SD Santa Maria Laksanakan PERSAMI, Tanamkan Pembentukan Karakter dan Moral untuk Siswa

Suasana saat upacara pembukaan Persami di SD Santa Maria

MIMIKA, BM

Jika tidak diawasi secara ketat, di era digitalisasi saat ini, moral siswa mudah tergradasi oleh perkembangan jaman karena kemudahan mengakses informasi minor (negatif).

Kebebasan menerima informasi di media sosial, membuat mereka mudah terkoneksi dengan berbagai konten pornografi, kekerasan, tawuran, bullying hingga berbagai kejahatan verbal lainnya.

Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi orangtua dan pihak sekolah terutama dalam penerapan pendidikan karakter dan moral bagi generasi muda masa kini.

Guna membendung lajunya dinamika tersebut, Sekolah Dasar (SD) Santa Maria melakukan kegiatan ekstrakurikuler yang diwajibkan dalam  Kurikulum 2013 untuk semua jenjang pendidikan yakni Praja Muda Karana (Pramuka).

Kegiatan yang bertujuan membentuk karakter dan moral siswa ini, dilakukan dalam bentuk Perkemahan Sabtu Minggu (PERSAMI) untuk tingkat Siaga yang dilaksanakan Sabtu (19/11/2022) hingga Minggu (20/11/2022).

Ditemui BeritaMimika disela kegiatan, Kepala Sekolah SD Santa Maria Huberta Rumangun mengatakan kegiatan Pramuka sudah menjadi agenda rutin sekolah yang dilaksanakan satu kali dalam satu semester.

“Selama pandemi kami tidak laksanakan. Setelah corona tiga tahun lebih, baru di semester ganjil ini kami mulai lagi PERSAMI. Selama pandemi kami lakukan pembinaan saja,” katanya.

Dijelaskan, kegiatan ini akan dilaksanakan berkelanjutan. Untuk semester ganjil biasanya di akhir semester namun pertimbangan waktu libur sekolah maka dilaksanakan pada November. Sementara pada semester genap akan dilakukan pada Juni 2023.

“Pramuka Siaga untuk kurikulum 2013 mewajibkan kegiatan kepramukaan sehingga semua anak terdata untuk masuk anggota pramuka. Hanya saja melihat perkembangan untuk saat ini kami tidak wajibkan untuk kelas kecil yakni 1,2 dan 3, kalau pun ikut harus ada ijin orang tua sedangkan kelas 4,5 dan 6 diwajibkan,” terangnya.

Huberta menjelaskan, peserta PERSAMI yang ikut adalah 120 siswa yang dibagi dalam 6 barung (regu-red) puteri dan 6 barung putera. Dimana masing-masing barung berisi 10-11 anak yang dinaungi oleh pembina Pramuka Ancelina Fatubun.

“Yang terpenting kami terapkan pendidikan karakter agar anak-anak bisa disiplin, mandiri dan membantu mereka untuk bisa jujur, adil dan beradaptasi dengan teman-teman lain. Terkadang anak-anak di rumah hanya dibatasi dalam rumah saja tetapi lewat kegiatan ini mereka bisa bertemu dan bekerja sama sebagai tim,” ungkapnya.

Ia menambahkan dalam satu barung peserta diacak sehingga siswa kelas kecil dan kelas besar bisa saling beradaptasi dan mengenal satu sama lain.

“Pendidikan karakter sangat penting, memang sudah ada di setiap proses pembelajaran kami dengan metode yang kami terapkan di kelas, namun perlu juga kami isi lewat kegiatan seperti ini. Malam nanti ada renungan malam, momen itu kita gunakan khusus untuk pembinaan moral anak-anak,” jelasnya.

“Secara akademik memang itu menjadi tujuan namun yang penting adalah karakter dan moral anak-anak sehingga ketika berada di luar sekolah mereka dapat menunjukan karakter yang baik untuk anak-anak yang lain,” pungkasnya.

Sementara itu, momen malam renungan dan api unggun diadakan pukul 21.00 Wit hingga pukul 22.00 Wit.

Dalam renungan malam, para siswa diajak untuk menulis hal-hal buruk apa saja yang pernah dilakukan terhadap orang tua.

Mereka juga diminta menulis hal baik yang akan mereka perbaiki dan lakukan ke depan usai mengikuti PERSAMI nanti.

Tulisan hal buruk kemudian dibakar di api unggun, sementara tulisan tentang hal baik yang akan dilakukan kedepan akan dibawa ke gereja saat misa pagi hari Minggu (20/11/2022).

Momen renungan malam penuh dengan rasa haru dan linangan air mata karena beberapa siswa diminta membacakan hal buruk yang telah mereka lakukan terhadap orangtua dan hal baik apa yang akan mereka perbaiki ke depan.

Inilah yang membuat hampir semua siswa menangis karena apa yang disampaikan oleh beberapa rekan mereka, seakan mewakili semua yang telah mereka ungkapkan dalam tulisan di kertas.

Mereka semua terlihat seperti orang dewasa yang sedang menyesali kesalahan yang telah mereka lakukan terhadap orangtua dan semua yang mereka cintai.

Momen ini terasa begitu sempurna karena disaat bersamaan, ada anak yang juga secara langsung membacakan tulisan mereka di hadapan orangtua mereka yang juga hadir menyaksikan renungan malam tersebut.

Rasa haru bercampur kebahagiaan terasa begitu menyatu dan sempurna karena pada momen ini, rangkulan, pelukan, ciuman antara anak dan orangtua seakan mendamaikan semua yang telah mereka ungkapkan. (Elfrida Sijabat

 

 

Top