Ada Pusat Grosir di Timika jual Produk yang Dikemas Ulang, Masyarakat Harus Hati-Hati

Tim saat melakukan pemeriksaan di salah satu pusat grosir di Timika

MIMIKA, BM

Jelang hari raya Idul Fitri, Loka POM Mimika bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika serta perwakilan Asosiasi Pengusaha Depot Air Minum (Aspada) melakukan pengawasan di sejumlah toko besar, sedang dan kecil di Timika.

Kegiatan pengawasan ini dimulai sejak Rabu (21/4/2021) dan akan berlangsung hingga Jumat besok.

Dalam pengawasan yang dilakukan Loka Pom bersama tim, mereka menemukan produk makanan yang dikemas ulang atau repacking di salah satu pusat grosir di Kota Timika.

Kepala Loka POM Timika, Lukas Dosonugroho kepada wartawan mengatakan, produk pertama yang ditemukan adalah kangen water.

Produk tersebut tidak boleh dijual karena belum memiliki ijin edar dan juga klaim kesehatan berlebihan.

"Produk yang tidak ada ijin edarnya itu sudah langsung kita musnahkan,"tutur Lukas.

Selain itu, ditemukan juga beberapa produk yang dikemas ulang mulai dari makanan ringan, kurma, tepung, susu bubuk, hingga bahan pembuatan kue. Barang-barang tersebut kemudian diarahkan untuk dikeluarkan dari tempat penjualan.

Dijelaskan Lukas Dosonugroho, pada prinsipnya kemas ulang produk makanan tidak boleh dilakukan oleh distributor karena itu bagian dari produksi.

"Penjual hanya melayani masyarakat yang membeli makanan dalam jumlah kecil yaitu kemasan aslinya yang ditaruh di depan toko lalu disediakan plastik lalu ditimbang depan konsumen baru dibungkus," jelas Lukas.

Pada pemeriksaan yang berlangsung, Lukas meminta pihak toko untuk menunjukkan kemasan asli produk produk tersebut untuk melihat ijin edar hingga masa kedaluwarsa produk.

"Jadi kita turunkan supaya dijual dengan cara yang benar, kemasannya masih utuh, konsumen bisa lihat produksinya siapa, mereknya apa, kadaluwarsa kapan, baru masyarakat mau beli berapa kilo lalu bungkus di depan pembeli, jadi bukan dengan cara repacking" jelasnya.

Katanya, produk kemasan ulang berbahaya jika tidak dicantumkan masa kadaluarsa dan tempelan ijin edarnya.

Lukas juga menegaskan bahwa konsumen memiliki hak untuk mengetahui asal produk, merek, kedaluwarsa hingga halalnya produk tersebut atau tidak.

"Yang repacking ada ijin edarnya, cuma cara penjualannya yang harusnya tidak boleh dengan repacking karena kalau repacking harusnya mendapat persetujuan dari perusahaan aslinya, tidak boleh langsung sembarangan melakukan repacking seenaknya," ujarnya.

Ia juga menghimbau masyarakat untuk membeli produk yang aman dengan selalu mengecek kemasan, label, ijin edar dan waktu kadaluarsa.

"Kalau produk yang tidak dikemas contohnya gorengan, makanan siap saji dilihat saja kalau baunya masih enak, dicicipi masih enak silahkan. Bagi pengusaha rumah makan dan sebagainya juga tolong dijaga kebersihannya,"ungkapnya. (Shanty)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top