Di Momen HUT RI Ke-79, Mimika Kian “Cantik” Menuju Usia 28 Tahun
Salah satu ikon kota Timika, bundaran Petrosea
MIMIKA, BM
Indonesia kini telah berusia 79 tahun dan telah diperingati perayaannya pada tanggal 17 Agustus 2024. Di usia yang semakin matang ini, negeri ini mengusung tema pembangunan bangsa “Nusantara Baru Indonesia Maju.”
Upacara peringatan hari Kemerdekaan Indonesia ke-79 kali ini berbeda karena untuk pertamakalinya diselenggarakan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.
Selain terpusat di IKN, seluruh pelosok negeri ini memperingatinya termasuk di pusat pemerintahan Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Berbeda dengan ibu pertiwi yang sudah berusia 79 tahun, Mimika tahun ini baru akan memasuki usia 28 tahun.
Jelang usia ke-28 yang akan jatuh pada tanggal 8 Oktober mendatang, Kabupaten Mimika yang memiliki visi ”Terwujudnya Mimika Cerdas, Aman, Damai dan Sejahtera” terus membenahi diri dan berkembang menuju Smart City.
Sejumlah inovasi dan pembangunan terus digerakkan secara intens guna mensejahterakan masyarakat Mimika.
Berada di kaki Cenderawasih, Kabupaten Mimika memiliki wilayah pesisir pantai dan pegunungan yang didiami oleh masyarakat asli Suku Kamoro dan Amungme termasuk suku kekerabatan lainnya.
Selain itu, tinggal pula masyarakat pendatang dari berbagai suku yang ada di Indonesia menetap di kota ini. Tidak heran, Mimika kadang disebut sebagai miniaturnya Indonesia.
Sejauh ini, pembangunan infrastruktur nampak jelas terlihat di ibukota Mimika yakni Timika.
Yang membanggakan, Mimika kini telah memiliki Bandara udara nasional Mozes Kilangin yang berdiri megah sebagai akses keluar masuk melalui udara, yang dibangun dengan menggunakan APBD dan APBN.
Bandara ini tidak hanya menjadi Ikon Timika namun juga sebagai bandara penyanggah bagi mobilisasi transportasi udara ke wilayah Papua lainnya.
Walau demikian, harus diakui bahwa pengembangan di seputaran area Pelabuhan Poumako juga seharusnya mendapatkan perhatian serupa.
Pengembangan di wilayah ini harus diakui banyak berbenturan dengan persoalan kepastian lahan dan peliknya sejumlah regulasi. Tapi, dapat dipastikan hal ini akan terus menjadi perhatian pemerintah ke depan.
Warga Mimika pun berharap agar Pelabuhan Poumako juga dipercantik seperti Bandara Mozes Kilangin karena keduanya merupakan pintu masuk negeri penghasil emas ini.
Memasuki kota Timika, bagi yang sudah puluhan tahun merantau dan kembali ke kota ini, pasti akan berdecak kagum betapa pesatnya pertumbuhan Mimika dalam segala hal terutama pembangunam infrastruktur, perekonomian hingga layanan kesehatannya.
Perkembangan negeri ini begitu nampak sejak Mimika terpilih sebagai salah satu tuan rumah dan sukses menyelanggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua pada tahun 2021 lalu.
Sebut saja Mimika kini memiliki Sport Complex, venue Biliar, venue panjat tebing, venue futsal dan Graha Eme Neme Yauware yang kini semakin megah kian bertambah cantik.
PON XX telah membawa dampak siginifikan dalam lajur pertumbuhan ekonomi dan sejak itu Mimika terus menjadi kota destinasi bagi para pencari kerja (pencaker) dari berbagai belahan nusantara di republik ini.
Tidak hanya fasilitas olahraga semata, namun wajah Mimika kini menjadi lebih berwarna dengan hadirnya berbagai tempat tongkrongan bagi kawula muda, dan hadirnya sejumlah pusat perbelanjaan serta semakin maraknya wisata kuliner menarik yang biasa ditemui di kota ini.
