Budaya

BPD-KKMU Mimika Periode 2020-2025 Dilantik, Mereka Diminta Bantu Pemerintah Berikan Kontribusi untuk Daerah

Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob menyerahkan bendera Pataka kepada Ketua BPD-KKMU,Marjan Tusang

MIMIKA, BM

Badan Pengurus Daerah (BPD) Kerukunan Keluarga Maluku Utara (KKMU) Kabupaten Mimika Periode 2020-2025 yang baru dilantik Kamis (12/11) di Gedung Tongkonan diminta berperan membantu Pemerintah Daerah dalam memberikan kontribusi untuk daerah.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum BPW KKMU Provinsi Papua, Dr.H. Muhdi. Mi Ibrahim SE.,MM dalam sambutan seusai melantik pengurus baru.

"Pengurus yang sudah dilantik jangan kalian membuat beban bagi pemerintah daerah, tapi harus bantu pemerintah daerah dan memberikan kontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," pesannya.

Diharapkan badan pengurus yang baru dilantik menjadikan momentum ini untuk mempererat hubungan dengan semua komponen masyarakat dalam segala aspek, terutama dalam menjaga toleransi antar seluruh umat agama.

"Hampir semua paguyuban ada di Papua, namun paguyuban Maluku Utara itu berbeda karena ada historisnya. Saya mengajak warga Maluku Utara di Papua khususnya Mimika untuk tetap menjaga keharmonisan hidup, karena kita samua adalah bersaudara. Mari kita jaga hubungan toleransi dengan semua paguyuban yang ada disini," harapnya.

Wakil Bupati Kabupaten Mimika, Johanes Rettob menyampaikan dengan pelantikan kepengurusan baru ini maka diharapkan seluruh warga KKMU dapat bekerja sama dan menjaga solidaritas serta berkolaborasi dengan seluruh masyarakat di Mimika untuk mensejahterakan kabupaten ini.

"Kita datang tinggal di Tmika dan hidup bersama dengan masyarakat dari paguyuban lainnya terutama dua suka besar pemilik negeri ini yakni orang Amungme dan Kamoro, maka itu kita harus terus menjaga dan melakukan koordinasi untuk meningkatkan kerjasama dengan semua," harap Wabup.

Wabup juga berharap, kerukunan Maluku Utara dapat membangun komunikasi yang lebih baik dengan pemerintah daerah serta warga lainnya sehingga visi dan misi paguyuban ini dapat tercapai demi pembanguan Mimika yang lebih baik.

Marjan Tusang, Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Kerukunan Keluarga Maluku Utara (KKMU) Kabupaten Mimika Periode 2020-2025,  mengatakan ia dan badan pengurusnya akan melaksanakan apa yang telah menjadi amanah dan berkomitmen mengedepankan "Marimoi Ngone Futuru" yaitu bersatu kita teguh, bersatu kita kuat.

"Paguyuban adalah organisasi masyarakat dan kami akan hormat dan taat pada adat istiadat yang ada di Kabupaten Mimika. KKMU Mimika akan menjadi mitra dengan semua dan senantiasa menjaga kerukunan karena KKMU adalah bagian dari warga Papua khususnya sebagai warga Mimika," ungkapnya.

Marjan juga menjelaskan bahwa, KKMU wilayah Mimika telah berdiri sejak tahun 2004 dan badan pengurus saat ini merupakan generasi ke empat.

"KKMU ini memiliki 7 pilar dan dengan jumlah populasi warga KKMU di Mimika sekitar 3000 jiwa. Kami akan terus menjaga hubungan baik dengan seluruh masyarakat Mimika, paguyuban-paguyuban, TNI-Polri dan pemda untuk terus memelihara persatuan dan kesatuan yang aman dan damai," tegasnya.

