Adakah Ruang Untuk Anak-anak Disabilitas? Mereka Juga Ingin Meramaikan Pesparawi XIII

Anak-anak SLB Mimika saat melakukan jalan pagi bersama beberapa waktu lalu sebelum musim pandemi covid-19

MIMIKA, BM

Kabupaten Mimika memiliki salah satu jenjang pendidikan khusus yakni Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berada di simpang SP2-SP5.

Sekolah ini satu atap yang terdiri atas SD, SMP dan SMA untuk anak-anak disabilitas seperti tuna netra, tuna rungu, tuna grahita dan autis.

Berdasarkan data dapodik, jumlah keseluruhan siswa-siswi SLB Mimika ada 89 anak dan sejauh ini yang aktif mengikuti proses belajar berjumlah 70-an anak.

Setelah berdiri sejak 2015 lalu, hingga tahun 2021 satu anak dari SMA SLB akhirnya pada Tahun Ajaran 2020 kemarin berhasil lulus dari sekolah tersebut.

Lantas setelah lulus dari SMA, kemanakah anak ini akan melanjutkan hidup dan berkarir di dunia kerja, sama seperti orang normal pada umumnya?

Keterbatasan yang mereka miliki, kadang menjadi kendala bagi mereka untuk berkompetisi dalam dunia kerja. Bahkan tanpa disadari, baik pemerintah maupun swasta tidak sedikitpun melirik keberadaan mereka.

Pemerintah maupun pihak swasta jangan menutup keberadaan anak disabilitas yang telah menyelesaikan pendidikannya. Negara telah memberikan jaminan terhadap keberadaan mereka.

Menurut UU nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dalam Pasal 53 menyebutkan bahwa Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah wajib mempekerjakan paling sedikit dua persen Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja.

Selain itu, perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit satu persen penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja.

Berdasarkan undang-undang ini, maka Pemda Mimika maupun pihak swasta harus memberikan ruang lebih bagi mereka terutama satu anak yang baru menamatkan pendidikannya pada tahun lalu untuk bekerja.

Pemda Mimika bisa saja menyertakan anak ini dalam rencana perekrutan tenaga honorer pada 1 Juli 2021 nanti. Semoga hal ini bisa terwujud dan didengarkan Pemda Mimika.

Kepada BeritaMimika Kepala Sekolah SLB Mimika Sunardi, S.Pd Rabu (16/6) di ruang kerjanya membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan sejak sekolah ini berdiri satu anak telah berhasil lulus pada TA 2020 kemarin.

Ia dan para guru serta orangtua berharap pemerintah daerah maupun pihak swasta tidak melihat kekurangan yang dimiliki anak-anak SLB sebagai penghalang bagi mereka untuk berkarya di dunia kerja.

Selama ini, para guru di SLB telah sepenuhnya berupaya memberikan pendidikan yang terbaik buat mereka. Bahkan telah berupaya memfasilitasi anak-anak untuk dapat magang di perusahaan.

“Ketika mereka tamat sekolah mereka diterima kemana? Oleh karena itu, kami tidak hanya memberikan akademik tetapi juga keterampilan. Kami rindu melihat mereka bisa berkarya di dunia kerja, sama seperti lainnya," ungkapnya.

Agar mengenalkan mereka pada dunia kerja, kepala sekolah mengatakan bahwa pada Tahun Ajaran 2020 lalu, pihaknya membawa dua siswa untuk mengikuti magang ke United Tractor di Kuala Kencana.

Sayangnya, baru sebulan berjalan, program tersebut harus terhenti karena bertepatan dengan awal merebaknya kasus Covid di Mimika.

Satu dari anak tersebut adalah siswa yang telah lulus pada 2020 lalu, sementara satu lainnya merupakan adik kelasnya.

"Ketika tidak ada bekal dari sekolah lalu apa yang bisa saya andalkan selain keterampilan, karena mereka memiliki kemampuan. Jika kesempatan itu lewat begitu saja lantas mereka harus kemana jadi kita yang harus peduli dengan mereka,” ungkapnya.

Ia menuturkan bahwa anak-anak SLB di Mimika seharusnya mendapatkan 10-11 bengkel kerja namun dikarenakan keterbatasan sarana prasarana dan tenaga pendidik sehingga yang ada hanya tata boga dan design grafis.

“Kemarin anak-anak ikut lomba tingkat provinsi membuat kue bolu dan lolos seleksi provinsi tapi sayang untuk tingkat nasional belum. Anak-anak juga belajar design grafis minimal bisa mengetik program word. Mereka juga membuat aksesoris keterampilan sederhana seperti membuat taplak meja dan hias botol dari tutup botol air minum,” imbuhnya.

Kepada BeritaMimika, pihak SLB berharap anak-anak mereka juga dapat dilibatkan dan berpartisipasi dalam Pesparawi 2021 di Timika. Minimal mereka ikut terlibat tampil untuk mengisi acara.

“Kami ingin berpartisipasi dalam Pesparawi, hanya karena pandemi kami tidak tahu bagaimana. Minimal anak-anak bisa tampil mengisi acara. Kami mau memperkenalkan bukan untuk mengasihani, tetapi sebagai aktualisasi bahwa kami ada, keberadaan kami di Mimika ada,” harapnya.

Dikatakan bahwa anak-anak disabilitas secara kasat mata mungkin memiliki keterbatasan fisik akan tetapi mereka pun memiliki kemampuan asalkan diberikan ruang.

“Ketika kami tampil mungkin dapat membuka mata bahwa ternyata anak-anak yang cacat fisik ini Tuhan beri mereka kemampuan dengan suaranya menyanyi. Mereka bisa menyanyikan lagu rohani karena sudah terbiasa dengan lagu pujian," ungkapnya.

"Sebelum pandemi, kami ingin sekali berpartisipasi di Pesparawi sampai-sampai sudah siapkan kostum seragam (batik-red) tetapi karena pandemi sepertinya baju untuk anak-anak sudah tidak muat. Kerinduan kami semua anak-anak bisa tampil satu dua lagu. Mereka adalah anak-anak kita juga,” harapnya dengan nada sedih. (Elfrida)

Top