Akses transportasi darat pun semakin dimudahkan dengan hadirnya layanan antar jemput motor dan mobil online. Hal ini juga sangat didukung dengan pembangunan akses jalanan umum hingga jalanan komplek yang semakin baik terlihat.
Sementara itu, secara khusus dalam bidang kesehatan, Mimika kini telah memiliki Instalasi Rawat Darurat (IRD) yang sudah difungsikan pada Agustus 2019 lalu dengan anggaran pembangunan mencapai puluhan milyar rupiah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika.
Dengan dibangunnya fasilitas kesehatan ini, masyarakat Mimika semakin mudah mendapatkan pelayanan yang sifatnya urgen. RSUD Mimika juga telah menjadi rumah sakit rujukan untuk kabupaten lain.
Di distrik Tembagapura juga telah berdiri megah Rumah Sakit Waa Banti untuk semakin mendekatkan pelayanan bagi masyarakat di pegunungan.
Tidak hanya itu, kini masyarakat Mimika tidak harus jauh melangkah ke Pusat Pemerintahan SP3 untuk mengurus masalah administrasi kependudukannya karena sekarang Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) telah pindah ke kota Timika.
Selain datang langsung, masyarakat kian dimudahkan dengan adanya pilihan aplikasi inovasi dari Disdukcapil hanya melalui telepon genggam.
Pembangunan kantor organisasi perangkat daerah (OPD) tidak hanya untuk kantor Disdukcapil saja. Di kota Timika kita bisa mendapati kantor Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perhubungan, kantor Bapenda dan Dinas Pendidikan yang sama megahnya.
Semua kebanggaan ini harus diakui bahwa belum sesempurna yang diharapkan karena masih banyak hal lain yang harus mendapatkan perhatian serupa seperti pendidikan dan pariwisata termasuk perhatian lebih kepada pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal (OAP) serta pengembangan UMKM.
Mimika kemarin mendapat kritikan dari pejabat pusat namun mereka lupa bahwa Mimika yang kita cintai ini usianya baru 28 tahun dan jika dianalogikan dengan usia manusia, Mimika baru berada di fase kedewasaan.
Masih banyak kekurangan dalam memerdekakan negeri ini namun kota maju dan modern di belahan dunia manapun juga memiliki persoalan yang kompleks.
Mimika tidak bisa sepenuhnya hanya menjadi tanggungjawab pemerintah daerah namun semua pihak yang mendiami daerah ini.
Kolaborasi pemerintah bersama pihak swasta dan masyarakat adalah kuncinya dan pemerintah adalah leadernya.
Bicara Mimika, tentu bukan hanya Timika saja karena negeri ini memiliki 18 distrik, 19 kelurahan dan 133 kampung. Negeri ini milik kita semua.
Percayalah, Mimika akan terus membenahi diri dengan APBD yang mencapai triliunan dan ditopang perusahan tambang terbesar di dunia (PT. Freeport Indonesia) di tanah ini.
Memasuki usia ke 28 tahun ini, kita harus optimis bahwa Mimika bisa. Mimika akan bangkit secara berkelanjutan. Saat kedua kakinya lebih siap untuk melangkah, dia akan berlari secepatnya.
Mimika adalah kebanggaan kita semua suku bangsa yang mendiaminya. Negeri ini juga tidak egois. Dia tidak hanya menghidupi dirinya sendiri tapi juga jutaan manusia di Indonesia.
Semoga di usia ke-28 nanti, segala kekurangan yang ada terus diperbaharui agar manfaat pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat Mimika benar-benar dapat terwujud. Eme Neme Yauware, Mimika bisa. (Elfrida Sijabat).
Penulisan Feature ini merupakan bagian dari kerjasama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mimika.





























