Olah Raga

Pandangan Duo Legenda Sepak Bola, Apples Tecuari dan Rochy Putiray Tentang Papua Football Academy

Dua legenda sepakbola Indonesia, Apples Tecuari dan Rochy Putiray

MIMIKA, BM

Papua Football Academy (PFA) belakangan ini tengah mencuri perhatian banyak kalangan. Pasalnya, akademi tersebut secara langsung diresmikan oleh orang nomor satu di Indonesia, yaitu Presiden Jokowi pada bulan Agustus lalu di Stadion Lukas Enembe, Kabupaten Jayapura, Papua.

Akademi sepak bola yang didirikan PT Freeport Indonesia (PTFI) sebagai wadah pengembangan SDM Papua di bidang olahraga itu juga tak tanggung-tanggung dalam menyediakan segala fasilitas sarana prasarana, mulai dari lapangan, mes, pelatih, hingga penunjang lainnya tampak begitu elit untuk sebuah pendidikan sepak bola.

Duo pemain legendaris sepak bola asal Papua yang telah mendunia, yakni Apples Tecuari dan Rochy Putiray pun mengakui bagaimana ide besar yang telah dicetuskan PTFI adalah suatu ide yang sangat luar biasa.

"Ini sesuatu yang luar biasa untuk Papua," respon Rochy Putiray menanggapi pertanyaan wartawan tentang PFA di sela-sela pertandingan Waanal Brother FC kontra Environmental FC di lapangan Maurufkau Jaya Mile 21, Timika, Jumat (4/11/2022).

Menurut Rochy, ide-ide besar semacam ini seharusnya dilahirkan juga oleh pemerintah daerah, dalam hal ini Asosiasi Provinsi (Asprov). Sebab, menurutnya ide seperti itulah yang sangat didambakan oleh anak-anak muda di timur Indonesia yang sudah memiliki potensi secara natural atau talenta alamiah dalam memainkan si kulit bundar.

"Cuma sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana nantinya tindak lanjut dengan adanya PFA. Kira-kira bakal seberapa jauh nantinya. Itu yang harus dipikirkan," ucap lelaki yang pernah menjebol gawang AC Milan itu.

Rochy menyarankan, PFA yang saat ini telah menjadi impian generasi muda Papua bisa memberikan pendidikan secara berjenjang, sehingga nantinya dapat mencapai goals yang jelas juga tentunya.

"Saya sebagai mantan pemain sepak bola melihat ada satu kegiatan seperti ini, saya sangat senang. Cuma harus punya jenjang lanjutan. Manajemen harus sudah punya planning ke depan, apa yang mesti dibikin. Jangan cuma jangka pendek, setahun, dua tahun, tiga tahun selesai, tapi anak-anak angkatan pertama ini bakal sejauh mana mereka harus bina," tandasnya.

"Finishing touch-nya itu sampai dimana. Apa cuma sampai di liga Indonesia, atau sampai dimana, atau sekadar satu dua tahun, atau bagaimana. Tapi setelah mereka di usia 17-20 tahun, mereka mau kemana dan jadi apa. Poinnya lebih di situ," imbuhnya.

Rochy juga berharap, dengan berbagai fasilitas yang begitu lengkap serta para pelatih yang mumpuni, PFA dapat menghasilkan generasi-generasi yang lebih luar biasa.

"Terutama dalam pemahaman cara bermain bola dengan benar termasuk karakter dan sebagainya, karena rata-rata kita tidak bisa berkembang di luar negeri karena kita tidak bisa beradaptasi. Kita punya talenta, tapi karena tidak diajarin sehingga sampai di luar, kita masih meraba-raba. Kita masih suka bermain dengan dribbling satu kampung terus merasa puas. Kalau di luar kan cara bermain bolanya harus yang pintar," pungkasnya.

Senada dengan itu, mantan pemain bintang Indonesia, Apples Tecuari menilai bahwa apa yang telah dilakukan PTFI merupakan satu hal yang positif untuk membangun generasi penerus tanah Papua.

Apples percara bahwa Papua sudah tidak diragukan lagi soal talenta. Hanya saja, menurutnya, yang harus diperhatikan di sini adalah keseriusan dalam memulai sesuatu yang baru dan bagus tentunya.

"Dalam arti jangan awalnya saja. Apalagi ini kan dibuka secara langsung oleh Pak Presiden, sehingga itu harus diperhatikan dengan betul-betul serius supaya ke depan bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa," tegasnya.

