Puluhan Paguyuban Bertemu PB PON XX Klaster Mimika! Apa Yang Mereka Bicarakan?


Pertemuan dilangsungkan di Grand Tembaga Hotel

MIMIKA, BM

Puluhan paguyuban yang ada di Kabupaten Mimika menghadiri pertemuan dengan Ketua Harian PB PON XX Klaster Mimika, Marthen Paiding, didamping Ketua Koordinator Akomodasi Willem Naa dan Lopianus Fuakubun, Sabtu (18/9), di Grand Tembaga Hotel.

Paguyuban yang hadir diantaranya Lemasa, Lemasko, Ikatan Keluarga Flobamora (IKF), Kerukunan Sorong, IKKS, FPK, Kerukunan Bali, Kerukunan Keluarga NTB, KKSS dan KKBSU.

Marthen Paiding pada pertemuan ini berharap masyarakat berpartisipasi dengan cara memasang umbul-umbul dan menjaga kebersihan lingkungan.

“Itu sesuai instruksi bupati, bagaimana supaya tamu kita yang datang merasa senang dan masyarakat pun tahu ada PON XX dan bisa menikmati seperti apa PON XX itu dilakukan," ujarnya.

Ia mengatakan, tiga pekan sebelumnya Mimika dikunjungi oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Zainudin Amali.

Menpora Zainudin yang datang dengan rombongan kemenpora kemudian melakukan pertemuan dengan PB PON XX Papua Cluster Mimika guna mengecek dan melihat sejauh mana kesiapan Mimika sebagai salah satu tuan rumah penyelenggara PON.

"Waktu itu menteri mengizinkan ada penonton tetapi sampai saat ini kita belum diberikan informasi berapa kuota orang yang bisa menonton. Karena kita sementara dievaluasi sejauh mana melakukan vaksin ke masyarakat. Persyaratannya jika sudah 70 persen maka ada kebijakannya masyarakat boleh menonton,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa hal utama yang telah menjadi kebijakan umum selama pelaksanaan PON adalah bahwa seluruh panitia, atlet, wasit dan siapapun yang terlibat dalam PON XX termasuk penonton harus divaksin untuk menghindari adanya cluster baru.

“Kalau atlet datang, paguyuban tidak boleh bertemu selama dalam pertandingan. Mereka akan dibatasi pergerakannya di hotel. Atlet datang mulai dari bandara, hotel, ke tempat pertandingan sampai kembali ke hotel dalam pengawasan ketat. Kalau PON XX sudah selesai, paguyuban atau keluarga boleh bebas bertemu. Ini adalah ketentuan yang perlu kita ketahui,” jelasnya.

Pada kesempatan ini, Marthen Paiding juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kehadiran para ketua kerukunan atau paguyuban yang telah hadir dan selama ini terus mendukung kesiapan Mimika dalam menghadapi PON XX Papua.

Sementara itu Ketua Koordinator Akomodasi PB PON XX Klaster Mimika, Willem Naa, juga menyampaikan perkembangan terakhir kehadiran tamu di Mimika.

“Diperkirakan dari 4000 sudah 3000-an tiba di Timika. Yang kita sedang siapkan adalah hotel berbintang, melati dan non hotel. Non hotel itu seperti sentra pendidikan, brigif, asrama TNI Polri. Ini juga di rehab, diperbaiki dan dilengkapi sesuai dengan prosedural PB PON,” ungkapnya.

“Kami undang bapak ibu agar bisa bantu kita, tolong lengkapi. Kalau pertandingan (PON-red) selesai para kontingen sudah harus keluar dari tempat akomodasi, perwakilan dari provinsi disini jika ada rumah yang kosong segera lapor kepada kami untuk hotel non transit, untuk para tamu yang masih tinggal tapi sudah selesai pertandingan,” ucapnya.

Willem Naa juga meminta tiap kerukunan atau paguyuban agar senantiasa mengajak masyarakatnya agar bersama dapat menjaga kebersihan lingkungan masing-masing.

“Kesan pertama tamu yang datang adalah kebersihan kota Timika. Ini harus dijaga supaya tamu yang datang melihat Mimika luar biasa. Bandara airport berstandar internasional, itu kebanggaan kita juga mari kita sama-sama menjaga harga diri dan nama baik Mimika,” tandasnya.

Dikatakan tamu yang berdatangan dari seluruh Indonesia akan sangat berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat.

“Semua sudah kami siapkan, tinggal non hotel transit. Kalau ada rumah kosong atau kontrakan cepat laporkan sehingga kami bisa daftarkan. Kita tetap semangat bersama-sama bertanggung jawab,” harapnya.

Pada pertemuan ini, seluruh paguyuban menyatakan dukungannya kepada pemerintah daerah. Mereka berkomitmen untuk bersama menjaga kebersihan dan keamanan Mimika.

Wakil Ketua Lemasa, Karel Kum, mengutarakan bahwa suku Amungme memberikan dukungan sepenuhnya agar PON XX Papua dapat berjalan dengan lancar.

“Sebenarnya PON ini hadir untuk masyarakat cuman kesalnya harus vaksin. Ini meramaikan pembangunan Mimika dan untuk pemasukan atau pendapatan masyarakat Mimika tapi salah satu syarat yang dikeluarkan masyarakat harus di vaksin, jika tidak maka tidak boleh nonton. Ini buat kecewa masyarakat," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut Marthen Paiding mengatakan masyarakat memang harus diberi ruang untuk menonton maupun menjadi bagian dengan menjadi relawan.

“Khusus masyarakat Amungme dan Kamoro dalam perekrutan ada 900 orang dari yang mendaftar keseluruhan sekitar 7000. Ada kebijakan yang disampaikan pemerintah yakni harus vaksin, kami buka gerai silahkan. Kalau kurang maksimal kami buka dua tiga hari lagi dengan harapan masyarakat menjaga diri sendiri tetapi juga menjaga supaya PON dapat berjalan dengan baik” jawabnya.

Dimasa pandemi ini, hal tersebut harus dilakukan agar tidak terjadi suatu permasalahan dalam penerapan protokol kesehatan.

“Penonton yang tidak bisa menonton bisa melihat secara langsung seperti basket, atletik, futsal, tarung derajat dan judo. Itu disiarkan langsung dari Mimika sehingga seluruh dunia dan internasional bisa menyaksikan,” tukasnya.

Marthen mengatakan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah berlangsungnya PON di Indonesia, PON XX Papua akan menggunakan teknologi barcode.

“Orang yang masuk discan jika nama ada masuk kalau tidak keluar. Kalau tidak ada akses masuk, tidak boleh masuk. Begitu ketatnya nanti. Atlet yang mau dapat makan harus cek nama, mau masuk pertandingan juga cek nama baru dapat masuk. Mulai masuk dari bandara sudah seperti itu. Teknologi itu menjadi kebanggan tersendiri untuk Papua,” pungkasnya. (Elfrida)

Top