Uang Hasil Penipuan Buat Sertifikat Tanah Digunakan untuk Foya-foya, Polisi Tangkap



Kasat Reskrim Polres Mimika, Iptu Bertu Haridyka Eka Anwar

MIMIKA, BM

Seorang wanita berinisial ASH alias Ara harus berurusan dengan hukum karena dirinya menipu dua korban dengan menawarkan jasa untuk pembuatan sertifikat tanah.

Awal mulanya ASH ini berpura-pura bertanya kepada korban apakah ada tanah yang mau dijual atau tidak.

Korban kemudian mengatakan bahwa ada dua hektar tanah yang mau dijual namun belum dibuat sertifikatnya.

Mendengar hal tersebut, pelaku kemudian menawarkan jasanya untuk mengurus sertifikat tanah di BPN karena ia berkilah, ada orang ingin membeli tanah dengan harga miliaran.

Selanjutnya korban yang berinisial JJ mentransferkan uang sebesar Rp 45 juta. Selain itu temannya yang juga menjadi korban berinisial S juga mentransfer uang sebesar Rp 30 juta.

Namun berjalan waktu tidak ada perkembangan dan timbulah kecurigaan dari kedua korban. Setelah berkoordinasi dengan pihak BPN ternyata tanah tersebut tidak terdaftarkan.

"Kasus ini terjadi di bulan Desember tahun 2021 dan baru dilaporkan awal tahun ini. Tersangkanya sudah diamankan dan sudah akui perbuatannya," kata Kasat Reskrim Polres Mimika, Iptu Bertu Haridyka Eka Anwar, Kamis (20/1).

Kata Bertu, tersangka juga berdalih dalam aksinya ia bersama bosnya namun setelah dilakukan pemeriksaan dan pengecekan, ternyata bosnya tidak ada.

"Dalam artiannya seolah-olah ada bosnya. Memang ini modus lama yang dipakai bahkan ada teman-temannya juga sudah diseting oleh tersangka supaya meyakinkan kepada korban," katanya.

Dari hasil pengakuan tersangka, uang hasil kejahatannya itu dipakai untuk membeli HP dan berfoya-foya.

"Bukti struk pembayaran di tempat hiburan juga sudah kita jadikan sebagai alat bukti," ungkap Bertu.

Menurutnya saat ini baru dua korban yang membuat laporan polisi dan kemungkinan masih ada korban lainnya.

"Jadi selama melakukan aksinya itu tinggalnya di hotel, bahkan menggunakan tiga identitas KTP dengan nama yang berbeda. Tersangka dikenakan pasal 378 KUHPidana dengan ancaman maksimal 4 tahun penjara," ujar Bertu.(Ignas

 

Top