Budaya

GKI Mimika Soroti Larangan Ibadah di Gereja Selama Pemberlakukan PPKM Level 4

Ketua Klasis Gereja Kristen Injili (GKI) Mimika, Pendeta Lewi Sawor

MIMIKA, BM

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPMK) level 4 yang diputuskan Pemda Mimika dalam rapat evaluasi, Jumat (30/7) lalu ternyata mendapat sorotan dari pihak gereja yakni GKI Mimika.

Sorotan yang diberikan adalah poin peniadaan ibadah selama masa PPKM level 4.

Ketua Klasis Gereja Kristen Injili (GKI) Mimika, Pendeta Lewi Sawor saat diwawancarai, Selasa (3/8) mengatakan, peniadaan atau pelarangan peribadatan merupakan keputusan yang tidak adil.

"Karena jika bicara soal penerapan protokol kesehatan, untuk gereja khususnya GKI, kami sangat patuh," ujarnya.

Dikatakan, jaga jarak dalam gereja sudah diatur sebagaimana aturan pemerintah. Selain itu jemaat juga wajib memakai masker selama ibadah berlangsung, jam ibadah hanya 1 jam serta pemberian persembahan dilakukan sesudah ibadah supaya umat bisa langsung mencuci tangan.

Kapasitas gerejapun hanya 50 persen dan bahkan ketika jemaat hendak masuk dan keluar gereja pun diatur sebaik mungkin agar tidak berdesakan dan tetap menjaga jarak.

"Di pertokoan orang seenaknya tidak jaga jarak, tidak pake masker tapi tidak disuruh tutup. Tapi gereja yang orang ibadah hanya 1 jam, duduk sopan, jaga jarak, pake masker wajib cuci tangan dan cek suhu tubuh sekarang justru diminta ditiadakan. Logikanya bagaimana?," Tanya Lewi.

Ia meminta Tim Satgas Covid-19 Mimika agar mengevaluasi kembali, karena tidak adil ketika gereja dan semua tempat peribadatan harus ditutup sementara tempat umum lainnya seperti pertokoan dan pasar masih tetap dibuka.

"Padahal disitulah penularan covid-19 justru bisa terjadi karena tidak ada penerapan prokes yang ketat," tegasnya.

Pada dasarnya GKI Klasis Mimika sangat mendukung kebijakan pemerintah melalui PPKM level 4 namun ia tidak terima dengan penutupan gereja.

Ia juga mengkritisi konsistensi pemerintah dalam memberlakukan PPKM karena sebelumnya harus berakhir pada tanggal 7 Agustus namun PPKM Level 4 mulai ditetapkan terhitung dari tanggal 1 sampai 14 Agustus 2021.

"Kami pada prinsipnya memberi apresiasi dan menghargai keputusan pemerintah daerah yang memberi kebijakan demi keselamatan masyarakat. Hanya kami pendeta mengalami situasi yang cukup sulit dari kebijakan pemerintah yang menurut kami tidak konsisten. Kami sudah mengacu pada PPKM skala mikro dan tiba-tiba dilakukan penerapan PPKM Level 4,” terangnya.

Katanya, tim satgas salah jika menggangap pusat peribadatan sebagai tempat penularan covid. Ia meminta tim satgas memantau gereja agar melihat situasi sebenarnya ketika jemaat sedang beribadah.

"Pemerintah harusnya melihat gereja atau ibadah sebagai bagian yang esensial dalam kehidupan manusia. Bukan sebaliknya. Jangan segampang itu mengatakan ibadah bukanlah bagian esensial dari bagian hidup manusia. Hati-hati, sangat berbahaya,” ungkapnya. (Shanty)

Warga Mimika Diminta Kibarkan Bendera Merah Putih Mulai 1 Agustus

Logo HUT Kemerdekaan ke-76

MIMIKA, BM

Pandemi belum saja berakhir sehingga dapat dipastikan penyelenggarakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-76 tahun ini masih dilakukan dengan nuansa ketat protokol kesehatan seperti tahun lalu.