Dia mengambil contoh dirinya ketika dulu masuk menjadi bagian dari PPLP Irian Jaya di tahun 1990, yang mana menurutnya di sana talentanya sangat diperhatikan dengan serius.

"Itu saya tiga tahun saja, dan saya sudah bisa masuk di timnas senior. Jadi, saya percaya bahwa ketika itu bisa ditangani dengan serius, maka pasti akan melahirkan pemain-pemain yang luar biasa, secara khusus di tanah Papua," yakin Apples yang pernah memperkuat Timnas Indonesia menjuarai LG Cup pertama di Vietnam kala itu.

Untuk itu, dia berpesan kepada para coach yang telah dipercayakan membimbing serta membina bibit-bibit muda Papua yang bertalenta di PFA agar dapat dengan sungguh-sungguh dan serius dalam melatih anak didiknya.

"Karena apa yang saat ini dibangun itu sesuatu yang luar biasa, yang bagi saya itu sesuatu yang mungkin didambahkan oleh seluruh anak-anak Papua secara khusus kami yang sudah melewati itu. Kami mendabakan sesuatu yang baru untuk bibit bibit pemain muda kita yang luar biasa," pungkasnya. (Endy Langobelen)

245 Peserta Ikut Kejurkab I Panjat Tebing


Staf Ahli Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan,Septinus Timang membuka pertandingan Kejurkab I dengan ditandai pemasangan poin

MIMIKA, BM

Sebanyak 245 peserta dari SD, SMP, SMA dan tingkat umum mengikuti Kejurkab I PFTI Mimika yang diselenggarakan di Venue Panjat Tebing, jalan poros SP2-SP5, Jumat (28/10).

Pertandingan panjat tebing ini akan berlangsung selama tiga hari, yakni Jumat-Minggu dengan 4 nomor tanding atau nomor lomba Bouolder, Speed Classic, WR dan Lead.

Staf Ahli Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, Septinus Timang dalam sambutan menyampaikan, olahraga panjat tebing merupakan salah satu olahraga yang mendunia.

Olahraga ini banyak diminati oleh anak-anak muda saat ini dan sudah banyak memberikan kontribusi besar dalam tiap kejurda yang diselenggarakan baik dalam tingkat nasional maupun ditingkat internasional.

Olahraga panjat tebing sendiri merupakan olahraga yang membutuhkan daya tahan tubuh yang solit dan mengutamakan kelenturan tubuh, kekuatan tubuh dan keterampilan dalam menggunakan peralatan.

"Kami mengajak para atlet untuk tetap menjunjung tinggi sportivitas agar semua berjalan dengan baik, sehingga lewat Kajurkab ini dapat menjaring dan mendapatkan atit-atit muda khususnya anak-anak asli Papua yang berbakat di Kabupaten Mimika sehingga bisa dipersiapkan untuk menjadi atlet yang profesional di kelas internasional," harapnya.

Sementara itu Ketua umum FPTI Kabupaten Mimika, yang diwakili oleh ketua harian, Bahar mengatakan bahwa kegiatan ini bisa terlaksanakan sesuai dengan arahan ketua umum.

"Ini iven pertama kali yang akan dilaksanakan dalam rangka  menjaring bibit-bibit atlit yang ada di Kabupaten Mimika, makanya kami pengurus coba memformulasikan pesertanya mulai dari SD, SMP SMA yang nanti secarah teknis akan diklasifikasi sesuai dengan regulasi pertandingan," ungkapnya.

Lanjutnya, "Pertandingan atau perlombaan yang ada ini di luar ekspektasi kami. Kami berpikir pesertanya tidak banyak, ternyata kemarin teknikal meeting itu pesertanya 245 orang. Jadi besar harapan kami sebagai pengurus setelah PON  ternyata antusias anak-anak untuk belajar panjat tebing luar biasa,"sambungnya.

Kata Bahar, pertandingan yang diselenggarakan ini juga sebagai bentuk persiapan untuk Porprov tahun 2024, tentunya ini akan ada sirkuit wilayah yang namanya Pra PON.

