Olah Raga

Lalu M Zohri Tidak Terbendung, Sabet Emas Kedua di PON XX Papua

Lalu Muhammad Zohri atlet asal NTB bernomor punggung 195 saat memasuki finish di nomor lari 200 meter putra pada PON XX Papua yang digelar di Mimika Sport Complex, Senin (11/10/). Foto: Humas PPM/Joseph Situmorang

MIMIKA, BM

Atlet lari nasional Lalu Muhammad Zohri kembali menunjukkan kelasnya di nomor lari cepat. Pembuktian ini terlihat dengan peraihan medali emas untuk kedua kalinya di Cabang Olahraga (Cabor) Atletik PON XX Papua.

Dimana, pada nomor lari 100 meter putra, Zohri juga mendapatkan medali emas.

Kemudian, dinomor lari 200 meter putra yang digelar di Mimika Sport Complex (MSC), Senin (11/10/2021) berhasil menyabet emas untuk kedua kalinya dengan catatan waktu 21.31 detik.

Kemudian diurutan kedua ditempati Eko Rimbawan (Kalimantan Tengah) catatan waktu 21.51 detik. Sementara ketiga ditempati I Dewa Made Mudiyasa (Bali) catatan waktu 21.65 detik.

"Saya bersyukur kepada Allah SWT telah mendapat emas kembali di 200 meter dan ini merupakan suatu hal luar biasa bagi daerah. Medali ini untuk almarhum ibu dan bapak, serta masyarakat NTB," kata Zohri.

Zohri mengakui, catatan waktu masih tidak sebagus di Kejurnas. Hal ini karena kurangnya persiapan untuk nomor lari 200 meter. Ditambah program pelatihan dilakukan 2 minggu sebelum PON dan itu dilakukan hanya 1-2 kali saja.

Karenanya, waktu yang diperoleh tadi jelek. Dimana sebelumnya bisa mencapai 20 detik, tapi kali ini 21 detik.

"Kedepan, mudah-mudahan bisa menjadi terbaik untuk Indonesia," ujarnya.

Adapun atlet nomor lari 200 meter putra, yakni
1. Lalu Muhammad Zohri (NTB) catatan waktu 21.31 detik.
2. Eko Rimbawan (Kalimantan Tengah) catatan waktu 21.51 detik.
3. I Dewa Made Mudiyasa (Bali) catatan waktu 21.65 detik.
4. Gerardo Yehezkiel S (Jawa Timur) catatan waktu 21.68 detik.
5. M Bisma Diwa Abina (Jawa Timur) catatan waktu 21.87 detik.
6. Okky Setyo Utomo (Jawa Tengah) catatan waktu 21.97 detik.
7. Subur Santoso (Jawa Tengah) catatan waktu 22.36 detik
8. Izrak Udjulu (Gorontalo) diskualifikasi.
(Humas PPM/Reyno Guritno/Mujiono)

Alex Asyerem : Sopir yang Pindah Dari Cabor Taekwondo dan Lolos Final PON di Tarung Derajat



Alex Asyemrem menangis sambil memeluk pelatihnya, usai menang dari Aceh. Foto : (Humas PPM/ Elfida Sijabat)

MIMIKA, BM 

Hari keempat babak Semi Final Tarung Derajat berlangsung di Graha Eme Neme Yauware Senin (11/10) telah menyelesaikan 18 kelas tarung dan 5 kelas seni tarung.

Pada pertandingan kelas 67,1 - 70 kg putra antara tuan rumah Papua Alex Asyerem melawan Muhammad Lhadafi asal Daerah Istimewa Aceh, berhasil dimenangkan oleh Alex.

Alex sebenarnya sempat tertinggal pada ronde pertama dan kedua namun ia berhasil bangkit dan agresif mencuri poin dari lawannya, Muhammad Lhadafi. Alex pun menang dengan skor tipis.

Kebahagiaan Alex Asyerem bersama pelatih dan rekan-rekan lain mereka curahkan sepenuhnya dalam keheningan dan air mata ketika berdoa bersama di ruang belakang venue Tarung Derajat.

Kepada media, Alex mengungkapkan bahwa kemenangannya adalah mujizat dari Tuhan karena sebelum bertarung dia merasakan kekhawatiran berhadapan dengan Muhammad.

“Pas masuk memang ada khawatir sedikit karena beberapa kali lawan punya pukulan masuk ke muka saya, tapi itu jadi semangat untuk saya agar di ronde ketiga harus balas dia. Saya cukup takut juga tapi puji Tuhan saya bisa menang,” katanya.

“Saya berterimakasih untuk Tuhan Yesus karena Tuhan berikan saya kekuatan dan kesehatan sehingga dari awal main hingga sampai selesai dengan kekuatan yang baik, tidak ada cedera semua itu karena Tuhan Yesus,” ungkapnya.

Ia menuturkan PON XX Papua merupakan PON pertamanya bertanding setelah sebelumnya mengikuti kejuaraan nasional dari cabang olahraga Tae Kwon Do.

