Stok Air di Depot Bumdes Belum Diisi, Kepala Kampung Nawaripi Menduga Pengusaha Tengki Telah Dipengaruhi Aspada

Foto bersama Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun bersama salah satu anggota DPRD Mimika, Karel Gwijangge yang datang membeli air untuk masyarakatnya di Depot Air Bumdes Nawaripi, Kamis (20/10/2022)

MIMIKA, BM

Penetapan harga jual air bersih isi ulang menjadi Rp6 ribu oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika ternyata telah menimbulkan persoalan yang kian meluas.

Selain aksi mogok penjualan oleh sejumlah depot air dari Asosiasi Pengusaha Depot Air (Aspada), kini pengusaha tengki air pun terlihat seperti melakukan hal serupa.

Jika hal ini terus berlangsung dalam kurun waktu yang lama maka sangat berdampak kepada masyarakat.

Salah satu keluhan yang diterima beritamimika datang dari Kampung Nawaripi, yang mana sejak kemarin mobil tengki air minum sama sekali tidak mengantar air untuk keperluan Depot Air Bumdes Nawaripi.

"Kami sudah telepon pihak pengusaha tengki air sumber mata air bersih itu untuk mengantar air. Tapi ternyata kemarin sore sampai malam ditelpon-telpon, dia tidak angkat HP lagi," keluh Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun via telpon, Kamis (20/10/2022) pagi.

Padahal, lanjut Norman, pihaknya telah mendatangkan sekitar 500 galon kosong untuk membantu melayani kebutuhan masyarakat Timika di tengah aksi mogok yang dilakukan Aspada.

Hal itu lantas membuatnya menduga bahwa pihak pengusaha tengki air pun telah dipengaruhi oleh Aspada untuk bersama-sama menjalankan aksi mogok penjualan air.

"Jadi saya duga kuat ini dia (pengusaha tengki air) sudah dipengaruhi oleh pihak Aspada untuk menghentikan pelayanan air ke Bumdes Nawaripi biar semua air di Timika sini mati, tidak ada aktivitas, dan masyarakat bisa komplain ke pemerintah daerah," ujarnya.

Sebagai Kepala Kampung yang memiliki niat baik untuk membantu masyarakatnya, Norman sangat menyayangkan bilamana apa yang ia duga benar-benar terjadi.

Sebab, menurutnya para pengusaha tengki air bersih semestinya tidak boleh mengikuti ajakan Aspada untuk melakukan aksi mogok.

"Hal seperti ini kan tidak boleh karena air merupakan kebutuhan utama. Jadi ketika pihak pengusaha air tanki ini mau mendengar dari ASPADA berarti itu sudah suatu kesalahan. Karena kan dia tidak terlibat di situ. Jadi dia harus tetap memperhatikan pelayanan kepada pelanggan, apalagi dalam kondisi situasi seperti ini," jelasnya.

Norman mengungkapkan bahwa sejak sore kemarin (19/10), depot air milik Bumdes Nawaripi ramai dipenuhi masyarakat yang datang membawa sejumlah galon. Sayangnya, stok air belum juga diantar hingga detik ini.

"Ini dari kemarin sore sampai malam orang bulak-balik cari air di sini tapi stok air habis. Tadi pagi orang datang bawa puluhan galon ratusan galon air tapi air habis. Kita mau ambil dari mana. Kami belum punya mobil tengki," tuturnya.

Atas kejadian ini, Norman berharap agar Pemerintah Daerah melalui dinas terkait dapat segera mengambil tindakan untuk mengatasi persoalan air bersih di Timika.

"Ini bisa membuat warga timika jadi marah kalau begini. Bisa menimbulkan suatu kemarahan yang mereka (Aspada) ciptakan untuk warga bisa 'hantam' Pemerintah Daerah. Jadi tolong Disperindag, Satpol PP dan instansi terkait itu saya mohon supaya mereka fungsikan kewenangan mereka. Pemerintah tidak boleh kalah dari cara-cara yang dilakukan oknum-oknum tertentu yang mengatasnamakan organisasi untuk itu," ucapnya.

"Kasihan masyarakat daerah ini. Kita yang punya penghasilan baik mungkin tidak apa-apa beli air Rp10 ribu, tapi kasihan masyarakat OAP yang setengah mati pergi ambil sayur baru datang jual, baru dia beli beras belum lagi beli air yang har 10 ribu begitu. Jadi ini perlu campur tangan pemerintah daerah untuk selesai persoalan air ini," pungkasnya. (Endi Langobelen)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top