Yayasan Pendidikan Katolik Santa Maria Peringati 17 Tahun Dengan Parade Budaya

Suasana parade budaya saat di Bundaran Timika Indah
MIMIKA, BM
Yayasan Pendidikan Katolik Santa Maria yang berdiri sejak tahun 2006 kini memasuki usia 17 tahun atau sweet seventeen. Saat ini terdapat sekitar 400 siswa terdaftar di yayasan ini.
Dalam peringatan HUT, yayasan ini menggelar Parade Budaya yang dilaksanakan pada Rabu (8/2/2023).
Parade budaya ini diikuti para siswa dan guru serta pihak yayasan dengan mengenakan pakaian adat nusantara dan profesi yang membuat mereka terlihat cantik dan gagah.
Parade ini dilakukan dengan berjalan kaki dimulai dari titik kumpul Lapangan Timika Indah kemudian menyusuri Jalan Belibis, Jalan Yos Sudarso, Jalan Budi Utomo hingga tiba di sekolah Santa Maria.
Nampak para siswa begitu semangat, mereka yang mengenakan baju adat Papua menari diiringi tarian seka, sementara suku Kei, Batak, Toraja, Jawa, Timur dan lainya bernyanyi lagu daerah mereka di sepanjang jalan.
Kepada BeritaMimika Ketua Yayasan Pendidikan Katolik Santa Maria, Marcelus Alex Lesomar mengatakan parade budaya terakhir digelar pasca pandemi covid-19 merebak.
“Jadi kami punya parade budaya yang rutin dilaksanakan setiap bulan Oktober pada saat Sumpah Pemuda atau 17 Agustus karena covid-19 jadi vacum (berhenti-red),” katanya.
Ketika covid-19 sudah dapat teratasi saat ini, pihak yayasan kemudian mengadakan kembali Parade Budaya sekaligus sebagai ajang untuk mempromosikan sekolah SD, SMP dan SMA Santa Maria yang ada dibawah naungan yayasan ini.
“Orang tua murid lain mungkin jika ada anak-anaknya yang belum pernah daftar di Santa Maria, supaya anaknya bisa daftar kesini dan merasakan bahwa sekolah ini membangun anak-anak sesuai dengan karakter mereka,” ajaknya.
Ia menjelaskan bahwa pola pendidikan yang diterapkan di sekolah ini tidak hanya mengedepankan sisi akademis saja namun juga pada pendidikan karakter anak.
“Tidak hanya dengan pola pendidikan yang akademis saja, tetapi disini mau perbedaan suku, agama dan ras apapun akan membaur disini.," ujarnya.
"Kami membina anak tidak menggeneralisasi si A dari suku ini karakternya begini, tidak. Tetapi, guru-guru akan menilai satu per satu anak. Jadi mereka akan dikembangkan secara emosional bukan hanya intelektual saja,” terangnya.
Pendidikan karakter menurutnya perlu untuk ditekankan, karena percuma jika anak memiliki kecerdasan tetapi tidak bisa menghargai satu sama lain.
“Ini pembukaan, besok puncaknya. Besok ada misa syukur sekaligus selebrasi dari masing-masing suku yang akan mengisi acara. Kita berdoa dan makan bersama. Masing-masing daerah akan membawa makanan ciri khasnya,” imbuhnya.
Alex sejenak menceritakan sejarah berdirinya Yayasan Pendidikan Katolik Santa Maria tidak terlepas dari Yayasan Tunas Bangsa.
“Pada saat anak-anak mau lulus 2006, angkatan pertama SMP Yayasan Tunas Bangsa merasa sudah punya sekolah sehingga agak berat untuk mengambil SMP ini dan mereka menyerahkan sepenuhnya kepada almarhum bapak Yulius Lesomar,” kenangnya.
“Syarat anak-anak pada saat itu ikut ujian adalah harus berada di bawah lembaga pendidikan yang diakui oleh Kemenkumham sehingga yayasan ini didirikan pada tahun 2006,” imbuhnya.
Kini diusia 17 tahun Yayasan ini terus memupuk kecintaan akan tanah air Indonesia dengan mengangkat budaya nusantara disetiap perayaan sekolah.
“Kalau kita mengetahui budaya, orang tidak akan menjelekkan budaya orang lain. Tapi disini kita mau kasih tunjuk kepada anak-anak bahwa dari satu budaya kita bisa ambil nilai-nilai misalnya kebersamaan suku Toraja dan semangat perjuangan hidup bekerja keras Batak maupun suku lainnya. Saya mau anak-anak membaur dan tidak bergaul dengan lingkungan itu saja agar berpikiran luas,” tandasnya. (Elfrida Sijabat)