"Dari hasil ini nanti ada bibit-bibit atlet yang akan kami dorong untuk ke Porprov atau Pra PON. Di bulan Desember nanti dari anak-anak kita ini akan kita ikut sertakan kejuaraan di Situbondo," katanya. (Ignasius Istanto)

Kadisparbudpora Mimika : Pembinaan Atlet Harus Dilakukan Sejak Usia Dini, Kisah Lionel Messi Bisa Jadi Inpirasi

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Jacob Toisuta

MIMIKA, BM

Siapa yang tidak mengenal seorang mega bintang sepakbola Lionel Messi? Ia adalah pesepakbola international yang sudah tidak diragukan lagi potensinya. Untuk mencapai apa yang diraihnya saat ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Di awal usia dini ia melatih diri mengembangkan bakatnya bermain sepakbola. Banyak hal yang telah dihadapinya termasuk masalah postur tubuhnya yang kecil.

Seiring prosesnya ia tidak patah semangat, terus melatih diri di dalam naungan Barcelona FC sedari kecil hingga dewasa sepanjang karirnya ditempa disana.

Ya, sebuah hasil yang optimal memang membutuhkan perjuangan yang panjang dan melelahkan namun yang terbaik dari kisah ini adalah bagaimana prosesnya.

Artinya bahwa seorang bisa menjadi atlet besar, tidak hanya karena bakat yang dimilikinya saja namun juga karena sistem dan pola pembinaan yang dilakukan terhadapnya.

Pendidikan anak sejak usia dini memang sangat diperlukan. Di usia pertumbuhan ini anak-anak yang memiliki hobi dan bakat dalam olahraga harus mulai dilatih dan dibentuk menjadi atlet masa depan yang handal.

Semua harus mulai dilakukan pada usia dini karena pembinaan secara berjenjang harus dibarengi proses yang panjang dan terstruktur.

Proses ini tidak seperti membalikan telapak tangan yang kemudian jadi atau instan begitu saja karena proses yang baik dan benar akan menghasilkan output yang baik dan benar pula, begitupun sebaliknya.

Walau demikian, perlu disadari bahwa kemauan anak dan orangtua dalam mengembangkan bakat anak-anak mereka tidaklah cukup dengan hanya mengatakan iya saja namun sesungguhnya perlu wadah yang menanugi mereka.

Selain itu, dukungan sarana dan infrastruktur serta proses berkelanjutan dalam satu mekanisme sistem juga menjadi ukuran keberhasilan pengembangan atlet masa depan di sebuah daerah termausuk di Mimika.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Jacob Toisuta kepada awak media usai mengikuti pembukaan Open Tournament Billiard Bupati Cup 2022, Rabu (5/10/2022) mengatakan pembinaan atlet harus dilakukan sejak usia dini.

“Untuk usia sekolah tanggung jawab kita, kalau KONI hubungannya dengan atlet dan prestasi. Saya tanpa dukungan cabang olahraga (cabor) tidak bisa buat apa-apa. Jadi, cabor harus memberi masukan atau proposal. Tapi jangan proposal asal-asalan harus betul-betul ada kaitan dengan turnamen tingkat pelajar,” ungkapnya.

Menurutnya, jam terbang anak-anak usia dini sangat diperlukan, agar pembinaan terus dilaksanakan mulai dari turnamen regional hingga tingkat nasional.

“Latihan jangan dekat-dekat berangkat baru latihan itu salah besar,” ujarnya.

Dikatakan untuk tahun 2022 tidak ada dana saving untuk memberangkatkan anak-anak usia dini ke luar daerah.

“Jadi kita mengharapkan tahun depan harus ada supaya ketika ada kejuaraan pelajar, kita bisa membiayai karena itu tanggungjawab kita, tapi kalau tidak ada anggaran kita tidak bisa buat apa-apa,” imbuhnya.

“Melatih anak-anak harus rutinitas jangan mau berangkat baru latihan. Suatu proses untuk mencapai hasil itu butuh waktu lama minimal enam bulan. Anggarannya harus dipastikan tahun depan ada. Saya mengharapkan 1 milyar dana saving untuk memberangkatkan setiap atlet usia dini,” harapnya.

Terkait pengembangan bakat anak-anak dalam bidang olahraga, Toisuta mengatakan bahwa hal ini akan menjadi perhatian utamanya ke depan.

"Kita akan lakukan semua itu secara teratur dan tersistem namun harus ada dukungan dari tiap-tiap Pengkab juga karena disanalah proses awal dalam membina anak-anak itu dimulai," ujarnya. (Elfrida Sijabat)

Top