Waspada! Penularan Penyakit Kusta Di Mimika Mulai Masuki Wilayah Kota

Ilustrasi penyakit kusta (Foto Google)

MIMIKA, BM

Keberadaan penyakit kusta di Kabupaten Mimika harus segera disikapi penularannya secara serius dan optimal oleh pemerintah daerah.

Walau dari tahun ke tahun terjadi penurunan kasus kusta di Mimika namun penyakit ini belumlah hilang.

Bahkan saat ini penularan penyakit kusta mulai mengkhawatirkan karena mulai memasuki wilayah seputaran Kota Timika.

Selama 4 tahun terakhir, Dinas Kabupaten Mimika mencatat, terjadi penurunan kasus. Pada tahun 2019 ada 91 kasus kusta di Mimika. Tahun 2020 terdapat 82 kasus.

Tahun 2021 turun menjadi 69 kasus dan di 2022 ini menyisahkan 37 kasus (hingga Juni) dimana 1 pasien mengidap kusta kering (PB) dan 36 lainnya kusta basah (MB).

Untuk tahun ini, jumlah pasien kusta paling banyak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Timika (10 kasus) kemudian PKM Potowaiburu (6 kasus) dimana 5 kasus diantaranya di Kampung Aindua.

Selanjutnya di PKM Timika Jaya (5 kasus), PKM Wania (5 kasus), PKM Pasar Sentral (4 kasus). Di PKM Bhintuka, PKM kwamki dan PKM Ipaya masing-masing 2 kasus sementara PKM Karang Senang 1 kasus.

"Pasien kusta tahun 2022 ada 37 kasus yang didominasi laki-laki yakni sejumlah 25 orang, kalau dilihat dari umur terdapat 3 kasus anak-anak dan yang lainnya dewasa," ujar Kamal, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes Mimika kepada BM.

Ia menjelaskan, selain karena program rutin yang dilakukan Dinkes Mimika, terjadi penurunan kasus kusta di Mimika tahun 2022 diakibatkan juga karena pandemi Covid-19 yang melanda hampir tiga tahun sehingga tidak terjadi banyak pergerakan dan mobiliasi kasus.

"Target dari program kusta yang kami lakukan adalah menemukan sebanyak mungkin orang dengan tanda dan gejala kusta untuk diperiksa dan diobati," ujarnya.

"Jika hasilnya positif maka kontak serumah serta kontak eratnya juga diberi pengobatan pencegahan agar dapat memutus mata rantai penularan kusta di masyarakat," terangnya.

Dijelaskan, faktor penyebaran kusta di Mimika masih terjadi karena masih adanya kasus aktif kusta yang dapat menularkan kepada orang lain terutama anggota keluarga yang serumah karena kontaknya erat dan sering bertemu setiap hari.

"Oleh karenanya penemuan kasus aktif mutlak dilakukan serta pengobatan harus sampai selesai. Selain itu terapi pencegahan kusta juga harus diberikan kepada mereka yang kontak erat dengan penderita kusta," jelasnya.

Diterangkan Kamal, ada lima program dasar yang dilakukan Dinas Kesehatan terhadap keberadaan kasus kusta di Mimika.

Pertama, melakukan skrining sebanyak-banyaknya terhadap masyarakat terutama di daerah / kampung yang masih terdapat kasus kusta.

Kedua, melakukan pemeriksaan kusta dan pengobatan kusta sampai selesai. Ketiga, membuat promosi kesehatan kusta kepada masyarakat.

Keempat, memberikan makanan tambahan pada pasien kusta guna mempercepat perbaikan kondisi pasien kusta.

Kelima, adalah melakukan pengobatan pencegahan kusta untuk kontak erat dan pemberian pengobatan pencegahan massal untuk kampung yang angka kustanya cukup tinggi.

"Pengobatan kusta memerlukan waktu yang sangat panjang. Untuk tipe PB normal pengobatan selama 6 bulan dan dapat ditoleransi sampai 9 bulan, sedangkan pengobatan Tipe MB selama 12 bulan dan dapat ditoleransi sampai 18 bulan," jelasnya.

Ia mengatakan, kepatuhan minum obat merupakan tantangan terberat pasien kusta karena waktu minum obatnya yang panjang.

Pada tahun 2020 tingkat pasien keberhasilan pengobatan kusta tipe PB 85 persen sedangkan tipe MB masih rendah yakni 59 persen.

