Ekonomi dan Pembangunan

Keamanan Membaik, Dua Maskapai Penerbangan Kembali Beroperasi di Yahukimo

Bandara Nop Goliat Dekai tampak kembali dipadati oleh masyarakat yang hendak berangkat maupun tiba dari Kota Jayapura

YAHUKIMO, BM

Seiring dengan membaiknya situasi keamanan di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, dua maskapai pesawat yakni Trigana Air dan Wings Air kembali membuka rute penerbangan ke Kota Dekai.

Hal itu dapat terlihat dari jadwal penerbangan yang kembali diterbitkan oleh kedua maskapai tersebut. Untuk Trigana Air sendiri, hari ini, Rabu (5/4/2023) sudah mulai beroperasi. Sementara maskapai pesawat Wings Air dijadwalkan akan beroperasi pada hari senin pekan depan.

Di samping itu, suasana di Bandara Nop Goliat Dekai pun tampak kembali dipadati oleh masyarakat yang hendak berangkat maupun tiba dari Kota Jayapura.

Kapolres Yahukimo, AKBP Arief Kristanto, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa dua maskapai penerbangan telah kembali beroperasi di Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo.

Dikatakan bahwa situasi keamanan di Kabupaten Yahukimo telah kondusif sehingga maskapai Trigana Air dan Wings Air kembali membuka rute penerbangan ke Bandara Nop Goliat Dekai.

“Trigana Air kembali beroperasi mulai hari ini. Sementara Wings Air baru akan melayani penerbangan pada Senin pekan,” kata Arief.

AKBP Arief juga memastikan pihaknya bersama-sama dengan TNI siap menjamin keamanan selama aktivitas penerbangan oleh dua maskapai beroperasi di Kabupaten Yahukimo.

“Situasi Yahukimo saat ini sudah berangsur pulih dan kami menyiagakan personel TNI-Polri di Bandara Nop Goliat Dekai untuk memberi keamanan aktivas penerbangan,” ujar Kapolres.

Selain melakukan pengamanan di Bandara, Arief mengatakan pihaknya melakukan pengamanan juga terhadap sejumlah objek vital yang berada di Kabupaten Yahukimo.

“Kegiatan preventif juga terus tingkatkan dengan mengintensifkan Patroli Gabungan TNI-Polri serta pengamanan pada objek-objek vital,” tutup AKBP Arief. (Endy Langobelen)

DabelE” Cafe : Impian Anak dan Cinta Yang Diwujudkan Dalam Kenikmatan RotiKopi Ropi

Ikon DabelE” Cafe, dua bersaudara Aldo dan Pierre Mancelly

MIMIKA, BM

Bagi penikmat roti dan kopi, tentu sudah tidak asing lagi dengan roti coffee bun. Aroma kopi yang begitu memikat, membuat siapa saja tergoda untuk merasakannya.

Roti ini kini hadir di Papua, tepatnya di DabelE” Cafe di bandara baru Mozes Kilangin, Timika, Papua Tengah.

DabelE” Cafe menghadirkan Roti Ropi atau “Roti Bikin Hepi” yang mana selain memiliki rasa yang manis dan tekstur lembut, Roti Ropi ini disajikan fresh from the oven.

Kepada BeritaMimika Rabu (19/4/2023) pemilik DabelE” Cafe Maria Elisabeth Elsa didampingi suami Eugels Mancelly mengatakan pasangan suami istri ini membawa Roti Ropi ke Timika dikarenakan impian kedua buah hatinya terutama mendiang sang kakak Jose Rionaldo (Aldo-red) Mancelly untuk membuka sebuah cafe roti dan kopi.

“Kita bawa dari Jakarta supaya teman-teman tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta untuk menikmati Roti Ropi, cukup datang ke Bandara baru Mozes Kilangin Timika. Motto kita Roti Ropi Makan Roti Bikin Hepi. Sedikit berbeda untuk menjadi lebih baik,” katanya.

Dikatakan yang membedakan Roti Ropi dengan lainnya adalah variasi rasa yakni original (toping kopi diisi butter), coklat, srikaya, tiramisu, moka dan keju.

