Kesehatan

Kampung Mawokauw Jaya Berhasil Menekan Angka Stunting Di Wilayahnya "Mereka Lakukan Ini"

Kepala Kampung Edyson Rafra

MIMIKA, BM

Sejak tahun 2019 terdapat 200 lebih anak yang ada di Kampung Mawokauw Jaya, Distrik Wania menderita stunting.

Tiga tahun berselang tepatnya pada Senin (6/2/2023) angka stunting ini turun drastis ke angka 13.

Kepada BeritaMimika Selasa (7/2/2023) di ruang kerjanya, Kepala Kampung Mawokauw Jaya Edyson Rafra mengungkap upaya-upaya yang mereka lakukan untuk mencapaian luar biasa tersebut.

Edyson menuturkan, sejak tahun 2020 hingga 2021 sesuai permintaan dari dinas pemberdayaan masyarakat kampung (DPMK) dan petunjuk dari pusat, setiap kampung/desa di seluruh Indonesia wajib menyediakan anggaran untuk stunting.

“DPMK tetapkan 133 kampung mendapatkan alokasi anggaran dana desa sebesar Rp50juta per tahun,” ucapnya.

Lanjutnya, anggaran dana desa tersebut kemudian digunakan untuk pencegahan dan penanganan stunting.

“Kita berdayakan kelompok TP-PKK dan Dkader posyandu. Kita serahkan anggaran ini untuk dimanfaatkan," ujarnya.

Untuk menekannya, setiap bulan dilakukan pendampingan setiap ada posyandu maupun pendampingan langsung kepada anak-anak di lingkungan.

"Jadi dari Rp50juta itu kita bagi ke 12 bulan," jelasnya.

Untuk pencegahan, pelaksanaan sosialisasi kepada remaja dan usia subur, ibu hamil dan kelompok keluarga yang anaknya berusia 0-2 tahun.

Selain itu menurut Edyson, pendampingan pemberian makanan tambahan (PMT) juga dilakukan di semua RT, termasuk saat giat posyandu.

“Ini juga merupakan bagian pencegahan dan penanganan. Kenapa anak stunting, itu juga karena pola hidup masyarakat yang kurang sehat,” ujarnya.

“Kita juga lakukan pembersihan lingkungan di setiap RT. Kita juga dapat bantuan dari pemerintah pusat pada tahun 2021 sebanyak 20 unit bak mandi cuci (mck), itu juga langkah pencegahan,” tambahnya.

Edyson menyebut belum melihat langsung program yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Mimika guna penurunan angka stunting.

“Kita berusaha dengan anggaran yang terbatas. Kita bekerja sama dengan puskesmas Wania melalui psoyandu. Kita juga mengajak ahli gizi dari puskesmas Wania, bersama kader posyandu dan TP-PKK, kita berdayakan mereka. Ini karena peran aktif masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan angka stunting pada bulan Desember 2022 berjumlah 5, namun Senin (6/2/2023) angka naik menjadi 13. Hal ini berakibat karena tidak datang ke posyandu.

“Kami melakukan pendampingan di setiap kegiatan posyandu dengan memberikan PMT setiap bulan, akhirnya kami tidak hanya melaksanakan posyandu untuk kampung ini saja tetapi juga melayani Nawaripi, Kamoro Jaya dan Wonosari,” ungkapnya.

Edyson Rafra menghimbau kepada warga masyarakat untuk memastikan diri dalam kondisi yang sehat baik pada saat hamil maupun melahirkan dengan datang ke posyandu setiap bulan.

“Jagalah kebersihan lingkungan, karen ini salah satu faktor dari ada atau tidaknya stunting itu sendiri,” tandasnya. (Elfrida Sijabat)

Beri Perhatian Lebih, Tiga ODGJ Akan Dibawa Berobat Ke Jayapura

Tutur Plt Kepala Dinas Sosial Mimika, Andarias Nauw

MIMIKA, BM

Dinas Sosial Kabupaten Mimika menargetkan tiga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berobat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Jayapura pada 2023.

Berdasarkan data ada sebanyak 62 ODGJ di Mimika dan 3 diantaranya sedang di rawat di Panti Rehabilitasi KM 7.

"Jadi yang 3 orang itu nanti kita siapkan untuk dikirim ke Rumah Sakit jiwa di Jayapura setelah APBD ini keluar nanti, " Tutur Plt Kepala Dinas Sosial Mimika, Andarias Nauw saat ditemui, Kamis (2/2/2023).

