Dinas Kesehatan Mimika Gelar Diseminasi dan Publikasi Hasil Pengukuran Tumbuh Kembang Balita di Mimika


Foto bersama Kadis Reynold Ubra dengan para undangan

MIMIKA, BM

Dalam rangka konvergensi percepatan pencegahan stunting Aksi#7 yakni melakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak balita dan publikasi angka stunting kabupaten/kota, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menggelar Diseminasi dan Publikasi Hasil Pengukuran Tumbuh Kembang Balita di Kabupaten Mimika.

Kegiatan pertemuan berlangsung di Hotel Grand Tembaga Senin (26/9) dan dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Mimika Reynold Ubra. Dan dihadiri oleh Sekretaris Dinas PUPR Inosensius Yoga, Sekretaris Bappeda Yoseph Manggasa, kepala-kepala puskemas dan opd terkait.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui status gizi bayi dibawah lima tahun (balita) dan prevalensi stunting baik di tingkat desa/kampung, kelurahan, kecamatan dan kabupaten.

Hasil pengukuran tinggi badan balita dan publikasi angka stunting dipergunakan untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam gerakan pencegahan dan penurunan stunting dengan tetap berpedoman pada regulasi Kementerian Kesehatan atau kebijakan lainnya yang berlaku.

Pengukuran stunting di posyandu secara rutin perlu dilakukan untuk mendapatkan data akurat prevalensi stunting baik di tingkat kampung, distrik dan kabupaten. Kemudian dilaporkan secara berjenjang dari posyandu ke puskesmas dan dari puskesmas ke dinas kesehatan.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan Mimika Reynold Ubra mengatakan pertemuan Diseminasi dan Publikasi Prevalensi Stunting di Timika adalah suatu bentuk tanggungjawab dinas kesehatan Mimika sebagai koordinator untuk intervensi gizi sensitif dan spesifik sebagaimana yang diatur dalam Surat Keputusan Bupati Mimika Nomor 149.

“Feedback (masukan-red) ini saya harap khususnya kepada kepala puskesmas dalam pertemuan akhir triwulan ketiga, harus disampaikan kepada kepala kampung karena kami di dinas kesehatan tidak dapat memotret sampai tingkat kampung,” katanya.

“Saya pikir di puskesmas tentunya rencana pelaksanaan kegiatan (rpk) dalam implementasinya ada bentuk tanggungjawab puskesmas yang harus disampaikan kepada kepala distrik dan kepala kampung di wilayah kerjanya supaya mengetahui sejauh mana pelayanan kita dan seperti apa di opd-opd lain, agar sama-sama kita bisa melihat kenapa sensitif dan spesifik,” imbuhnya.

Ia mengatakan faktor penyebabnya bukan hanya satu melainkan multi kausal. Sama halnya dengan pola pada penyakit menular.

“Kalau kita lihat pola penyakit di Timika ada dua yakni menular dan tidak menular. Kalau kita lihat dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir penyakit menular dan tidak menular itu meningkat bahkan tidak ada yang turun, kalau ada yang turun kemudian muncul lagi,” jelasnya.

Menurutnya, berdasarkan teori H. L. Bloom ia mengungkapkan bahwa orang sakit itu karena dipengaruhi oleh perilaku lingkungan.

Ia mengambil contoh penyakit malaria di wilayah puskesmas Manasari dimana dari 100 penduduk 1 orang dikelilingi oleh hampir 200 jentik nyamuk. Sementara, intervensi malaria yang dilakukan hanyalah tes malaria.

“Kemudian diare yang tinggi karena perilaku buang air sembarangan. Coba kita lihat dalam kota orang buang sampah atau pampers sembarangan. Sampah rumah tangga (air cuci piring-red) tidak pernah menemukan arusnya mau dibuang kemana,” ujarnya.

“Jadi sebenarnya semakin mengerucut data-data yang disampaikan oleh bidang sensitif maupun spesifik itu polanya sama dengan penyakit menular. Ternyata, intervensi isu lingkungan yang berpengaruh yaitu ketersediaan air bersih dan rumah sehat,” paparnya.

Lanjutnya, faktor lainnya yang berpengaruh adalah faktor perilaku, yang hanya didukung oleh pengetahuan. Konsep pelayanan pembangunan kesehatan secara nasional ada tiga pendekatan yakni membuat orang tahu, mau dan mampu.

“Jadi sebenarnya hal yang mendasar adalah kita intervensi manusia dengan komunikasi perubahan perilaku dan intervensi lingkungan bagaimana lingkungan bersih dan ketersediaan air bersih,” tukasnya.

Ia mengungkapkan, antar opd akan melakukan rapat konsultasi dengan pimpinan eksekutif dan legislatif agar di tahun 2023 bagaimana semua sifatnya konvergensi sehingga wilayah yang menjadi stunting semua pihak dapat berkolaborasi menurunkan stunting.

“Saya senang sekali stunting dan TB kita sudah kunci. Kita tahu prevalensinya dan ketika kita menjaring lebih banyak, kita bisa tahu semakin banyak polanya serta kita tahu darimana kita akan memulai,” pungkasnya (Elfrida Sijabat)

Top