Catat Sejarah, Alkitab Berbahasa Damal dan Amungme Resmi Diluncurkan
Panitia saat mengalungkan noken kepada keluarga dari pendeta Don Gibons/Domaleme
MIMIKA, BM
Peluncuran dan peresmian Alkitab dalam bahasa Damal dan Amungme menjadi peristiwa bersejarah bagi masyarakat Damal dan juga Amungme.
Acara yang berlangsung di Gor Futsal, Rabu (20/5/2026) ini menandai lahirnya karya rohani yang tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga melestarikan bahasa dan budaya lokal.
Acara peresmian Alkitab berbahasa Damal Amungme untuk tiga gereja yakni Gereja Kingmi, GKI dan Katolik ini diawali dengan ibadah syukur yang diikuti ratusan jemaat.
Adapun tema yang diusung dalam peluncuran tersebut ialah "Bersyukur Atas Kebaikan dan Perbuatan-Perbuatan Besar Dari Tuhan".
Staf Ahli bidang Pemerintahan Hukum dan Politik Provinsi Papua Tengah, Marthen Ukago, dalam sambutannya mengatakan, hari ini adalah tonggak sejarah iman, budaya, dan peradaban bagi masyarakat Damal dan Amungme.
Alkitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa ibu merupakan wujud nyata bahwa firman Tuhan hidup dekat dengan umat-Nya, berbicara dalam bahasa yang dipahami hati, serta menyentuh seluruh kehidupan masyarakat secara mendalam.
"Bahasa adalah identitas, warisan leluhur, dan jembatan budaya. Ketika firman Tuhan hadir dalam Bahasa Damal dan Amungme, maka bukan hanya iman yang diteguhkan, tetapi juga budaya dan jati diri masyarakat turut dihormati dan dilestarikan," kata Marthen.
Marthen mengatakan, kiranya kehadiran Damal Amungme ini menjadi berkat besar bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.
"Saya berharap untuk kita menjaga bahasa daerah agar tidak hilang ditelan waktu. Karena itu, peresmian Alkitab ini sekaligus menjadi momentum untuk mencintai, menggunakan, dan melestarikan Bahasa Damal dan Amungme sebagai kekayaan budaya Papua yang sangat berharga,"ucapnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong mengatakan, peluncuran ini bukan sekadar seremoni biasa, tetapi sebuah momentum iman, sejarah, budaya, dan peradaban yang sangat penting bagi masyarakat papua, khususnya bagi suku Damal dan Amungme.
"Hari ini kita menyaksikan bahwa firman Tuhan benar-benar hadir untuk semua manusia, untuk semua bangsa, untuk semua suku, dan untuk semua bahasa," kata Wabup Emanuel.
Menurutnya, hadirnya Alkitab dalam bahasa Damal dan bahasa Amungme adalah bukti nyata bahwa Tuhan mengasihi semua umat tanpa membedakan latar belakang budaya dan bahasa.
Katanya, bahasa daerah adalah identitas, warisan leluhur, sekaligus kekayaan budaya yang harus dijaga. Ketika firman Tuhan diterjemahkan ke dalam bahasa ibu, maka pesan kasih Tuhan menjadi lebіh dekat, lebih hidup, dan lebih menyentuh hati masyarakat.
"Orang tua dapat mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak mereka dengan bahasa yang dipahami sejak lahir. Generasi muda juga dapat mengenal identitas budaya dan nilai rohani secara bersamaan," ujarnya.
Wabup menambahkan, Pemerintah Kabupaten Mimika menyambut baik dan mendukung penuh setiap upaya pelestarian bahasa daerah dan penguatan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
Ia berharap Alkitab bahasa Damal dan bahasa Amungme ini tidak hanya menjadi simbol atau koleksi semata, tetapi benar-benar digunakan dalam ibadah, penginjilan, pendidikan rohani, serta kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Kepada generasi muda Papua, saya berpesan agar tetap mencintai bahasa daerah, menjaga budaya, menghormati adat istiadat, dan hidup takut akan Tuhan. Jangan pernah malu menggunakan bahasa ibu, karena di dalam bahasa itu terdapat identitas, sejarah, dan nilai luhur nenek moyang kita,"ungkapnya.
Penerjemah Alkitab Damal/Amungme, Pendeta Deteminus Beanal mengatakan, peluncuran resmi Alkitab Bahasa Damal/Amungme sudah lengkap dan sempurna.
Menurutmu ini merupakan buah kerja keras, doa, air mata, dan kesetiaan Penerjemah selama lebih dari 70 tahun, Perjalanan panjang penerjemahan Alkitab.
"Sebagai ketua tim penerjemah, hati saya penuh sukacita dan haru, karena apa yang dulu hanya harapan dan doa, hari ini menjadi kenyataan. Firman Tuhan ada di tangan kita tertulis jelas dalam bahasa ibu kita bahasa Damal/Amungme untuk kita gunakan sehari-hari dalam beribadah dan berbicara,"tutur Deteminus.
Ia menjelaskan, bahwa dalam penerjemahan Alkitab ini susunan dibuat agar sesuai dengan asli naskah tetap menjaga keakuratan isi namun disesuaikan dengan struktur tata bahasa Damal sehingga tidak terasa kaku atau asing.
"Kami bekerja berpegang teguh pada prinsip, tepat, jelas, wajar dan setia pada kebenaran firman, selalu merujuk pada naskah asli Ibrani dan Yunani serta berkonsultasi dengan para konsultan ahli bahasa dan ahli teologi. Kami juga mendengarkan masukan dari pemilik bahasa asli Damal dari berbagai wilayah agar terjemahan ini dapat diterima dan dipahami oleh seluruh komunitas Damal Amungme," pungkasnya. (Shanty Sang)