“Dua tahun sudah Trainning Centre (TC) di Jayapura. Basic saya Tae Kwon Do lalu pindah ke Tarung Derajat karena di Tae kwon Do semua kelas full jadi saya ke Tarung Derajat di kelas ini,” ungkapnya.

Alex Asyerem (25) yang bekerja sehari-hari sebagai sopir berasal dari Biak dan khusus untuk PON XX Papua ia bergabung dengan Jayapura.

“Menariknya di tarung derajat adalah pukulan gerakan tinju dipadu dengan tendangan kalau Tae Kwon Do hanya kaki saja. Ini merupakan PON pertama kali. Saya berusaha menjadi yang terbaik untuk bisa meraih emas. Lima teman sudah lolos ke final. Saya akan berusaha di final,” ucapnya.

Di tempat yang sama, pelatih Tarung Derajat Papua, Manuel Maker mengatakan setelah pertandingan tadi banyak yang harua dievaluasi.

“Kalau secara teknik kita kekurangan tetapi modal semangat dari atletnya. Sempat tertinggal mangkanya itu mujizat dari Tuhan. Evaluasi memang sangat banyak karena pertolongan Tuhan Yesus kita bisa menang,” ujarnya.

Dikatakan, ke depan Alex Asyerem dapat menjadi atlet yang diperhitungkan apabila ia fokus berlatih di kelas ini.

“Tapi dia ini masih baru, kendala kita ini tidak pernah try out jadi penampilan kita seperti ini saja. Kita sendiri. Secara teknik memang kita kurang jadi sering dapat pelanggaran dan teguran karena pelatih hanya satu dan dua asisten jadi kita memang kesulitan. Hanya saja sejak berjalan, memang kita tidak mulus ada banyak kisah tapi kita tidak bisa cerita,” ungkapnya.

Karena kisah itulah ia mengatakan para atlet setiap kali selesai tampil selalu menangis. Mereka menangis bukan karena cenggeng namun bahagia dan terharu atas pencapaian mereka selama ini. Mereka tidak pernah menyangka bisa bertahan hingga saat ini di PON XX Papua.

“Kita biasa dibantu oleh perguruan kalau ada kekurangan kita sharing ke sana, tetapi kalau kesulitan teknik harus ada yang betul-betul melatih kita di lapangan tapi terus terang ini tidak ada,” imbuhnya.

Bahkan untuk seni gerak pun kontingen Papua tidak memiliki pelatih khusus. Selama ini mereka hanya berlatih mandiri.

“Kita sendiri jadi kadang-kadang atlet selesai tampil menangis karena terharu, yang tadinya kita ragu tidak bisa tetapi berjalan baik. Puji Tuhan, DIA menyertai kita selama ini. Inilah kondisi kita di lapangan dan kalau dikisahkan panjang sekali. Tentunya sudah di final Alex Asyemrem sudah harus siap,” tukasnya. (Humas PPM/Elfrida Sijabat dan Ronald Renwarin)

 

 

Tambah 2 Emas, Papua Posisi Teratas Aeromodelling

Team Atlet Cabor Aeromodeling Papua saat mengontrol pesawat miniatur di venue aeromodelling SP-5 Timika, Kamis (7/10/2021). Foto: Humas PPM/Lukas Tandilimbong

MIMIKA, BM 

Atlet Aeromodelling, Sefnat Marian (21) dan Nixon Nikolaus Nilla Mahuse (43) kembali sumbang 2 medali emas untuk Provinsi Papua dari cabang olahraga Aeromodelling.

Sefnat yang turun di kelas F3J INA berhasil mengumpulkan total 1000 poin mengalahkan lawan-lawannya.

"Saya sangat senang mendapat medali emas, dan tentunya dukungan orang tua sehingga saya bisa mengikuti olahraga Aeromodelling ini," ungkapnya saat ditemui di venue Aeromodelling SP-1 Timika, Minggu (10/10).

Sementara itu, Nixon Nikolaus Nilla Mahuse yang turun di kelas F3R INA juga berhasil menyumbangkan medali emas untuk Papua setelah berhasil memperoleh skor akhir 315,4 dari total 5 ronde yang dipertandingkan.

Dirinya berharap agar pemerintah Provinsi Papua kedepannya bisa mengadakan perlombaan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) sehingga bisa melahirkan atlet-atlet Papua yang mempunyai bakat khususnya di cabor Aeromodelling.

Total perolehan medali yang dikumpulkan Tim Aeromodelling Papua yakni 4 emas, 1 perak dan 1 perunggu, dan saat ini masih menduduki posisi teratas perolehan emas cabor Aeromodelling di PON XX Papua.

Sementara itu, Nanik Novianti yang memperkuat tim Aeromodelling Papua di PON XX Papua berhasil menyumbangkan 3 medali diantaranya, 2 medali emas di kelas F1A Putri dan F1H open dan 1 medali perak di kelas Outdoor Hand Launch Glider (OHLG) putri, sedangkan rekannya Zaenal Widyanto menyumbangkan 1 medali perunggu di kelas OHLG putra. (Humas PPM/ Elisabeth Heatubun dan Misba)

 

Top