Budaya

Jumat Agung : Salib Adalah Kemenangan Dan Keselamatan Bagi Orang Yang Percaya

Seorang ibu mencium salib Yesus pada perayaan Jumat Agung di Gereja Katedral Tiga Raja, Jumat (15/4)

MIMIKA, BM

Ribuan umat Katolik di Paroki Katedral Tiga Raja Keuskupan Timika mengikuti perayaan Jumat Agung dengan penuh khusuk, Jumat (15/4) mulai pukul 15.00 WIT.

Meskipun perayaan masih di tengah pandemi Covid-19, umat tetap teguh mengikuti kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus dengan tidak mengindahkan protokol kesehatan.

Pada perayaan Jumat Agung, salah satu tradisi yang biasanya dilakukan Gereja Katolik adalah penciuman salib. Pada momen ini, semua umat yang hadir diberikan kesempatan untuk mencium salib Yesus. 

RD Fransiskus Emanuel Da Santos,Pr, dalam homilinya menekankan bahwa salib adalah kemenangan dan salib adalah keselamatan bagi orang yang percaya.

"Kisah sengsara Yesus ini bukan menimbulkan rasa haru tetapi membuat kita makin menyadari bahwa Allah sungguh menyertai kita, Allah selalu bersama kita dalam semua situasi hidup kita," tutur Pastor Fransiskus.

Kisah sengsara Yesus bukan hanya sebuah kisah atau cerita semata. Bagi umat manusia, adalah sebuah harapan dan penebusan yang menyalamatkan.

Pastor Frans mengatakan ada 3 hal yang harus dihayati dan dirayakan dalam peristiwa Jumat Agung. Pertama, Jumat Agung menunjukan kasih Allah yang melimpah bagi umatnya.

"Yesus berkorban mengganti dan menanggung dosa kita dan dengan darahNYA kita diberikan pengampunan," ujarnya.

Hal kedua, menurut RD Fransiskus adalah bahwa hanya dalam nama Yesus, manusia yang percaya akan diselamatkan.

"Dan hal ketiga, kita diselamatkan untuk menjadi alatNYA, menjadi saksi dan menyelamatkan orang lain," katanya.

Dikatakan, dalam kisah sengsara ini, ada sebuah perjumpaan antara Yesus dan Pilatus. Perjumpaan ini melambangkan pertarungan dua kekuasaan besar yakni penguasa dunia fana dan penguasa kerajaan kekal.

Siapa yang lebih berkuasa, masing-masing punya wilayah sendiri, jelas Yesus tidak berdaya menghadapi kuasa politik Pilatus yang dapat menjatuhkan hukuman eksekusi mati kepadaNYA.

Tetapi, yang tidak Pilatus ingat dan sadari bahwa inilah kesaksian Yesus yang tak akan pernah digantikan, tak pernah padam, bahkan dari detik itu sampai akhir zaman.

"Secara fisik memang Yesus tidak ada, tetapi secara spiritual Yesus sanggup meraja. Banyak orang percaya dan berpaling padaNYA untuk memperoleh kebahagian dan keselamatan karena Dia sungguh sang Raja Agung yang telah mati untuk keselamatan kita manusia" tuturnya.

Dikatakan, misteri kematian dan keselamatan Yesus tidak lain adalah karena cintaNYA yang sungguh luar biasa.

Rasul Paulus mengatakan bahwa salib itu batu sandungan orang Yahudi dan kebodohan bagi yang bukan orang Yahudi namun justru merupakan kekuatan bagi mereka yang percaya dengan memberi makna baru bagi salib.

Pemberian diri Yesus merupakan kemenangan sebagaimana biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati dan menghasilkan buah yang melimpah.

Pada hari Jumat Agung ini manusia diajak untuk merenungkan kisah sengsara dan wafat Yesus. Peristiwa ini adalah tanda solidaritas terbesar dari pribadi Ilahi terhadap manusia yang berdosa.

Peristiwa ini juga merupakan pengokohan tahta spiritual Kristus sebagai Mesias yang memenuhi janji keselamatan Allah dimana Ia bertahta di hati banyak orang terutama mereka yang bertobat dan berbalik dari kesalahannya.

