Pendidikan

Tengah Disoroti, Jenny Usmani Beri Penjelasan Tentang Rencana Pembangunan Kantor Dinas Pendidikan


Kadis Pendidikan Mimika, Jenny O Usmani

MIMIKA, BM

Kepala Dinas Pendidikan Mimika, Jenny Usmani mengatakan, pembangunan Kantor Dinas Pendidikan yang berlokasi di Jalan Poros SP5 tepatnya disamping venue biliar sudah melalui tahap perencanaan yang dilakukan sejak tahun 2019.

Menurutnya, perencanaan pembangunan ini telah melalui prosedur tahap penyusunan perencanaan dan sudah diseminarkan serta telah dilakukan uji publik di Bappeda.

"Jadi memang sudah sesuai. Kalau sudah melalui perencanaan kan sudah ada estimasi anggarannya. Anggaran 2020 itu dibahas cuma di refocusing karena pandemi,"jelas Kadis Pendidikan, Jenni O Usmani pada jumpa pers di SMPN 2, Rabu (26/5).

Jenny mengatakan, semua pembangunan yang dilakukan di pemerintahan itu ada perencanaan, yang menjelaskan tentang kegunaan dan tujuan dari pembangunan kantor itu.

Menurutnya, Dinas Pendidikan memiliki urusan wajib sehingga harus memberikan pelayanan kepada para guru, siswa dan masyarakat yang membutuhkan layanan sehingga dibutuhkan ruangan yang memadai.

"Saya tidak tahu dari kantor lain, tapi satu tahun lalu kami Dinas Pendidikan tentang standar pelayanan minimal itu sudah di evaluasi oleh Ombusman dari Jayapura. Ada questioner-questioner yang dibawa untuk kita isi dan itu harus dilengkapi untuk melakukan pelayanan yang baik kepada masyarakat agar mereka mendapat kenyamanan,"jelasnya.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, sebagai Kepala Dinas Pendidikan, Jenni mengatakan ia telah melaporkannya kepada bupati untuk dibangunkan gedung baru.

"Layanan pendidikan itu sangat luas, kalau satu kali para guru urus administrasi dan anak-anak butuh legalisir terus mereka butuh toilet lalu jika toilet tidak ada kan tidak memadai," katanya.

Menurutnya, ruangan yang akan digunakan secara peruntukannya jelas sehingga pihaknya melaporkan bahwa ruangan mereka tidak memadai, karena masyarakat butuh kenyamanan.

"Kalau bilang mubazir saya pikir ini pemerintah jadi bangunan itu tidak terbengkalai, bangunan yang di Pusat Pemerintahan sudah dipakai oleh Dinas Perijinan untuk memberikan pelayanan, jadi kalau mubazir itu tidak,"ujarnya.

Jenni tidak menyalahkan siapapun dengan pemberitaan rencana pembangunan gedung baru, namun sebagai pemerintah ia harus memberikan klarifikasi supaya masyarakat paham bahwa apa yang dilakukan bukan semata-mata untuk proyek atau hal lainnya namun agar pelayanan dapat berjalan lebih maksimal.

Lanjutnya, pemerintah memiliki standarisasi yang harus dipenuhi. Ia menegaskan, Kantor Dinas Pendidikan akan menjadi wajah Pendidikan.

"Kalau di Kantor Sentra Pemerintahan yang dulu kami tempati itu semuanya bertumpuk malah pegawai duduk karena sekat. Jadi itu bukan ruangan, itu hal yang disekat. Jadi saya pikir kita semua harus memberikan penilaian sesuai dengan apa yang benar-benar dipahami dan objektif,"tuturnya.

Menurutnya situasi saat ini masih pandemi sehingga pegawainya bekerja secara shift. Walau demikian, gedung yang ditempati saat ini tidak bisa mengakomodir semuanya karena dalam satu ruangan ditempati 8 pegawai. Menurutnya sulit untuk menerapkan prokes.

"Kita juga harus memberikan kenyamanan kepada pegawai yang kerja maupun tamu yang kami layani. Kantor sebelumnya yang kami gunakan di Sentra Pendidikan itu kami cuma pinjam," tegasnya.

Ia mengatakan Bupati Eltinus Omaleng telah menyetujui rencana tersebut. Bahkan menurut Jenni, bupati menginginkan agar Dinas Pendidikan harus dibangun terpisah seperti BPKAD dan Bapenda.