"Pesan kami jika masyarakat yang minum obat kusta diharapkan dapat minum obat sampai selesai," ujarnya.

Penyakit kusta adalah penyakit kulit yang meyerang saraf tepi. Tanda dan gejala yang bisa dilihat adalah adanya bercak yang mati rasa dan saat pemeriksaan laboratorium terdapat micobakterium leprae pada sediaan pemeriksaan.

"Jadi jika ada penyakit perlu pemeriksaan oleh tenaga kesehatan. Pesan untuk masyarakat adalah jika ada anggota keluarga yang memiliki sakit kulit berupa bercak putih seperti panu dan mati rasa jangan ragu untuk periksa di Puskesmas terdekat, pengobatan kusta gratis di Puskemas," ungkapnya.

Cara Dinkes Berhasil Turunkan Jumlah Kasus Kusta Di Mimika

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra sebelumnya kepada BM menjelaskan bahwa penyakit kusta identik dengan kemiskinan. Masalah ketersediaan air bersih, tidak adanya mck dan lingkungan yang kotor dan tidak sehat adalah faktor pemicu awal.

"Coba kita lihat, fasilitas air bersih tidak tersedia di wilayah pesisir begitupun rumah sehat pun belum ada secara maksimal di sana. Ini jadi penyebab, ditambah juga dengan intervensi masyarakat," ujarnya.

Reynold menjelaskan, kusta merupakan penyakit laten atau inveksi lama. Bahkan diakuinya, secara nasional, kusta merupakan penyakit yang terabaikan. Walau demikian hal ini dapat dikendalikan tergantung persoalan higent dan lingkungan.

Reynold Ubra juga menyampaikan bagaimana selama 4 tahun terakhir, Dinkes berhasil menekan peningkatan kasus kusta di Mimika.

"Sejak tahun 2020, kami coba dengan cara jangan sampai penyakit ini jadi terlupakan karena penyakit ini bukan hanya menyebabkan kematian namun juga mengakibatkan kecacatan. Tahun 2020 kami mulai tetapkan ini sebagai lukos prioritas kami hingga saat ini," ungkapnya.

"Ini terbukti karena pada 2019 ada 91 kasus kusta di Mimika sementara di 2022 turun jadi 37 kasus. Kita harus akui bahwa prosesnya tidak bisa cepat karena waktu pengobatan yang lama. Ini juga tergantung kepatuhan minum obat. Sejauh ini kita juga terus tingkatkan penanganan lima program dasar untuk menangani kasus ini dan ini kita rutin lakukan," jelasnya.

Wabup John Minta Dinkes Terus Lakukan Penanganan Optimal

Menanggapi maraknya penyakit menular ini, Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob pernah mengungkapkan kepada BM bahwa sesungguhnya penyakit kusta ini sudah ada sejak lama.

"Saya tahu itu karena saya sendiri juga sudah melihatnya secara langsung. Yang kita khawatirkan adalah dia berkembang dan menyebar luas karena ini merupakan penyakit menular," ujarnya.

Wabup John juga mengakui bahwa selama ini Pemerintah Kabupaten Mimika tidak terang-terangan menyampaikan hal ini ke publik untuk dikritisi dan diatasi.

"Sebenarnya kita harus segera atasi. Memang sampai sekarang kita belum publis. Artinya pemerintah tidak pernah publis dan dikritisi bahwa sebenarnya pemerintah harus sampaikan bahwa ini masalah yang sudah terjadi. Jadi kita harus akui itu," tuturnya.

Menurutnya untuk merawat pasien kusta diperlukan orang-orang khusus yang sudah berpengalaman. Di Mimika kuota ini belum terpenuhi.

"Orang merawat kusta ini bukan sembarangan. Orang yang merawat kusta ni orang-orang khusus yang sudah pernah merawat kusta. Makanya kita harapkan supaya seharusnya kita sudah mulai datangkan mereka untuk tangani ini," terangnya.

"Ini kan tergantung kita saja karena yang kita harapkan ya mesti ada perhatian khusus dari pemerintah. Baik itu anggaran maupun lainnya. Kalau kita sampaikan kepada Kementrian Kesehatan mungkin bakal ada tim yang datang. Sampai sekarang kita belum sampaikan," imbuhnya.

Wabup John secara khusus meminta Dinas Kesehatan untuk terus melakukan penanganan optimal terhadap keberadaan kusta di Mimika. Ia juga berharap penanganan terhadap penyakit menular ini jadi prioritas. (Ronald Renwarin)

Top