"Marilah kita berusaha menjadi bagian dari tahta kristus itu. Ia menebus dunia dan menyelamatkan kita, kita pun menyerahkan seluruh diri kita, hati dan hidup kita bahkan mau bertobat dan kembali kepada belas kasihNYA,"tambahnya.

Yesus rela mati di salib karena Ia sungguh mencintai umat manusia. Dia sungguh mencintai manusia agar manusia percaya dan memiliki hidup yang kekal.

Yesus sendiri pernah berkata inilah perintahKU supaya kalian saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu. Tiada kasih yang lebih besar dari seorang yang telah memberikan nyawa untuk sahabat-sahabatNYA.

"Oleh sebab itu, kita tidak takut dan malu untuk memberikan kesaksian kita tentang salib kristus. Jangan takut dan malu untuk menandai diri kita dengan tanda salib, jangan takut dan malu untuk menggantungkan salib di rumah kita dan kita juga tidak perlu takut menggantungkan salib di dada dengan penuh kebanggan," pesannya. (Shanty)

 

 

YPMAK Berikan Bantuan Rp1,2 Miliar Kepada 6 Klasis Gereja Kingmi

Foto bersama dengan Direktur YPMAK, Vebian Magal usai penyerahan bantuan dan penandatangan berita acara

MIMIKA, BM

Yayasan Pemberdayaan Masyarakat suku Amungme dan Kamoro (YPMAK) Mimika memberikan bantuan sebesar Rp1,2 miliar kepada 6 Klasis Gereja Kingmi yang berada di Mimika. Masing-masing klasis dibantu Rp200 juta.

Bantuan diserahkan langsung oleh Direktur YPMAK Mimika, Vebian Magal di Kantor 3-4 Jalan Yos Sudarso, Rabu (13/4) kepada enam perwakilan.

Keenam Gereja tersebut yakni Gereja Kingmi Klasis Mimika, Klasis Alama, Klasis Hoya, Klasis Tembagapura, Klasis Mimika Utara dan Klasis Jila.

Direktur YPMAK, Vebian Magal mengatakan bahwa sebagai yayasan sosial yang berada di tengah aktifitas masyarakat, YPMAK tidak menutup mata untuk memberikan suport.

Kepada perwakilan 6 klasis, Direktur Vebian mengatakan bantuan yang diberikan jangan dilihat dari nominalnya namun bagaima yayasan memiliki kepedulian untuk memberikan bantuan tersebut.

"Jangan lihat nilainya tapi pratisipasi kami. Kami harap selalu ada dukungan dan doa kepada kami supaya yayasan ini selalu hadir untuk membantu masyarakat," ujarnya.

Ia mengatakan YPMAK sepenuhnya mendukung kegiatan kerohanian dan membantu gereja untuk pengembangan iman di Mimika.

"Pada prinsipnya kami sangat mendukung kegiatan gereja namun kami membantu dengan keterbatasan yang ada. Anggaran yang dikasih sesuai program yang kami ajukan. Besar atau kecil merupakan bagian dari partisipasi yayasan," lanjutnya.

Sementara itu mewakili keenam klasis, Pendeta Obet Yawame, Koordinator Gereja Kingmi Amungsa memberikan ucapan terimakasih kepada YPMAK Mimika bersama PT Freeport Indonesia atas dukungan dan bantuan ini.

"Terimakasih kepada direktur YPMAK dan jajarannya dan juga kepada Freeport. Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Terimakasih sudah membantu gereja. Tuhan memberkati karya dan program kerja kalian untuk kita semua," ujarnya.

Diinfokan juga, selain bantuan kepada 6 gereja Klasisi Mimika, YPMAK secara terpisah juga memberikan bantuan kepada panitia rekonsilsiasi Mimikawe dengan nilai Rp200 juta. (Ronald Renwarin)

Refleksi Minggu Palma : Berikanlah Dirimu Dan Semua Yang Engkau Miliki Kepada Tuhan Karena Ia Membutuhkanmu

Arak-arakan Minggu Palma, (10/4) diikuti ribuan umat Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan 

MIMIKA, BM

Gereja Katolik pada Minggu (10/4) merayakan peristiwa suci Yesus memasuki Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai dan dieluh-eluhkan sebagai raja.

