Ekonomi dan Pembangunan

Tidak Satupun Karyawan Hotel Horison Yang Di PHK

Hotel Horison Ultima Timika

MIMIKA, BM

General Manager Hotel Horison Ultima Timika, Jenner Kasim menegaskan bahwa dalam masa pandemi Covid-19 saat ini, tidak satupun karyawan mereka yang di berhentikan atau berikan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Hal ini diklarifikasi manajemen Hotel Horison karena sebelumnya, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Mimika, Ronny S Marjen, kepada BeritaMimika menyampaikan bahwa Hotel Horison Ultima Timika telah melakukan PHK terhadap 20 karyawan mereka.

“Tidak ada satupun karyawan kami yang di PHK. Kami pun tidak ada wacana itu, walau dalam kondisi ini, kami tetap melindungi karyawan karena bagi kami mereka adalah aset,” ungkapnya kepada BeritaMimika, Selasa (19/5).

Ia menjelaskan Hotel Horison hingga saat ini belum memiliki pegawai tetap. Karyawan akan diangkat menjadi pegawai tetap jika telah bekerja selama 5 tahun.

Horison hanya memiliki pegawai kontrak dan pegawai lepas. Pegawai lepas pun hanya digunakan pada saat even atau lagi banyak orderan dan kegiatan. Sehingga mereka tidak memiliki hubungan mengikat dengan hotel.

“Karena hotel baru berdiri jadi kami belum ada karyawan tetap. Yang ada hanya pegawai kontrak dan mereka ini tidak ada yang kami PHK. Mereka tetap kami stanbykan di hotel. Yang dirumahkan iyalah karyawan lepas yang direkrut hanya pada saat-saat tertentu saja dan setelah itu tidak lagi digunakan,” jelasnya.

Menurutnya, Horison saat ini memiliki 70 karyawan kontrak. Dari jumlah ini ada 4 karyawan yang dirumahkan. 2 diantaranya cuti hamil sementara 2 lainnya cuti kerja namun hingga saat ini belum bisa kembali karena terputusnya akses transportasi.

“Karena keadaan, mereka ini kami rumahkan. Walau di rumahkan kami tetap membayar hak mereka seperti THR, BPJS tenaga kerja dan kesehatan. Setelah semua normal mereka akan kembali bekerja karena masih terikat kontrak. Jadi sekarang yang aktif 76 orang,” ujarnya.

Ia mengakui di tengah pandemi ini, kebijakan yang diambil manajemen Horison sama dengan apa yang dilakukan hotel-hotel lainnya. Yakni pemberlakukan jam kerja 15 hari dalam satu bulan dan pengurangan jam kerja bagi karyawan.

“Kami bayar gaji sesuai UMK namun kondisi saat ini kami bayar tidak full karena hitungan 15 hari kerja termasuk pembayaran THR. Kebijakan Inipun kami bicarakan dengan para karyawan dan mereka sangat mengerti kondisi yang kami hadapi saat ini. Keadaan lagi sulit namun kami tidak ingin memberhentikan karyawan dalam kondisi begini. Jika kami lakukan, bagaimana mereka bisa survive di tengah badai ini,” ungkapnya.

Diakuinya, pandemi virus corona sangat berpengaruh terhadap pendapatan hotel. Terhitung dua bulan terakhir pemasukan hotel sangat rendah, sangat jauh dari hari normal.

Pemasukan rendah namun mereka tetap harus membayar biaya operasional yang tinggi salah satunya pembayaran listrik yang nilainya bisa mencapai Rp 100 juta per bulan.

“Dalam dua bulan ini, tamu terbanyak itu pernah 29 orang yang nginap di sini. Mereka adalah rombongan pangdam dan kapolda. Selain dari itu tidak ada. Kalau paling rendah jumlah tamu dalam satu hari 4-5 orang. Sedangkan rata-rata perhari hanya 8-10 tamu,” ujarnya.

Ia mengatakan Timika merupakan kota jasa namun juga sebagai kota kecil. 70 persen pengunjung hotel atau tamu biasanya masyarakat lokal (orang Mimika-red). Dengan diberlakukannya penutupan akses bandara dan pelabuhan, diakuinya sangat mempengaruhi bisnis hotel. Hal ini pun dirasakan oleh semua hotel.

“Tapi mau bagaimana lagi, ini aturan pemerintah yang harus kita semua hadapi di musim pandemi ini. Kami hanya berharap badai ini cepat berlalu, kehidupan kembali normal dan putaran hotel kembali berputar seperti biasanya,” ungkapnya.

General Manager Jenner Kasim berharap, dalam keadaan ini pemerintah daerah tetap memberikan perhatian kepada dunia perhotelan karena bagaimanapun mereka memiliki andil dalam membangun Mimika.

“Kami bersyukur Pemda Mimika berlakukan pengurangan pajak hotel sebesar 50 persen. Namun kalau bisa ada solusi terbaik bagi kami dari pemerintah daerah dan PHRI terkait keadaan ini. Karena jika kondisi ini berlangsung lama maka sangat menyulitkan kita semua. Kami tidak tapi ada beberapa hotel yang sudah rumahkan karyawan mereka untuk mengurangi beban di saat ini,” ujarnya. (Ronald)

Bukti Pedulinya Polres Mimika Untuk Masyarakat Di Masa Pandemi Covid-19

Mama-mama pengrajin noken menerima bantuan dari Polres Mimika

MIMIKA, BM

Kepolisian Resort (Polres) Mimika tidak henti-hentinya menunjukan kepedulian mereka kepada masyarakat Mimika yang terkena dampak langsung pandemi Covid-19.

