Uskup Bernardus Lantik Badan Pengurus Kerahiman Ilahi di Timika, Serukan Perdamaian dan Pertobatan
Tangkapan layar Uskup Bernardus saat memberikan berkat perutusan kepada Badan Pengurus Kerahiman Ilahi di KeuskupannTimika
MIMIKA, BM
Yang Mulia Uskup Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA melantik Badan Pengurus Kerahiman Ilahi di Keuskupan Timika di Gereja Katedral Tiga Raja Timika pada Misa Minggu Paskah II (11/4/2026) yang juga dikhususkan untuk Devosi kepada Kerahiman Ilahi.
Adapun Badan Pengurus Kerahiman Ilahi untuk periode 2026-2029 ini tidak hanya untuk Badan Pengurus Keuskupan Timika saja tetapi juga untuk Paroki Santa Sisilia SP2, Komunitas Kerahiman Ilahi Papua di Keuskupan Timika, Pengurus Kerahiman Ilahi Papua wilayah paroki dan stasi SP2, SP3, SP5, SP7, SP9, SP13 dan Kali Kabur.
Selain itu juga, Badan Pengurus Paroki Mapurujaya, wilayah dekenat Paniai, Teluk Cenderawasih, Moni Puncak, wilayah Paroki Maria Bintang Laut Kokonao dan Paroki Santo Stefanus Sempan.
Dalam homilinya, Uskup Bernardus menyampaikan tiga hal kepada umat sebagai bahan perenungan dari ketamakan dan kerakusan serta menyerukan perdamaian di Tanah Papua, Indonesia dan dunia.
Kerahiman Ilahi adalah rahmat yang diberikan kepada orang beriman untuk datang kepada Tuhan yang penuh kerahiman dan penuh belas kasih.
“Dari bacaan Kisah Para Rasul menjadi semangat spiritualitas komunio/persekutuan. Segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Inilah spiritualitas hidup komunitas, hidup komunio, hidup gereja. Segala sesuatu yang kita miliki adalah milik Tuhan,” katanya.
Lanjutnya, Santo Fransiskus Asisi dalam pengalamannya dan pergumulannya kemudian melahirkan semangat kemiskinan bagi para pengikutnya sampai hari ini.
“Karena dia sadar bahwa semua yang dimiliki dan orang tuanya miliki adalah milik Tuhan. Tuhanlah pemilik utama dari semua yang ada baik materi maupun non material,” imbuhnya.
Oleh karena itu, Yang Mulia Uskup Bernardus menekankan bahwa apapun yang dimiliki oleh manusia baik kekayaan materil, spiritual, pengetahuan atau kebersamaan berasal dari Tuhan sebagai pemilik utama.
Maka, umat diminta untuk tidak menjadikan itu sebagai posesif, milik yang absolut menjadi egois dengan memiliki segala yang Tuhan berikan untuk diri sendiri namun berbagi dengan mereka yang membutuhkan, berkekurangan, miskin dan tidak memiliki apa-apa.
“Bagi kita orang Kristen, spiritualitas atau nilai solidaritas satu sama lain adalah wajib hukumnya bagi pengikut Kristus. Kalau orang Kristen yang rakus, tamak, egois dan kikir itu bukan orang Kristen yang sejati tetapi abal-abalan atau tiruan,” tandasnya.
Ia menuturkan banyak orang yang memiliki banyak gelar namun hanya untuk dirinya sendiri.
“Banyak anak-anak terlantar, anak bodoh yang tidak sekolah tapi banyak orang Katolik yang banyak gelar hanya untuk kebanggaannya sendiri saja tapi tidak berbagi, tidak dapat memberikan ilmu yang didapat itu kepada yang membutuhkan,” tukasnya.
Menurutnya, kekayaan materi sudah menjadi persoalan krusial dalam situasi politik sosial saat ini apalagi di Papua dan Indonesia.
“Banyak orang kejar kekayaan material uang dengan sebesar-besarnya sehingga banyak hutan dibabat habis hanya untuk kepentingan sejumlah orang,” ungkapnya.
“Satu dua orang yang menguasai negara ini, punya perusahaan dimana-mana, punya anak perusahaan sampai puluhan bahkan ratusan hanya beberapa orang itu saja, orang kaya yang rakus di Indonesia ini. Pemimpin yang merasa menciptakan semua ini,” imbuhnya.
Dikatakan kekayaan alam adalah milik Allah yang diberikan kepada kita. Di Papua ini alam yang kaya bukan untuk diri sendiri dan orang Papua sudah berbagi untuk Indonesia.
“Tapi, teman-teman dari luar datang rakus disini. Rakus dan lupa diri terhadap apa yang ada di Papua ini. Sudah datang menikmati Papua lalu lupa diri dan tidak berbagi lagi. Tamak dan rakus lalu buat kekerasan lagi,” sesalnya.
Melalui Kerahiman Ilahi, Yang Mulia Mgr. Uskup Bernardus mengajak umat untuk bertobat.
“Tanah Papua menyediakan semua tapi bukan untuk rakus kemudian mulai untuk diri sendiri lalu balik menghina orang lain lalu menggunakan itu untuk tidak lagi memperhatikan saudara-saudara yang kekurangan yang ada di tanah ini,” ucapnya.
“Apalagi kita saudara-saudara Kamoro Amungme. Anak-anak Kamoro banyak yang di jalan-jalan minta-minta. Sudah dari sana datang kosong lalu disini isi banyak lalu tidak buat apa-apa kepada mereka,” sambungnya.
Hal ini dikatakan menjadi pekerjaan rumah (PR) untuk harus mau berbagi seperti Para Rasul.
“Kalau mendapat kekayaan yang ada di bagi. Emas Freeport ini dibagi untuk kita, kita berbagi lagi untuk yang berkekurangan. Berbagi lagi untuk mereka yang tidak punya,” katanya.