Kondisi inipun akan kembali terjadi di Mimika. Penyelenggaraan HUT Kemerdekaan RI Ke-76 di Kabupaten Mimika tahun ini direncanakan akan dilangsungkan secara sederhana dan terbatas.

Pemda Mimika sudah memutuskan hal tersebut melalui rapat perdana yang dilangsungkan pada Senin (26/7) di lantai III Gedung A Sentral Pemerintahan.

Rapat itu dipimpin oleh Ketua Panitia Perayaan HUT RI Ke-76 yakni Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Mimika Yulianus Sasarari dan dihadiri pimpinan OPD dan forkopimda.

Usai rapat kepada awak media Asisten I Yulianus Sasarari mengatakan bahwa pemerintah pusat melalui Kementerian Kesekretariatan Negara telah mengeluarkan tema dan logo HUT Kemerdekaan RI Ke-76z

Tema HUT RI Ke-76 adalah “Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh.” Teman dan logo hut akan dipublikasikan pemerintah agar diketahui masyarakatnya.

“Kegiatan menjelang upacara masih menunggu petunjuk dari pemerintah pusat apalai masa pandemi seperti ini. Tapi sebagai panitia kita tetap siapkan terutama termasuk persiapan upacara bendera dengan 12 anak paskibraka. Jika hal ini nantinya dibatasj maka kita harus pikirkan alternatifnya. Ini yang harus kita bahas bersama," ujarnya.

Satu hal pasti yang telah diputuskan dalam pertemuan tersebut adalah mulai 1 Agustus, seluruh lapisan masyarakat Mimika diwajibkan mulai mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih dan memasang umbul-umbul merah putih baik di tingkat rt, distrik, kelurahan hingga sekolah dan lainnya.

“Untuk kegiatan kebersihan jelang HUT RI nanti diserahkan ke masing-masing rt, distrik dan kelurahan agar tidak menimbulkan kerumunan. Namun, untuk besarnya anggaran masih belum tahu berapa,” tutupnya singkat (Elfrida)

Konferensi Kingmi di Mimika Resmi Ditunda

Ketua Panitia Konferensi Kingmi, Wilem Wandik

MIMIKA, BM

Belum dapat dipastikan bagaimana kelanjutan penyelenggaran PON dan Pesparawi di Mimika nanti, namun satu yang sudah pasti adalah Konferensi Kingmi di Mimika se-Tanah Papua ditunda penyelenggaraanya.

Bupati Puncak, Wilem Wandik selaku Ketua Panitia Konferensi Kingmi mengatakan penundaan diakibatkan karena melonjaknya kasus covid-19 di Kabupaten Mimika bahkan Mimika kini menjadi zona merah covid.

"Sebagai ketua panitia konferensi Kingmi setanah Papua kita sangat mendukung kebijakan dari Pemda Mimika jadi sementara kita tunda sampai waktu yang tidak ditentukan," tutur Bupati Puncak, Wilem Wandik kepada wartawan di Hotel Grand Mozza, Rabu (21/7).

Wandik mengatakan Konferensi Kingmi setanah Papua dijadwalkan di Mimika dan dilaksanakan pada akhir Juli ini.

Dengan penundaan ini, Wilem menyampaikan kepada seluruh pihak khususnya keluarga besar Gereja Kingmi di tanah Papua agar bisa memahami situasi tersebut.

Wilem menegaskan konferensi ini bisa berjalan ketika dalam keadaan aman serta ada pernyataan bahwa Mimika atau Papua dan Indonesia covidnya mengalami penurunan.

"Kapan saja kita bisa laksanakan karena pada prinsipnya semua sudah siap, apalagi Timika tuan rumah sehingga tidak diragukan lagi, sehingga ketika kami undang untuk pelaksanaan nanti maka semua harus datang ke Timika," ungkapnya. (Shanty)

Top