Budaya

ATM Serahkan Bantuan dan Uang Tunai Kepada Korban Bencana Alam di Alama

Pengurus ATM saat menyerahkan bantuan ke OKIA Mimika

MIMIKA, BM

Anak Timika Milenial (ATM) Kabupaten Mimika, Senin (14/9) memberikan bantuan bahan makanan dan uang senilai Rp20 juta kepada korban bencana alam di Distrik Alama.

Penyerahan bantuan tersebut berlangsung di posko penanggulangan bencana untuk Distrik Alama di jalan Cendrawasih.

Bantuan yang diserahkan ATM berupa 20 karung beras berukuran 25 kg, 20 karton mie sedap rasa coto, 5 karton kopi, 3 karton minyak goreng, 50 kg gula, 10 karton pakaian layak pakai.

Ketua ATM Kabupaten Mimika, Ricardo Magal Logo usai penyerahan bantuan mengatakan, pihaknya menyerahkan bantuan setelah menggalang bantuan beberapa hari kemarin, bantuan tersebut telah diserahkan kepada perwakilan Organisasi Kaum Intelektual Amungsa, Yohanes Kemong di posko penanggulan bencana alam untuk Alama.

Penyerahan bantuan tersebut kata Ricardo sekaligus silaturahmi dengan pengurus OKIA. Ini merupakan silaturahmi pertama sebagai jalan untuk ATM dan OKIA bergandeng tangan membangun kerjasama dalam bidang sosial.

Sementara itu, sekjen ATM Kabupaten Mimika Erik Welafubun mengucapkan terima kasih kepada warga Mimika yang telah memberikan bantuan kepada warga Alama. Ini merupakan bentuk kepedulian sesama masyarakat Mimika.

"Kami ucapkan terima kasih kepada masyarakat Mimika untuk bantuannya, selanjutnya kami serahkan kepada OKIA, inilah bentuk kepedulian kami anak Milenial untuk Mimika," kata Erik

Pihak OKIA juga berterima kasih kepada ATM Timika atas upaya menggalang dana. Organisasi yang baru terbentuk tersebut menurut OKIA cepat merespon permasalahan yang terjadi di Mimika.

Mewakili OKIA, Yohanes Kemong mengatakan, selaku anak Bela, ia mengucapkan terima kasih kepada ATM yang peduli dengan warga yang terkena bencana di Bela dan Alama. Ia juga mengajak ATM untuk bergandengan tangan dan sama-sama membangun Mimika.(Rafael)

Pesparawi XIII Dilaksanakan Tahun 2021, Ini Alasannya

Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob

MIMIKA,BM

Penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) XIII se-Tanah Papua diputuskan akan dilaksanakan pada tahun 2021 karena situasi pandemi covid-19 yang masih terus terjadi.

Jika tidak adanya pandemi covid-19 kegiatan Pesparawi XIII yang akan dilaksanakan di Kabupaten Mimika ini berlangsung pada Juni atau Juli tahun ini. Namun, karena kondisi pandemi maka terpaksa harus di undur kegiatannya.

Keputusan tersebut setelah Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob mengikuti rapat Pesparawi se-Tanah Papua yang melibatkan LKPD Provinsi Papua dan Papua Barat di Jayapura pada 8 September 2020 lalu.

"Keputusan kita Pesparawi akan dilakukan di tahun 2021 dan soal tanggal dan lain-lain akan disampaikan sesudah kita rapat bersama dengan panitia penyelenggara,"tutur Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob saat diwawancarai di Kantor UPBU Mozes Kilangin, Kamis (10/9).

Wabup John mengatakan, Pesparawi akan dilakukan sesudah PON dan untuk pelaksanaan nanti, pada Maret 2021 akan ditinjau dan dievaluasi secara bersama-sama.

"Prinsipnya kalau pemerintah ingin PON dilaksanakan berarti Pesparawi juga bisa. Kalau PON tidak berarti Pesparawi juga tidak bisa dilaksanakan,"ungkapnya. (Shanty)

Pabrik Sagu YPMAK Dinilai Mubazir, Lemasko Minta Diselidiki Pembangunannya

Ketua Lemasko Gerry Okoare

MIMIKA, BM

Lembaga Masyarakat Adat Suku Kamoro (Lemasko) mempertanyakan perkembangan dan keberadaan pembangunan pabrik sagu di Kampumg Keakwa, Distrik Mimika Tengah.

Lemasko menilai, pembangunannya mubazir karena hingga saat ini pabrik tidak beroperasi dan kondisinya kini seperti bangunan tua. Lemasko juga meminta pihak berwajib dalam hal ini Polda Papua agar menyelidiki pembangunannya.

Melalui jumpa pers, Selasa (8/9) Ketua Lemasko, Gerry Okoare mengatakan keberadaan pabrik sagu ini awalnya seperti angin segar bagi masyarakat namun ternyata kini seperti pepesan kosong.

Padahal menurut Gerry, pembangunan pabrik sagu ini telah menelan anggaran yang sangat besar namun setelah dibangun kini dibiarkan begitu saja.

“Itu namanya proyek mubazir. Pabrik sagu ini awalnya jadi kebanggaan bagi masyarakat Kamoro. Semua berharap pemanfaatanya bisa berdampak ekonomi bagi masyarakat tapi kini apa yang ada? Hanya ada bangunan tua yang kosong. Ini sangat memprihatinkan," sesalnya.

Ia meminta kepolisian agar mengusut tuntas proyek ini karena disinyalir sarat penyelewengan. Lemasko bahkan berencana akan menyurati Polda Papua dan Mabes Polri terkait pembangunan pabrik sagu ini.

"Harus ditinjau kembali supaya kita tahu siapa pejabat atau oknum YPMAK maupun PTFI yang terlibat dalam pengerjaan ini. Ini seperti proyek siluman karena sampai saat ini tidak ada bukti apa-apa. Kami dalam waktu dekat akan surati Polda dan Mabes Polri agar mengusut tuntas persoalan ini. Jika semua berjalan dengan baik, seharusnya saat ini masyarakat kami sudah mendapatkan pemanfaatannya, namun kenyataanya tidak seperti harapan semua orang di awal pembangunan," terangnya.

Sementara itu, menyikapi keadaan ini, Wakil Ketua I DPRD Mimika, Aleks Tsenawatme kepada BeritaMimika pernah mengatakan pabrik ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

"Saya kira sudah ada komunikasi antara Yayasan Somatua dan LPMAK. Tinggal bagaimana dikembangkan supaya dapat membantu mensejaterahkan masyarakat," ungkapnya.

Menurut Tsenawatme, selain untuk ekonomi masyarakat, keberadaan pabrik sagu jika pengoperasiannya dilakukan berkesinambungan maka juga berdampak pada PAD Mimika.

"Pemerintah daerah harus bergerak melihat ini. Saya sudah lihat dan menurut saya ini harus diberdayakan apalagi Keakwa juga memiliki potensi pariwisata yang menjanjikan. Kita akan melihat bagaimana pemda, Yayasan Somatua dan YPMAK mensingkronkan hal ini. Kami DPRD akan mendorong dan mendukungnya untuk dioperasikan," tandasnya. (Shanty)

Top