“Contohnya baru keluar dari oven dia crunchy, namanya roti bun memang setelah 15 menit tidak dapat garingnya kecuali banyak pakai pengawet tetapi Roti Ropi ini tidak dia bisa bertahan dua tiga hari masih enak,” imbuhnya.

Nama DabelE” (double E-red) sendiri disebutnya merupakan singkatan dari nama panggilan sang pemilik cafe yakni Elsa dan Eghe.

Selain itu juga berarti dua buah hati mereka yakni Aldo dan Pierre yang menjadi ikon cafe ini. Cafe ini resmi dibuka pada tanggal 22 Juli 2022 tepat pukul 2 siang (14.00 wit). Angka 2 memiliki makna tersendiri bagi pasangan suami istri ini.

“Tidak hanya roti kami juga menyajikan kopi spesial. Itu biji kopinya yang spesial. Kalau ada yang lebih suka pahit, sebelum order (pesan-red) bisa disampaikan ke kasir. Kopinya pahit atau tidak mau strong bisa disesuaikan keinginan pelanggan,” ungkapnya.

“Kalau tidak suka kopi tersedia juga teh spesial. Bagi anak-anak juga ada jenis minuman yang tidak mengandung kopi dan teh namanya Osusume. Ada susu dan es krim dan tentu saja itu resep rahasia dari DabelE”,” terangnya.

Selain menyajikan roti dan minuman, cafe ini juga menyediakan cemilan seperti singkong, pempek Palembang, cireng Bandung, risol mayonaise hingga martabak telor.

“Semua kita datangkan dari luar bahan-bahannya. Pempek banyak yang suka juga singkong. Saya pikir awalnya singkong kan banyak di Timika tapi singkong ini kita berikan sentuhan berbeda untuk menjadi lebih baik dan ternyata pada saat mereka makan singkongnya mereka suka dan berbeda,” ungkap Elsa.

DabelE” Cafe dibuka setiap hari sejak pukul 06.00 wit hingga 16.00 wit. Dapat juga dilakukan pemesanan melalui whatsapp.

Menariknya, dalam cafe ini terdapat quote “secangkir kopi dapat membuat kita belajar bahwa rasa pahit juga dapat dinikmati.”

Dan juga, “Kesempurnaan rasa kopi berasal dari rasa pahitnya. Oleh karena itu kenangan pahit akan membentuk kita yang lebih baik di masa depan.”

Dibalik quote tersebut ada pengalaman pribadi yang pernah dialami oleh Elsa dan Eghe. DabelE” Cafe ini didirikan sebagai bentuk rasa cinta dan kasih sayang pasangan suami istri ini untuk mewujudkan harapan dan impian mendiang anak terkasih Jose Rionaldo Mancelly.

Dan perjuangan itu tidaklah mudah namun mereka telah berhasil mewujudkannya.

“Si sulung punya impian menjadi pilot dan kelak membuka restaurant kopi dan menjadi baristanya. 40 hari peringatannya kami diajak orang tua ke Timika. Berkat informasi dari teman dekat ada tempat tersedia disini dan akhirnya kami berkolaborasi dengan Roti Ropi,” kenangnya.

Mewujudkan impian mendiang sang anak inilah yang memberikan kekuatan bagi Elsa dan Eghe untuk bangkit. Maka, jadilah DabelE” cafe.

“Saya seperti kembali ke saya yang dulu yang hobbynya masak dan membuat kue. Semua yang kami sajikan tidak menggunakan biang gula. Kami menyuguhkan apa yang ada di DabelE” kepada pelanggan seperti menyajikan untuk keluarga, jadi kalau sajikan yang tidak bagus artinya sama saja saya memberikan yang tidak bagus, jadi semua yang dipakai disini adalah yang terbaik,” jelasnya.

“Tuhan punya cara memulihkan keadaan mulai dari rasa kehilangan seseorang yang kita cintai. Akhirnya bisa mewujudkan impian dua anak kami,” pungkasnya.

Begitu banyak cara yang dilakukan oleh orang tua untuk mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang kepada buah hatinya.

