Hukum & Kriminal

Diduga Timbun Masker dan Hand Sanitizer, Pemda Mimika Akan Sidak Apotek

Suasana Apel pagi di Sentra Pemerintahan

MIMIKA, BM

Minimnya stok masker dan pembersih tangan (hand sanitizer) di Mimika, memunculkan banyak spekulasi bahwa ada apotek di Mimika yang sengaja melakukan penimbunan kedua barang ini.

Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob menduga kekosongan tersebut akibat ulah oknum penimbun yang ingin mencari keuntungan di balik kasus virus corona.

Oleh sebab itu, Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika akan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) terhadap sejumlah apotek maupun pertokoan yang menjual masker dan hand sanitizer di Timika.

"Saya sudah perintahkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Satpol PP dan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk segera melakukan sidak terhadap apotik dan pedagang," tutur Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob saat diwawancarai di Kantor Pusat Pemerintahan.

Wabup John merasa heran dan mempertanyakan mengapa dalam waktu sekejap dua barang ini habis secara serempak di hampir semua apotek maupun toko di Mimika. Ia juga telah menerima laporan tentang keadaan ini dari masyarakat.

Dikatakan, dinas terkait yang sudah diperintahkan agar dapat melakukan sidak secepatnya. Hal tersebut dilakukan untuk dapat mengetahui apakah masker dan hand sanitizer ini benar-benar habis terjual atau justru ditimbun.

"Masyarakat heran, saya heran dan kita semua kaget, kenapa bisa dalam waktu sekejap semua barang ini tidak ada di Mimika. Apakah benar-benar habis atau sengaja ditimbun? Pedagang harusnya jangan gunakan kesempatan dalam kesempitan sampai jual mahal hingga memberatkan pembeli. Kenapa harus mengambil keuntungan dalam keadaan seperti ini?," ujarnya.

Diharapkan, seluruh pihak terutama masyarakat Mimika harus sama-sama mendukung pemerintah daerah dalam memerangi Civd-19 agar Mimika benar-benar bersih dari virus ini.

"Saya kira kita harus bersikap manusiawi. Kita harus saling membantu dan saling menjaga agar Mimika benar-benar terbebas dari virus ini. Bagaimana kita mau saling melindungi kalau hal sederhana seperti masker dan pembersih tangan saja kalian mau gunakan untuk mencari keuntungan. Tidak masalah kalau habis tapi bagaimana kalau memang ditimbun diam-diam? Ini yang jadi masalah,” sesalnya.

Perlu diketahui bahwa ketika virus ini mulai marak dibicarakan secara nasional, BeritaMimika secara langsung mendatangi 12 apotek di seputaran kota Timika karena banyaknya keluhan warga yang menyatakan bahwa masker tiba-tiba habis di semua apotek.

12 apotek yang dijambangi BeritaMimika adalah Apotek Arguni, Etna Farma, Khirani, Ardian Farma, CMC, Medical Farma, K24, Mitra Husada, Lagaligo, MMC, Apotek Rakyat dan Apotek Rezky Farma. Selain itu BeritaMimika juga mendatangi Diana Departement Store di Jalan Budi Utomo dan Hasanuddin.

Kepada BeritaMimika, semuanya mengaku habis terjual karena diserbu warga. Namun dari pengakuan salah satu penjaga apotek, ia mengatakan bahwa ada kemungkinan dilakukan penimbunan.

“Mereka timbun dan kirim ke Jawa karena di sana memang lagi mahal. Normalnya, satu dos di sini jual Rp50 ribu, kalau di Jawa sekarang Rp300 ribu bahkan bisa lebih tinggi harganya. Karena memang lagi susah orang cari masker,” ungkapnya.

Sebelum fenomena Covid-19 merebak, harga normal dan pasaran satu masker di Mimika, hanya Rp2 ribu-Rp3 ribu. Bahkan beli tiga masker kita hanya membayar Rp5 ribu.

Harga satu dos masker dengan isi 30, 50 hingga 70 buah di Mimika harganya beragam. Kisarannya Rp50, Rp60 hingga Rp70 ribu.

Namun ketika stok masker habis terjual di Timika, ada dua apotek yang menjual satu dos masker dengan harga Rp210 ribu dan Rp250 ribu. Walau demikian, tetap saja habis terjual.

“Stok saya masih beberapa tapi tidak banyak. Saya juga simpan untuk jaga-jaga. Kondisi begini kalau saya jual Rp500 ribu juga pasti ada yang beli. Dari tadi (saat itu-red) selalu saja ada yang datang beli. Saya jual satu box Rp250 ribu,” ujar salah satu pemilik apotek.

Ia menuturkan rata-rata masker di datangkan dari Surabaya. Hanya saja keadaan ini membuat kebutuan membeli masker semakin melonjak. Selain mulai susah didapati, harganya juga melonjak.

