Reses DPRD Dapil II, Warga Minta Mama-Mama Papua Jangan Dipindahkan Dari Pasar Lama

Reses I anggota DPRD Mimika Dapil II Kelurahan Koperapoka

MIMIKA, BM

Enam anggota DPRD Kabupaten Mimika melakukan Reses I dengan perwakilan warga dari enam kelurahan di lapangan Eks Pasar Swadaya atau Pasar Lama, Kelurahan Koperapoka, Kamis (23/7).

Keenam anggota DPRD ini adalah Elminus B Mom, Saleh Al-Hamid, H. Iwan Anwar, Samuel Bunai, SR Yulian Salossa dan Martinus Walilo.

Lurah Koperapoka Linus Dolame dalam kesempatan ini mengatakan bahwa selama ini tidak ada komunikasi dan koordinasi yang baik dengan OPD teknis terkait program dan kegiatan yang mereka lakukan di wilayah Koperapoka.

Hal ini berakibat pada tidak terserapnya apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan masyarakat setempat.

"Mereka OPD teknis jalan masing-masing. Tidak melibatkan kami di tingkat kelurahan ini. Padahal apa yang mereka mau buat setidaknya kami harus tahu karena kami lebih mengerti kebutuhan dan keadaan di sini," ungkapnya.

Ia mencontohkan penertiban pedagang di sekitar Pasar Eks Swadaya. Selama ini Satpol PP maupun Disperindag tidak melakukan koordinasi sehingga warga selalu datang mengeluh dan menyalakan pihak kelurahan.

"Harapan kami ke depan bukan hanya Satpol PP dan Perindag saja tapi OPD yang lain juga karena ini masalah kebijakan dan nasib warga kami," harapnya.

Mewakili Kelurahan Otomona, Leberina Atanai berharap DPRD memprioritaskan perhatian dan dukungan mereka terhadap mama-mama Papua yang berjualan di eks Pasar Swadaya.

Ia meminta DPRD Mimika tidak memindahkan mereka ke Pasar Sentral karena masalah biaya transportasi dan jarak.

"Kasihan kalau dipindahkan, penghasilan mereka habis hanya karena uang transportasi apalagi keuntungan yang mereka dapat di pasar lama ini hanya sedikit sekali. Kadang juga tidak ada penghasilan," ungkapnya.

Masalah lain yang disampaikan Oktavianus Takimai, warga Kelurahan Perintis adalah masalah banjir terutama di musim penghujan.

"Kalau boleh ini diperhatikan karena kalau musim hujan begini, kami di Timika Indah dalam terendam. Mungkin harus dibuat normalisasi sungai dan peningkatan jalan. Kalau tidak tahun ke tahun hasilnya tetap banjir," ujarnya.

Selain itu ia juga meminta ada pemekaran kampung di Kelurahan Perintis agar masyarakat yang bermukim di wilayah ini mendapatkan sentuhan langsung pemerintah daerah.

Tokoh masyarakat Kamoro, Siprianus Operawiri kepada para dewan menegaskan bahwa Eks Pasar Swadaya telah ada sejak 1982.

Pasar ini awalnya didirikan khusus untuk masyarakat Koperapoka, terutama bagi mama-mama Kamoro. Sehingga ketika akan dipindahkan karena alih fungsi pasar maka pemerintah diminta juga untuk berkoordinasi dengan Lemasko.

"Saya minta harus bagi, pendatang sendiri kami sendiri. Pasar Koperapoka itu pasar pertama bagi masyarakat Kamoro, biar mau bikin bagaimanapun tetap akan terjadi masalah kalau mau beralih ke yang lain, kalau mau bangun tetap terbakar nanti akan begitu terus," ujar Siprianus Operawiri.

Warga Kelurahan Perintis, Neles Dokopia dan warga Kelurahan 10 Timika Indah, Kegf Abugau meminta DPRD membantu mereka dengan pembangunan drainase di Timika Indah. Mereka juga minta pedagang di Eks Pasar Swadaya jangan dipindahkan.

"Biarkan saja kita punya mama-mama Papua tetap berjualan di pasar ini. Jangan pindahkan mereka," harap Keff Abugau.

Keenam anggota DPRD Mimika usai mendengarkan aspirasi warga, mengaku akan memperjuangkan semua keluhan dan permintaan mereka. Hal ini disampaikan anggota DPRD Elminus Mom.

"Kami sudah mencatat semua harapan dan keinginan yang disampaikan. Ini akan menjadi tanggungjawab kami dan akan kita perjuangkan untuk direalisasikan dan dicari solusi bersama pemerintah daerah," ujarnya. (Ronald)

Top