mereka.
"Masalah terbesar dalam penanganan TB adalah kepatuhan minum obat jadi perlu adanya pendampingan dan pengawasan minum obat dari keluarga dan kader. Saya harap juga tidak membuat diskriminasi bagi pasien TB dan jika ada anggota keluarga atau teman yang terpapar TB dan harus minum obat paling tidak kita bisa berperan menjadi pendamping minum obat atau pemantau," Ungkapnya. (Shanty)






