Cafe ini, berawal dari kecintaan akan roti dan kopi, dari keluarga untuk keluarga, kini telah berkembang menjadi cita rasa baru bagi warga Mimika.

Dia yang telah pergi sebenarya tidak akan pernah meninggalkan kita sepenuhnya. Terkadang dia hadir dalam berbagai cara, dan kita dapat merasakan lewat mata bathin hati kita.

Dia selalu ada dihati dalam bentuk apapun. Karena cinta tak akan pernah padam walau terpisahkan ruang dan waktu.  (Elfrida Sijabat)

Kisah Sopir Bus Pengantar Warga Daskam Terdampak Tailling PTFI


Salah satu penumpang hendak naik bus Maria Bintang Laut,

MIMIKA, BM

Warga lima dasar kampung (daskam) yang terdampak tailing PT Freeport Indonesia (PTFI) sangat bergantung pada bus dalam kehidupan sehari-harinya.

PTFI bekerja sama dengan Keuskupan Timika menyediakan empat unit bus untuk memberikan pelayanan khusus kepada lima daskam ini yakni Nayaro, Tipuka, Ayuka, Nawaripi dan Koperapoka

Lantas seperti apa pengalaman sopir bus yang mengantarkan warga masyarakat setempat?

BeritaMimika berkesempatan berbincang-bincang dengan Iwan Wangge Selasa (18/4/2023) di Timika untuk mengisahkan pengalamannya sebagai supir bus pengantar masyarakat terdampak.

“Saya punya perjalanan ke arah Tanggul Barat. Kalau Tipuka-Ayuka arahnya ke Mapurujaya, untuk Nayaro dihandle oleh IJK Brigif karena pelayanan di tempatnya,” ucapnya mengawali kisahnya.

“Kita jalan empat kali dalam satu minggu. Khusus Nawaripi-Koperapoka, setiap Senin, Selasa, Kamis dan Jumat. Kalau Rabu dan Sabtu tetap masuk untuk perbaikan mobil di bengkel,” imbuhnya.

Dikatakan satu unit bus dapat menampung 60 seat. Namun, terkadang ia harus memuat penumpang lebih dari itu.

“Pengalaman suka duka ya kita sudah tahu bersama enak dan susahnya. Pelayanan kami menghadapi orang mabuk itu banyak jadi kalau masalah kampak, panah, batu orang lempar kita sudah biasa. Bus ini sering mengalami kaca pecah,” kenang Iwan yang sudah bekerja selama lima tahun ini.

“Mereka punya daerah memang sudah benar-benar hancur jadi PTFI memberi pelayanan. Mobil ini milik Keuskupan Timika, kita dibawah naungan SLD. Disiapkan empat bus. Empat nyawa (sopir-red) bagaimana kami membawa mereka supaya selamat sampai tujuan,” tambahnya.

Kesehariannya Iwan terbiasa mengantarkan masyarakat dari Tanggul Barat melewati check point 28 lalu masuk ke 34. Jadi, untuk masuk aksesnya melewati PTFI sehingga tidak bisa sembarangan.

“Dari sini kami ke kampung Nawaripi, setelah naik semua singgah untuk beli makanan dan es batu untuk bermalam. Mereka ada yang bermalam dan ada juga yang langsung naik untuk berkebun dan lainnya. Kalau orang bilang gampang tapi kita yang punya takdir ini harus banyak sabar. Kendalanya sering temui ada penumpang yang mabuk,” terangnya.

Ia berharap agar pelayanan khusus ini dapat berjalan dengan baik dan faktor kemananan untuk sopir bisa diperhatikan.

“Dari pemerintah juga bisa perhatikan mereka (masyarakat-red). Kendala kita juga pasar lama Koperapoka ini yang dulu satu arah jadi dua arah. Kalau bisa satu arah dari pin saja. Bus besar ini selalu disoroti karena besar sementara jalannya sempit jadi macet. Kadang kami baku pukul dengan pengguna jalan. Kita harap kedepan bisa satu arah supaya sama-sama enak,” tutupnya. (Elfrida Sijabat)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top