“Ada yang datang beli untuk kirim ke keluarga mereka di jawa. Karena di sana sudah sulit untuk dapat. Sudah kosong. Barusan ada pembeli satu tadi dia bilang satu dos masker di Jawa sekarang bisa sampai Rp900 ribu,” ungkapnya ketika didatangi BeritaMimika saat itu. (Shanty)

Curi 8 Laptop Milik SMK Penerbangan, Ambo Dibekuk Polisi

Polisi menunjukan tempat masuknya pelaku melalui jendela

MIMIKA, BM

AW alias Ambo, pada Minggu (15/3) subuh sekitar pukul 04.00 Wit bersama seorang rekannya melakukan pencurian di SMK Penerbangan yang berlokasi di Jalan Budi Utomo.

Tidak tanggung-tangung, keduanya berhasil mencuri 8 buah laptop dengan berbagai merk usai membobol sekolah ini dengan cara merusaki ram atau trali jendela. Akibat kejadian ini, pihak sekolah langsung menghubungi polisi.

Usai menerima laporan, Tim Subnit II Reskrim Polsek Mimika Baru langsung bekerja ekstra mencari kedua pelaku. Berdasarkan keterangan saksi, pada Minggu siang pukul 15.30 Wit AW berhasil dibekuk di Gorong-gorong.

Kapolsek Mimika Baru melalui Kanit Reskrim, Ipda Rumthe Yongky Ateng mengatakan dari hasil olah TKP diketahui 8 unit laptop yang berhasil dicuri pelaku bermerk Toshiba, HP dan Asus.

"Mereka ada dua orang. AW kita sudah tangkap dan amankan di Polsek Mimika Baru sedangkan temanya yang berinisial P melarikan diri saat kita mau tangkap di Jalan Baru. Pelaku sedang kita lacak keberadaanya sekarang,” ungkapnya.

Rumthe membenarkan bahwa penangkapan AW berdasarkan laporan dari warga dan informasi saksi. Sementara temannya P yang kini buron, sedang ditelusuri keberadaanya oleh tim.

"8 laptop ini disiapkan di sekolah karena mau digunakan untuk UNBK tingkat SMK (hari ini). Kita berharap proses UNBK di SMK Penerbangan berjalan baik dan tidak terkendala kejadian ini,” ungkapnya. (Red)

Jika Situasi Aman, Pemda Fasilitasi Warga Kembali ke Tembagapura

Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob

MIMIKA,BM

Jika situasi dan kondisi kemananan di wilayah Distrik Tembagapura kembali normal maka Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika akan memfasilitasi warga yang dievakuasi dari Tembagapura untuk kembali ke kampung.

"Warga yang dievakuasi ke sini adalah permintaan mereka dan untuk dikembalikan juga ke kampungnya merupakan permintaan dari warga sendiri,"tutur Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob saat diwawancarai di Hotel Horison Ultima Timika, Senin (9/3)

John mengatakan, evakuasi warga ke Timika membuat mereka meninggalkan segala yang mereka miliki di kampung masing-masing seperti kebun dan ternak yang selama ini menjadi penopang kehidupan ekonomi. Oleh sebab itu, jika keamanan sudah kembali kondusif maka warga berharap pemerintah dapat memfasilitasi mereka untuk kembali.

Dijelaskan, evakuasi warga yang dilakukan terdiri atas dua kelompok yakni kelompok warga pendulang dan kelompok warga dari perkampungan di Tembagapura diantaranya Kampung Banti 1, Banti 2, Waa, Opitawak dan Kimbeli.

Berdasarkan data yang ada, jumlah penduduk asli di wilayah Distrik Tembagapura berjumlah 620 orang. Sisanya adalah masyarakat pendulang dan mereka ini setelah tiba di Timika langsung kembali ke rumah masing-masing.

Sebenarnya, kata Wabup John, masyarakat yang dievakuasi jni rata-rata mempunyai rumah sendiri di Timika dan mempunyai sanak saudara atau keluarga. Sebagain besar rumah warga ada di sekitar 32 dan ada perumahan yang dibangun pemerintah di daerah di lapangan 23.

Katanya, di wilayah 32 dan 23 diperuntukan untuk warga Banti 1, Banti 2. Dari Opitawak banyak yang ke sp2 sementara untuk warga yang dari Kampung Kimbeli banyak yang saat ini berada di SP 9, SP 12 dan Kwamki Narama.

"Mereka yang tidak punya rumah di Timika sudah ikut keluarganya, itu mereka sendiri yang minta. Semua sudah aman tidak ada persoalan lagi bahkan di pos tempat dievakusi sudah tidak ada warga lagi tapi pos tetap standby terus," ungkapnya. (Shanty)

BERITA HUKUM & KRIMINAL

Top