Kesehatan

Dinkes Mimika Bersama LAN Lakukan Sosialisasi Narkoba di SMK Hermon

Foto bersama di sela kegiatan

MIMIKA, BM

Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika bersama Lembaga Anti Narkotika (LAN) melakukan sosialisasi bahaya narkoba kepada siswa baru di SMK Hermon, Jumat (10/7/2026).

Kepala Seksi (Kasie) Penyakit Tidak Menular dan Kejiwaan pada Dinkes Mimika, Feika Rande Ratu mengatakan, bahwa saat ini sedang dilakukan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) bagi siswa baru baik SMA/SMK maupun SMP, sehingga dirasa tepat untuk masuk melakukan sosialisasi tentang bahaya narkoba.

"Kita sudah dua tahun berturut-turut  bekerjasama dengan LAN, jadi sosialisasi kali ini di SMK Hermon kami bersama LAN," kata Feika.

Feika mengatakan, sosialisasi ini tujuannya supaya memberikan pengetahuan awal tentang narkoba agar anak-anak sekolah tidak terjerumus ke hal-hal tersebut.

"Jadi, materi yang diberikan lebih kepada jenis-jenis narkoba, bahayanya seperti apa bagi kesehatan, pernikahan dini dan dampak narkoba itu sendiri bagi kesehatan jiwa,"ujarnya.

Ia mengatakan, tahun 2026 ini ada 20 sekolah yang akan dilakukan sosialisasi tentang narkoba. 20 sekolah itu, 18 SMA/SMK dan 2 SMP.

"Jadi, nanti tidak hanya satu atau dua sekolah saja tapi akan dilanjutkan juga ke sekolah berikutnya," ungkapnya. (Shanty Sang)

Dinkes Mimika Gelar Penguatan Peran Farmasi Klinik di Puskesmas

Suasana kegiatan pembinaan kepada petugas Farmasi

MIMIKA, BM

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika menggelar pembinaan Rencana Kebutuhan Obat (RKO) dan penguatan peran farmasi klinik di seluruh Puskesmas. Program ini difokuskan untuk meningkatkan pengelolaan obat yang efektif, efisien, serta menekan angka penyakit tidak menular seperti hipertensi dan Diabetes Melitus (DM).

Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Horison Diana, Rabu (15/7/2026) ini difokuskan kepada klinik di Puskesmas.

Kepala Bidang Kesehatan Lanjutan, Kefarmasian, dan Alat Kesehatan pada Dinkes Mimika, Farida mengatakan, bahwa fokus kegiatan ini yakni membekali tenaga layanan untuk memetakan kebutuhan obat secara berbasis data.

“Kegiatan ini juga kita fokuskan pada penyusun perencanaan pengadaan obat yang efektif dan efisien sesuai kondisi wilayah, dan lebih menekankan bahwa penggunaan obat tidak hanya untuk pengobatan, tetapi juga pemulihan dan pencegahan (profilaksis),”kata Farida.

Farida menjelaskan, dalam pembinaan ini juga akan dilakukan identifikasi kebutuhan seperti data layanan di Puskesmas, kebutuhan obat dan lainnya, sebab hal-hal ini menjadi dasar perencanaan obat.

“Kalau kebutuhan obat ini akan kita sesuaikan dengan karakteristik lingkungan dan pola penyakit masyarakat. Karena tentu kebutuhan obat di pesisir, kota maupun pegunungan pasti berbeda,”ujarnya.

Ia menambahkan, peran tenaga farmasi pun menjadi perhatian, maka itu apoteker dan tenaga D3 farmasi dilibatkan aktif dalam perencanaan dan pengendalian obat.

“Dengan penguatan kapasitas farmasi klinik di Puskesmas, kami harapkan dapat meningkatkan kualitas layanan, mencegah kekosongan obat, serta mendukung keberlanjutan terapi pasien HT dan DM,”ungkapnya. (Shanty Sang)

Cegah Malaria, Dinkes Mimika Lakukan Fogging

Pelaksanaan fogging dari tim malaria center dinas kesehatan

MIMIKA, BM

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika melakukan fogging guna untuk menekan lonjakan kasus malaria dimana Kabupaten Mimika termasuk daerah endemis tingkat 3 dengan Annual Parasite Incidence (API) tertinggi di Indonesia.

"Metode fogging umumnya direkomendasikan WHO hanya untuk pengendalian vektor DBD (Aedes aegypti) bukan malaria. Tapi, karena Mimika jadi daerah endemis maka Kemenkes memberi izin khusus pelaksanaan fogging untuk nyamuk Anopheles," Kata Penanggung Jawab (PJ) UPTD Malaria Center Mimika pada Dinas Kesehatan (Dinkes), Imelda Ohoiledjaan saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/7/2026).

Maka itu, kata Imelda, UPTD telah melakukan antisipasi malaria dengan melakukan fogging. UPTD telah melayani permintaan fogging malam hari dari Satgas TNI-Polri, kapal KRI, serta permintaan warga melalui kelurahan.

“Kami memang lebih kepada pelayanan di malam hari, karena Puskesmas hanya beroperasi siang hari sesuai jam kerja. Sedangkan untuk tim fogging yakni operator mesin, sopir, pemeriksa darah, dan tenaga pengobatan bisa bekerja di malam hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan, fogging dilakukan bersamaan dengan testing dan treatment, sehingga di setiap fogging, petugas akan memberikan obat kepada pasien yang positif malaria. Selanjutnya rumah yang diperiksa diberi stiker tanda kunjungan untuk pemantauan ulang di bulan berikutnya.

“Dalam pelayanan fogging pun bukan hanya kita lakukan pemeriksaan dan pemberian obat namun juga kami berikan edukasi lengkap kepada warga, yakni masyarakat jangan menggantung pakaian bekas, tutup genangan air, gunakan pakaian panjang, dan autan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa semua layanan gratis, mulai dari fogging hingga pemberian obat dibiayai pemerintah. Namun ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat menjaga diri dari gigitan nyamuk, terutama malam hari ketika aktivitas ekonomi warga masih berlangsung.

“Sebenarnya pelayanan kami ini sudah sangat membantu dan mencakup masyarakat namun kesadaran masyarakat pun harus ditingkatkan. Karena meskipun pelayanan kita sudah maksimal tetapi saat minum obat malaria tidak tuntas pun menjadi masalah untuk eliminasi malaria,”ungkapnya. (Shanty Sang)

Top