“Banyak sekali pernyataan teman-teman kita di Papua ini. Banyak teman-teman datang dari luar setelah dapat lalu lupa diri lalu jadi egois bahkan jadi penjahat di atas tanah ini. Sudah datang tangan kosong, dapat banyak disini lalu mulai buat diri jadi penjahat lagi,” tegasnya.
Tanah Papua dikatakan adalah ciptaan Tuhan untuk siapa saja yang datang, semua kekayaan ini diberikan untuk manusia dapat miliki bersama. Dibagi menurut hukum yang ada bukan korupsi atau rakus mengambilnya lalu menginjak-injak orang diatas tanah ini.
“Kedua, harta sejati surgawi adalah Kristus sendiri. Harta sejati adalah iman yang dikatakan oleh Surat Rasul Petrus tadi. Harta sejati adalah kasih yang kita bagikan. Berbuat kasih satu sama lain, berbuat cinta satu sama lain, mengimani Kristus dengan radikal, hidup berbagi secara radikal dengan berbagai cara. Mengantar sesama yang lain untuk mendapatkan harta sejati yaitu Yesus Kristus,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa emas sejati adalah Yesus sendiri yang ada sukacita abadi, kemuliaan kekal dan itulah yang dituju.
“Emas yang ada disini, Freeport apapun yang ada. Kekayaan di tanah Papua ini adalah sarana untuk kita bukan tujuan untuk baku rebut, baku bunuh, rekayasa,” tuturnya.
“Di rekayasa oleh kelompok kapitalis yang rakus, tamak, ciptakan kekerasan lalu bilang masyarakat yang buat kekerasan. Bilang TPNPB padahal diri sendiri karena rakus melakukan itu karena ada emas disini, ada perusahaan-perusahaan demi kepentingan mereka,” lanjutnya.
Oleh karena itu, Yang Mulia mengajak umat untuk berdoa semoga Kerahiman Ilahi menyadarkan dan mentobatkan orang-orang yang rakus, eksploitasi sumber daya alam di Papua, menciptakan kekerasan di Papua untuk kepentingannya.
“Supaya berakhir karena itu teman-teman kelompok Kerahiman baik yang dari paroki-paroki maupun Papua berdoa supaya ada damai di Tanah Papua, mengakhiri konflik di Tanah Papua, karena konflik dan eksploitasi sumber daya alam di Papua adalah satu kesatuan,” katanya.
Ditambahkannya, kekayaan alam Papua menyebabkan konflik berkepanjangan karena banyak orang yang bermain demi kepentingan, rakus hanya datang mengambil semuanya lalu menciptakan konflik, meninggalkan masyarakat kecil menjadi korban. Para pengungsian internal di Tanah Papua ini sudah mencapai ribuan lebih.
“Kelompok Kerahiman Ilahi semoga anda terus berdoa sebagaimana Paus Leo XIV mengajak kita semua untuk berdoa untuk perdamaian dunia,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin dalam berita Vatikan mengumumkan kepada seluruh umat Katolik di dunia bersama dengan Paus Leo XIV berdoa bersama untuk perdamaian baik di Tanah Papua, Indonesia dan dunia.
“Karena demi kekayaan Amerika membabat habis Iran karena minyak di Timur Tengah. Begitu juga di Papua ini hanya karena kekayaan, ketamakan kerakusan manusia hanya materi lalu menciptakan konflik dan senjata, peperangan, mengorbankan banyak orang,” ujarnya.
Paus mengajak umat untuk banyak berdoa bagi perdamaian, tidak menggunakan senjata untuk menyelesaikannya tapi dengan jalan dialog, cinta kasih dan jalan kemanusiaan.
“Wujud utama adalah perdamaian di Tanah Papua dan seluruh dunia. Berdoa agar semua yang rakus, tamak, kelompok penjahat yang hanya mata duitan ini harus bertobat bahwa semua yang Tuhan berikan untuk bersama bukan untuk sekelompok orang lalu menghancurkan lalu membunuh orang lain;” tukasnya.
Dan ketiga, Uskup Bernardus menyampaikan bahwa menjadi murid Yesus berarti menjadi murid yang mampu membawa damai, membawa rekonsiliasi, memperjuangkan perdamaian dan rekonsiliasi mengampuni satu sama lain.
“Karena barangsiapa tidak mampu mengampuni dan merekonsiliasi satu sama lain tidak juga akan masuk dalam kemuliaan Allah. Apa yang dilepas di dunia ini terlepas di surga,” tuturnya.
Inilah misi perutusan itu melaksanakan misi Tuhan yakni perdamaian, shalom, persatuan, cinta kasih, persaudaraan, keutuhan ciptaan Allah itulah yang harus diperjuangkan.
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dalam beberapa minggu ini memberikan catatan bahwa bangsa Indonesia saat ini berada dalam situasi kritis menuju kepada krisis.
“Kalau negara pimpinan presiden dan jajarannya seperti model sekarang maka kita rakyat Indonesia menuju kepada krisis yang parah baik krisis ekonomi maupun yang lain. Kita harus berdoa banyak,” tandasnya.
Ia mengajak umat berdoa kepada Sang Kerahiman Ilahi agar mempertobatkan pemimpin-pemimpin yang rakus dan tamak. Pemimpin-pemimpin yang hatinya hanya berpikir diri sendiri agar berpikir tentang kebaikan bersama (bonum commune) untuk seluruh rakyat.
“Pemerintah bukan untuk diri sendiri dan sekelompok orang tapi untuk seluruh rakyat yang memilihnya sebagai pemimpin,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)





