Pelantikan Marjan Tusang sebagai Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Kerukunan Keluarga Maluku Utara (KKMU) Kabupaten Mimika Periode 2020-2025 bersama badan keanggotaanya, mendasari SK nomor 04/a/KPTS/IX/2020/KMU tentang Pengesahan Pengurus Daerah KKMU Kabupaten Mimika Periode 2020-2025. (Ignas)

Lirik Lagu 'Home' Mewakili Curhatan Masyarakat 3 Kampung yang Rindu Rumah Mereka

Warga 3 kampung foto bersama Kuasa hukum FPHS Haris Azhar usai menyampaikan curhatan mereka 

MIMIKA, BM

'Home Sweet Home' adalah ungkapan yang sering digunakan banyak orang untuk mewakili rasa rindu akan rumah dan kampung halaman.

Rumah merupakan tempat terakhir yang paling dirindukan tiap orang karena di sana semuanya berawal. Di rumah selalu ada cinta dan senyum, tawa dan keceriaan, kebersamaan dan kenangan, walau semuanya mungkin dilalui dengan begitu sederhana.

Mimika adalag rumah bagi semua orang namun untuk masyarakat yang tinggal di pedalaman dan pesisir, di sanalah merupakan rumah mereka yang sesungguhnya.

'Let me go home, I'm just too far, From where you are, I wanna come home' yang merupakan penggalan bait dari lagu Home yang dinyanyikan Michael Buble merupakan ungkapan kerinduan masyarakat tiga kampung yang kini berada di Mimika terhadap kampung halaman mereka di Distrik Tembagapura.

Selama tujuh bulan diungsikan ke Timika karena faktor keamanan yang mereka alami, membuat rasa rindu akan kampung halaman tidak lagi terbendung. Bagaimanapun keadaanya nanti, mereka minta segera dipulangkan.

Curhatan ini disampaikan masyarakat Kampung Banti dan Opitawak melalui tokoh perempuan, Ibu Marta Kelanangame dan kepala suku Banti Kolinus Beanal kepada kuasa hukum Forum Pemilik Hak Sulung (F PHS), Haris Hazar.

Marta Kelanangame saat bertemu kuasa hukum F PHS menjelaskan bagaimana awal mula kisah mereka diturunkan ke Timika dan bagaimana kerasnya menghadapi kehidupan sehari-hari di sini.

Dikisahkan, mereka diungksikan karena adanya kontak tembak antara pihak TNI Polri dan TPN-OPM.

Saat itu banyak masyarakat yang menginginkan untuk dievakuasi ke sporthall di Tembagapura, sehingga jika situasi sudah kembali kondusif bisa langsung dikembalikan ke rumah, namun mereka dievakuasi ke Timika.

Setibanya di Timika, masyarakat yang dievakuasi langsung diantar ke lokasi dan tempat dimana keluarga mereka berada.

Sayangnya, apa yang disampaikan dan dijanjikan kepada mereka berbeda dengan kenyataan yang mereka alami. Banyak warga merasa diabaikan. Bahkan untuk mencari tempat tingga saja mereka kesulitan.

Wanita paruh baya itu mengungkapkan, selama kurang lebih 7 bulan, ada beberapa warga yang meninggal karena tidak bisa beradaptasi dengan iklim di Mimika, bahkan untuk makan saja, mereka kadang begitu kesulitan.

"Sejak dievakuasi ke Timika, kami hidup sangat susah. Banyak hal yang kami rasakan dan alami, kami rasakan sendiri," kata Martha, di honai F PHS jalan C Heatubun, Senin (26/10) saat menceritakan kisah mereka selama dievakuasi awal tahun 2020.

Martha mengatakan hidup di Mimika bebanya begitu berat karena semua menggunakan uang. Sedangkan masyarakat yang dievakuasi tidak memiliki cukup uang untuk sekedar memenuhi kebutuhan mereka.

Berbeda halnya dengan kehidupan di kampung, walau tidak mewah dan penuh kesederhanaan, namun segala sesuatu sudah ada. Mereka tinggal megambilnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Ia meminta kuasa hukum F PHS agar membantu dan mengupayakan caranya agar memulangkan mereka ke kampung halaman.