Perhatian yang mereka tunjukan patut diapresiasi karena sejak awal virus Corona melanda kabupaten Mimika hingga hari ini, Jumat (15/5), Polres Mimika rutin memberikan bantuan bahan makanan kepada masyarakat.

Bertolak dari halaman Kantor Polres Mimika, Jalan Cenderawasih, pendistribusian bahan makanan hari ini dilakukan ke sejumlah titik yang terbagi dalam III regu.

Regu I dipimpin Kasat Binmas AKP FR. Waloni yang memberikan bantuan bama kepada kepada anak yatim piatu Pesantren Hidayatullah di kilometer IX, Panti Asuhan SP 4, Lembaga Pengembagan Anak Putus Sekolah di Gorong-gorong dan Panti Asuhan Yayasan Cinta Bella.

Bantuan yang diberikan kepada pesantren Hidayatulah ini berupa 10 karung beras 25 kilogram (kg), 15 karung beras 5 kg dan 8 karton supermie.

Bantuan kepada panti asuhan di SP 4 berupa 2 karung beras 17 kg, 13 karung beras 5 kg dan 5 karung beras 8 kg.

Selanjutnya untuk Lembaga Pengembangan Anak Putus Sekolah di Gorong-gorong, Polres Mimika memberikan 10 karung beras 15 kg, 13 karung beras 8 kg dan 9 karton supermie.

Sementara bantuan 5 karung beras 10 kg dan 10 karung beras 5 kg diberikan kepada Panti Asuhan Yayasan Cinta Bella di SP III.

Regu II yang dipimpin Kasat Lantas APK Pandu bersama Kasat Pam Obvid I Agus Ketut Suma memberikan bantuan beras sebanyak 5 kilo kepada 120 tukang ojek di 11 pangkalan yang berada di seputaran kota Timika.

Sementara regu III dibawah pimpinan Wakapolres Mimika Kompol I Nyoman Punia,S.Sos didampingi Kasat Reskrim AKP M.B.Y.Hanafih,SIK,MH dan Kasat Sabhara AKP Rosman L. Mansyur juga memberikan bantuan kepada 66 tukang ojek di 11 pangkalan.

Regu ini juga memberikan bantuan beras kepada 8 orang penjual noken di samping Eme Neme Yauware, 10 orang penjual pinang di Timika Indah dan 30 mama-mama Suku Komoro di SP 1 dan SP 4.

Tiap orang baik tukang ojek maupun penjual noken, pinang dan mama-mama Kamoro ini diberikan bantuan masing-masing 5 kg beras.

“Harapan kami, masyarakat yang menerima bantuan ini tidak melihat besar atau kecilnya bantuan yang kami berikan. Ini yang bisa kami berikan didasari keihklasan dan rasa kemanusiaan agar dapat membantu meringankan kebutuhan hidup dalam keadaan saat ini,” ungkap Kapolres Mimika AKBP I Gusti Gde Era Adhinata,SIK melalui Kabag Sumda Kompol Arifin.

Kompol Arifin mengatakan, sesuai petunjuk pimpinan sebelum dilakukan penyerahan bantuan, pihaknya terlebih dahulu melakukan pendataan agar bantuan yang diberikan langsung ditujukan kepada mereka yang sangat membutuhkan.

“Selama 3 hari ini Bagian Sumber Daya Manusia Polri Polres Mimika (SDM) dan Satuan Binmas yang melakukan pendataan. Dari pendataan inilah bantuan-bantuan ini kemudian kita distribusikan kepada panti asuhan dan masyarakat,” ungkapnya. (Ronald)

7.728 Warga Mimika Merupakan Pengangguran Terbuka

Kepala BPS Mimika, Trisno L Tanampo

MIMIKA, BM

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika melalui Survey Angkatan Kerja Nasional (Susernas) tahun 2019 tercatat sebanyak 7.728 (7,5 persen) warga Mimika masuk dalam kategori pengangguran terbuka (Unemployeement).

Survey dilakukan terhadap masyarakat berumur 15 tahun keatas menurut jenis kegiatan dan jenis kelamin di Mimika.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala BPS Mimika Trisno L. Tanampo kepada BeritaMimika Selasa (5/5) kemarin.

"Jumlah pengangguran terbuka di Mimika laki-laki 3.749 dan perempuan 3.979 orang," tuturnya.

Hal ini menunjukkan jumlah pengangguran terbuka di Mimika mengalami penurunan dari tahun kemarin sebanyak 1.200 orang yakni tepatnya 8.928 di 2018. Untuk 2017 berjumlah 7.674.

Sementara untuk jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 95.214 orang (64.93 persen) dimana 75.594 merupakan laki-laki dan 19.620 adalah perempuan.

"Kalau untuk masyarakat Mimika yang tidak atau belum pernah sekolah dan tidak atau belum tamat SD tercatat sebanyak 8.383 orang dimana 7.542 diantaranya bekerja dan 841 adalah pengangguran untuk kategori angkatan kerja. Kalau untuk bukan angkatan kerja sebanyak 7.313," jelasnya. (Elfrida

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top