Mimika Terbaik Se-Papua Dalam Menekan Angka Stunting

Kadinkes Mimika Reynold Ubra saat memaparkan materi


MIMIKA, BM

Kabupaten Mimika merupakan kabupaten terbaik se-Papua yang berhasil dalam menurunkan angka stunting.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Mimika Reynold Ubra kepada awak media di Hotel Grand Tembaga Senin (26/9).

Berdasarkan data status gizi balita (0-59 bulan) terhitung sejak tahun 2008 hingga 25 September 2022 di Kabupaten Mimika tercatat bahwa persentase angka stunting pada tahun 2008 sebesar 26,49. Kemudian turun di tahun 2009 di angka 20,27.

Penurunan juga terjadi pada tahun 2020 di angka 19,80. Setahun kemudian Kabupaten Mimika berhasil menurunkan angka stunting  hingga 14,50 dan sampai pada tanggal 25 September 2022 mencapai angka 6,92.

Capaian Mimika ini bahkan jauh di atas  target nasional untuk tahun 2024 yakni 14,00 persen.

Kepala Dinas Kabupaten Mimika Reynold mengatakan berdasarkan angka tersebut maka dapat dikatakan bahwa Mimika berada dua kali lebih rendah dari target nasional yang ditargetkan di tahun 2024 (14 persen).

Hal ini tentu merupakan suatu prestasi dari Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Mimika.

Reynold menyebutkan Tim yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Bupati Mimika Nomor 149 tahun 2020 terdiri dari  Wakil Bupati Mimika sebagai ketua, Wakil Ketua adalah Bappeda, Dinas Pertanian, Dinas Tanaman  Pangan  dan Holtikura, Dinas Peternakan, Dinas Pendidikan dan lainnya.

Dikatakan posyandu di Mimika juga memiliki peranan besar dalam menekan angka stunting melalui program yang dijalankan TP-PKK Mimika. Para kader posyandu dilibatkan oleh TP-PKK Mimika.

“Di dalam intervensi sebagaimana sesuai dengan Peraturan Presiden No 72 tahun 2022 terkait percepatan penurunan stunting yang juga melibatkan OPD teknis, kita di Mimika OPD sudah terlibat," ujarnya.

Selain itu, di 2022 ini, Bappeda Mimika juga memimpin OPD terkait untuk melakukan konvergensi aksi#1 hingga aksi#8.

“Hari ini adalah aksi#7 (Senin-red) dan OPD dalam satu dua tahun terakhir sudah mulai mengarah kepada lokasi khusus (locus) intervensi dimana kampung atau kelurahan ditemukannya kasus tinggi stunting. Misalnya Nawaripi atau Mapurujaya stuntingnya sudah turun dua kali lipat dibandingkan tahun 2019 dan 2020,” ujarnya.

Reynold Ubra menjelaskan, gizi merupakan hal yang penting untuk perkembangan sumber daya manusia (sdm) di Mimika untuk kedepan, terutama dalam hal stunting.

“Kalau kita lihat Mimika sebagai kota jasa dan infrastruktur itu sudah terwujud. Kita coba menyeimbangkan infrastruktur dengan pengembangan sdm melalui upaya perbaikan gizi masyarakat,” imbuhnya.

Menurutnya, intervensi siklus dan berjaring merupakan hal yang harus menjadi perhatian selanjutnya.

Pendekatan siklus hidup manusia diklasifikasi berdasar pada pasangan usia subur yakni remaja, ibu hamil, ibu yang baru selesai melahirkan untuk mendapatkan layanan kb dan balita.

"Perbaikan gizi di siklus ini akan menjawab bagaimana perbaikan gizi ke depan. Ini penting supaya kita tidak mudah sakit bisa dicegah dengan daya tahan tubuh dengan cara angka kecukupan gizi yang baik,” tandasnya. (Elfrida Sijabat)

Top