Andarias mengatakan, bahwa pihaknya akan secara bertahap mengambil para ODGJ untuk ditempatkan di Panti Rehabilitasi mengingat gedung tersebut tahun ini juga akan dilakukan renovasi.

"Mungkin untuk sementara ini 3 orang dulu yang akan dikirim ke Jayapura. Dan kami telah melakukan koordinasi dengan dinas kesehatan, karena untuk menangani ODGJ ini adalah petugas kesehatan, " jelasnya.

Lebih lanjut Andarias mengatakan, tugas Dinsos adalah membantu melatih keterampilan dan lainnya untuk meningkatkan ekonomi para ODGJ tersebut ketika telah pulih.

Katanya, yang menyembuhkan ODGJ adalah tugas tenaga kesehatan. Tahun 2024 mendatang, semua ODGJ di Mimika akan ditempatkan di panti Rehabilitasi KM 7 untuk proses berobat sampai tahap penyembuhan.

Selain itu, pihaknya juga sementara melakukan pendataan kepada para ODGJ dan memastikan semua data terkait administrasi kependudukan, agar bisa didaftarkan BPJS Kesehatan.

"Kita urus BPJS ini supaya mau dibawa ke Jayapura atau kemana saja sudah gampang, sehingga kita tinggal memperhatikan makan minumnya," Ungkapnya. (Shanty Sang)

Reynold Ubra: Mimika Belum KLB Campak, Anak-Anak Yang Terkena Akibat Belum Imunisasi

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra

MIMIKA, BM

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, mengatakan bahwa Mimika belum dapat dikategorikan sebagai wilayah kejadian luar biasa (KLB) campak.

"Jadi, saat ini, kami belum menyatakan itu KLB. Ini peningkatan kasus. Tahun-tahun lalu juga ada kasus kok dalam setiap minggu," ujarnya saat ditemui di pelataran Kantor Bupati Mimika, Jalan Poros SP3, Timika, Papua Tengah, Senin (30/1/2023).

Reynold mengungkapkan, dari bulan Juni hingga Desember 2022, akumulasi kasus campak di Mimika berjumlah 30-an kasus.

"Jumlah itu secara akumulatif. Ada beberapa variabel yang memang harus kami analisa lebih lanjut. Dan sebenarnya kalau dilihat dari jumlah 30-an kasus itu, campak terjadi 99 persen pada anak-anak yang belum pernah imunisasi. Jadi harusnya imunisasi itu menjadi penting," tandasnya.

Sementara penyebaran kasus campak, lanjut Reynold, lebih terpusat pada wilayah dalam kota Timika, terutama pada anak kelompok usia 15 tahun.

"Proporsu anak paling banyak itu pada usia 1 sampai 4 tahun," tuturnya.

Dia juga mengatakan bahwa berdasarkan curva epidemiologi, kasus campak di Kabupaten Mimika mulai menurun pada Januari 2023.

"Tetapi kami tetap mengikuti jangan sampai ada peningkatan lagi yang periode berikutnya," katanya.

Reynold menyebutkan, sebagai solusi pertama, langkah awal yang mulai dilakukan Dinas Kesehatan adalah membuka pos-pos pelayanan vaksinasi untuk campak.

"Cakupan imunisasi dasar lengkap tahun 2022 itu 72 persen. Dengan adanya covid kemarin memang menjadi tantangan kami selanjutnya. Bahkan ada juga orang tua yang masih menolak. Tapi itu tantangan buat kami untuk mengedukasi karena orang belum tahu," jelasnya.

"Jadi silakan orang tua yang anaknya belum mendapatkan imunisasi campak, bisa segera datangi pelayanan imunisasi yang ada di setiap puskesmas dalam kota," imbau Reynold menambahkan.

Dia juga meminta kepada para orang tua, bilamana anaknya mengalami gejala yang dicurigai sebagai campak, segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Adapun gejala-gejalanya yakni muncul bintik-bintik merah pada punggung, sering demam, dan batuk pilek.

"Orang tua hari ini kalau anak-anak nya ada yang mengalami masalah itu, segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Begitu juga kalau ada yang terkena sarampah," ujar Reynold. (Endy Langobelen)

Top