"Kalau ikuti SPM (Standar Pelayanan Minimal) maka banyak hal yang harus kita penuhi. Contoh hal yang paling kecil adalah masyarakat yang dilayani harus ada ruang tunggu, kursi yang baik. Kalau ada yang mau datang tunggu pejabat harus tunggu dan sekarang tunggu dimana? terus butuh toilet dan bagaimana kalau toiletnya mapet, itu salah siapa? bukan salah saya," ungkapnya. (Shanty)

Pengumuman Kelulusan SMA Dilakukan Secara Online, Ada Tiga Hal Penentu Kelulusan

Seorang siswi merayakan kelulusan dengan mencorert baju

MIMIKA, BM

Pengumuman kelulusan siswa SMA di Mimika dilakukan secara serentak hari ini, Senin (3/5).

Sebanyak 1.838 siswa SMA se Kabupaten Mimika yang sudah mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS) akan melihat hasil kelulusannya secara online melalui website atau media sosial masing-masih sekolah, sehingga siswa tidak diperkenankan datang ke sekolah.

Ketua Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) SMA Kabupaten Mimika, Edi saat dihubungi Berita Mimika, Senin (3/5) mengatakan keputusan pengumuman kelulusan dilakukan pada sore hari dan secara online agar siswa tidak melakukan konvoi, coret-coret seragam dan berkerumun di sekolah.

"Sekarang kan kita masih ada di masa pandemi jadi Jumat kemarin kepala sekolah rapat dan putuskan sistem pengumuman kelulusan ini dilakukan online. Inipun sama dengan tahun lalu pada sore hari dan online,”tutur Edy.

Edy mengatakan, kelulusan tahun ini masih sama dengan tahun lalu yaitu ditentukan oleh masing-masing sekolah melalui rapat dewan guru dengan mempertimbangkan tiga hal.

Pertama, menyelesaikan semua program pembelajaran. Kedua, memperoleh nilai sikap atau perilaku minimal baik. Dan ketiga, lulus ujian sekolah.

"Jadi keputusannya ada dimasing-masing sekolah. 19 sekolah SMA di Mimika menentukannya sendiri dengan memperhatikan tiga hal diatas. Begitupun 24 SMK nanti,” jelasnya sambil menambahkan bahwa apapun keputusan sekolah adalah yang terbaik. (Shanty)

Direktur YPMAK Sampaikan Kondisi 25 Anak Korban Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Sekolah Taruna



Direktur YPMAK, Vebian Magal

MIMIKA, BM

25 anak di Sekolah dan Asrama Taruna Papua yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual beberapa waktu lalu kini tengah menjalani atau mendapatkan penanganan trauma healing.

Direktur Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), Vebian Magal kepada BeritaMimika menyampaikan trauma healing dilakukan oleh dua tim.

Tim pertama merupakan tim internal yang dibentuk oleh Yayasan Pendidikan Lokon (YPL) yang saat ini mengelola sekolah dan asrama Taruna Papua. YPL juga menggunakan profesional (psikolog) dari Uncen Papua.

Sementara tim satunya berasal dari gabungan gereja-gereja (PGI) di Jakarta. Mereka membentuk tim yang kemudian didatangkan ke Timika.

"Mereka lakukan pemulihan mental bagi anak-anak. Kondisi saat ini sudah aman, sebagian besar sudah pulih namun ada beberapa anak yang masih mengalami trauma," ungkapnya.

Vebian menjelaskan bahwa hingga 6 bulan ke depan trauma healing akan terus dilakukan sampai semua anak dipastikan terbebas dan pulih dari kondisi tersebut.

"Targetnya mereka semua harus pulih. Situasi saat ini sudah kembali normal," tegasnya.

Terkait dengan permintaan warga Mimika dan orangtua korban agar YPL tidak lagi menjadi pembina bagi sekolah dan asrama Taruna Papua, Vebian Magal mengatakan sedang dalam proses evaluasi.

"Saat ini kita sedang ada evaluasi dan belum ada kesimpulan. Kami sedang melihat perjanjian kerjasama selama ini apakah sesuai atau tidak, kemudian situasi kemarin dan keinginan masyarakat seperti apa, kita lihat semua," ungkapnya.

Evaluasi ini dilakukan selama tiga minggu dan telah dimulai sejak minggu lalu. YPMAK sejauh ini juga belum memikirkan opsi lain semisal pengganti YPL nanti karena fokusnya pada hasil evaluasi.

Artinya, hasil evaluasi antara YPMAK dan YPL akan menentukan ke depan apakah kerjasama dlanjutkan atau berakhir.

"Kontrak YPMAK dengan YPL itu 5 tahun dan sekarang sudah jalan tahun ke tiga. Dalam kontrak kerja memang jika tidak sesuai maka bisa diputus kontrak kerja. Tapi saat ini kami masih fokus dengan evaluasi dan hasil evaluasilah yang menentukan segalanya," jelasnya. (Ronald)

Top