Bersyukur, Zakarias Ceritakan Kisah Bersama Rekan-rekannya Sebelum Dievakuasi ke Timika


Zakarias saat bercerita mengenai pengalaman bersama rekan-rekannya ketika keluar dari Distrik Paro

MIMIKA, BM

Ical Behuku alias Zakarias salah satu pekerja bangunan Puskesmas di Distrik Paro, Kabupaten Nduga akhirnya menceritakan kisah mereka selama perjalanan menuju titik penjemputan untuk dilakukan evakuasi oleh TNI-Polri.

Kata Zakarias, sebelumnya di hari Minggu (05/02/2023) dirinya bersama 14 rekannya yang berada di balai desa didatangi oleh kontraktor bernama Edo dengan membawah informasi bahwa mereka dikasih waktu dua hari untuk segera meninggalkan lokasi pekerjaan.

"Kaka Edo datang dan kasih tahu kalau kita dikasih waktu dua hari untuk segera keluar dari Distrik Paro. Dan di hari minggu itu juga kita langsung dibagikan uang," tuturnya dihadapan awak media diruang media center Kantor Pelayanan Polres Mimika, Kamis sore (09/02/2023).

Iapun mengakui tidak mengetahui ancaman dari siapa namun karena ada bahasa seperti itu sehingga bersama rekan-rekannya menyiapkan diri dan bekal seadanya untuk mulai meninggalkan lokasi pekerjaan.

Dan keesokan harinya yaitu hari Senin (06/02/2023) dirinya bersama rekan-rekannya dibantu lima orang masyarakat mulai berjalan menyeberangi kali dan melewati beberapa gunung hingga ke sebuah gunung yang lebih tinggi yaitu gunung Weda untuk mendapatkan jaringan agar bisa melakukan komunikasi.

Karena sudah mulai malam, dirinya bersama rekan-rekannya dan lima orang masyarakat kembali bermalam di kaki gunung. Namun disaat itu juga salah satu rekannya kembali ke atas gunung untuk berkomunikasi dengan Kapolres dan Bupati Nduga.

"Teman saya saat kembali dan sampaikan bahwa dia sudah komunikasi dengan Kapolres dan Bupati, jadi pagi-pagi kita harus naik ke gunung karena helikopter mau jemput,"kata Zakarias.

Saat bermalam di kaki gunung dan untuk menutupi rasa lapar, menurut pria berusia 32 tahun ini, mereka terpaksa makan mie instan mentah dan ular.

"Kita terpaksa makan, kalau tidak makan mau makan apalagi. Memang kita semua dalam tas itu ada isi beras sedikit-sedikit dan mie. Kalau untuk air itu kita harapkan hujan turun supaya bisa masak nasi,"ujarnya.

Kemudian di pagi harinya sekitar pukul 05.00 wit, kata Zakarias, mereka kembali ke atas gunung dengan menempuh waktu kurang lebih tiga jam.

"Sekitar jam 08.00 pagi lewat kita sudah diatas gunung sambil tunggu helikopter datang jemput. Hampir 1 atau 2 jam helikopter datang dan membawah lima orang teman menuju Kenyam dan kemudian kembali menjemput lagi,"katanya.

Lanjutnya," Setelah helikopter dengan ukuran besar menjemput kita dan lima teman lainnya, kemudian kita semua langsung menuju ke Timika,"sambungnya.

Menurut Zakarias bahwa pada hari Selasa (07/02/2023) saat perjalanan menuju gunung sempat melihat pesawat Susi Air sudah masuk, namun tidak mengetahui apakah sudah terbakar atau tidak.

"Saat itu kita sudah ada diatas gunung dan memang kita lihat pesawat masuk dan tidak tahu sudah terbakar atau tidak,"ujarnya.

Bahkan saat dirinya bersama rekan-rekannya dijemput, kata Zakarias, mereka juga melihat masyarakatpun mulai mengunsikan diri dari kampung dengan melewari jalur darat menuju Kenyam.

"Saya lihat masyarakat juga sudah keluar dari kampung untuk pergi ke Kenyam," katanya.

Walaupun pengalaman ini membuat rasa trauma, disisi lain Zakarias tak pernah lupa atas kebaikan masyarakat, yang mana selama berada untuk bekerja kurang lebih 2 bulan masyarakat menjaga mereka dengan baik.

"Masyarakat disana sangat baik sekali karena mereka selalu jaga kita selama bekerja. Bahkan saat kita tiba mereka kumpulkan kita dan sampaikan bahwa untuk ikuti aturan yaitu jangan pergi kesana kemari,"ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut tak lupa Zakarias memberikan ucapan terimakasih kepada pihak TNI-Polri yang sudah membantu mengevakuasi dengan selamat tiba di Timika untuk bertemu dengan keluarga. (Ignasius Istanto)

Top