"Kami cuma minta pulang ke rumah, kami tidak inginkan apa-apa," kata Martha sambil menyeka air mata dipipinya.

Sementara itu kepala suku Banti Kolinus Beanal menegaskan, masyarakat meminta sebelum hari Natal 2020, mereka sudah kembali ke kampung halaman, sebab ini merupakan kerinduan mereka.

"Kami semua mau sebelum desember kami sudah pulang ke kampung, itu saja permintaan saya mewakili warga," kata Kolinus, Senin (26/10).

Menanggapi keluhan masyarakat, Kuasa hukum F PHS, Haris Azhar mengungkapkan, perwakilan masyarakat dan F PHS beserta kuasa hukum akan bertemu untuk membicarakan semua hal terkait rencana memulangkan masyarakat.

"Nanti kita semua bertemu lagi secara bersama-sama untuk bicara  masalah ini, apapun halangan tetap kita harus hadapi," tegas Haris.

Terkait stabilitas keamanan di wilayah Distrik Tembagapura, khususnya kampung masyarakat, Haris menegaskan jangan lagi ada alasan yang membuat masyarakat selalu menjadi korban.

Masalah stabilitas keamanan merupakan menjadi tanggung jawab TNI Polri, untuk itu negara harus menjamin rasa aman kepada warga negara.

"Setiap kejadian di beberapa daerah di Papua, masyarakat yang menjadi korban, dan ini menjadi tanggung jawab pihak keamanan," kata Haris. (Rafael)

Peringatan HSN Ke-V di Mimika Dirayakan Sederhana

Perayaan Hari Santri dilakukan di gedung Muslimat NU

MIMIKA, BM

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Mimika tahun ini dilaksanakan dalam suasana sederhana, kebersamaan dan penuh kekeluargaan.

Peringatan hanya dirayakan dengan melakukan upacara, menampilkan atraksi pencak silat, panahan serta lomba lainnya secara virtual yang dilaksanakan oleh Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kabupaten Mimika di Gedung Muslimat NU, Kamis (22/10)

Perayaan Hari Santri Nasional ke-V tahun 2020 ini mengusung tema "Santri Sehat Indonesia Kuat" diikuti oleh ratusan peserta dari 40 sekolah yang ada di Mimika.

Acara yang diawali dengan upacara, pembacaan sholawat, penampilan tarian dan pemotongan tumpeng ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang dilakukan dengan mengadakan camping bersama selama beberapa hari.

“Memang sebelumnya ada perlombaan tetapi itu kita lakukan secara online atau virtual karena pandemi covid-19,” tutur Ketua PCNU Kabupaten Mimika, Gus Imam Mawardi.

Imam mengatakan, meski perayaan Hari Santri di Mimika tahun ini sangat berbeda, namun itu tidak mengurangi rasa semangat dan syukur para santri atas perjuangan para ulama untuk Kemerdekaan Indonesia.

Pesannya, sebagai santriwan dan santriwati serta mahasantri tentu harus memiliki rasa bangga dan bagaimana menjalankan dan meneruskan apa yang sudah diraih para ulama.

Perjuangan tersebut harus diteruskan dengan menjaga silaturahmi serta bergandengan tangan dengan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 dengan tetap mematuki protokol kesehatan yakni 3M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak).

Dan paling utama yakni memperbanyak sholawat agar virus Covid-19 yang saat ini melanda negeri ini cepat berlalu, karena menurutnya dengan memperbanyak sholawat, maka bahaya termasuk penyakit akan dijauhkan.

“Intinya kita semua berharap dijauhkan dari bahaya, penyakit karena dengan berdoa kita semuanya akan diberkati Allah,” ujarnya.

Ia juga berpesan agar para santri selalu memiliki tujuan dan masa depan yang baik, mensyiarkan ilmu agama, menghilangkan kebodohan dan mencintai perdamaian. (Shanty)

Top