Kisah ini merupakan  merupakan peristiwa mengenang sengsara wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus yang dirayakan setiap tahun oleh umat Katolik di seluruh dunia. 

Perayaan minggu palma di Gereja Santo Stefanus Sempan ini diawali dengan pemberkatan daun palma yang dilakukan oleh Pastor Maximilianus Dora OFM di SD Santa Maria.

Setelah pemberkatan daun palma, arak-arakan dilakukan menuju Gereja Santo Stefanus Sempan diikuti ribuan umat Katolik.  

Dalam khotbahnya, Pastor Maxi mengingatkan umatnya bahwa pada peristiwa ini, Yesus memasuki Yerusalem dan diarak sebagai raja damai. Misi utama dari kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini adalah membawa cinta bukan kebencian.

Yesus membawa kegembiraan bukan penderitaan, Ia membawa damai bukan perang, Ia menghasilkan pembangunan bukan kehancuran dan membawa kehidupan bukan kematian.

"Kalau di dunia ini masih ada kebencian dan permusuhan, kekerasan dan peperangan, penderitaan dan kehancuran, kesengsaraan dan kematian maka itu semua bukan misi Yesus," ungkapnya.

Produk cinta diri, egois dan ingin berkuasa adalah musuh terburuk dari kemanusiaan. Dalam beberapa cara, egois dan kemauan untuk berkuasa berada pada akar dari setiap konflik dan penderitaan serta kesengsaraan.

"Yesus datang ke dunia untuk membawa perdamaian dan cinta. Untuk membawa dan melaksanakan misi perdamaian dan cinta ini, Tuhan Yesus membutuhkan dan memerlukan sesuatu dari kita terutama diri kita sendiri," ujarnya.

Tuhan Yesus menghendaki semua umat  bukan sekedar untuk menunggu dan mau masuk surga melainkan untuk membantuNYA dengan mulai membuat dunia ini menjadi sesuatu yang tepat di mana keadilan merajalela dan semua umat saling mencintai dan mengasihi satu sama lain.

"Tuhan Yesus memerlukan kita untuk menjadi tanganNYA yang mampu mengubah dunia. Ia meminta kita menjadi kakiNYA untuk  mengantar dunia ini kepadaNYA," jelasnya.

"Ia meminta kita menjadi otak dan pikiranNYA untuk merenungkan dan memikirkan serta merencanakan semua persoalan manusia di dunia ini. Ia ingin kita mendengarkan suara Allah dan mendengarkan jeritan-jeritan manusia dimana kita berada dan mengabdi," ungkapnya.

Yesus ingin hati umatnya mencintai sesamanya dengan sederhana dan apa adanya. Ia ingin umatnya menjadi penyalur dan perpanjangan karya Tuhan di dunia untuk menyelamatkan manusia di muka bumi ini.

"Terutama di keluarga kita dan tanah Mimika yang kita cintai ini. Sebab itu, berikanlah diri kita kepada Tuhan. Biarlah Tuhan memerlukan dan mempergunakan diri kita untuk membangun damai dan membawa damai kepada semua manusia," ujarnya.

Selain diri sendiri, Tuhan juga memerlukan segala sesuatu yang ada dalam diri manusia, baik yang kita hasilkan maupun yang kita miliki seperti yang diberikan setiap orang yang disebutkan dalam bacaan injil hari ini.

Mereka tidak berkeberatan untuk memberikan harta miliknya kepada Tuhan. Pakaian mereka dihamparkan begitu saja di sepanjang jalan yang dilewati Tuhan Yesus. Daun-daun pohon yang mereka tanam dan pelihara dipotong untuk menyoraki Tuhan Yesus yang masuk ke kota Yerusalem.

"Pendeknya, segala yang mereka miliki diberikan semuanya kepada Tuhan. Mereka berikan dengan sukarela dan senang hati. Semuanya mereka sediakan kepada Tuhan karena Tuhan memerlukannya," ujarnya.

Bila manusia membiarkan Tuhan memerlukan dan menggunakan segala yang dimiliki dan dihasilkan maka manusia akan bertanggung jawab terhadap segala harta milik atau harta kekayaan masing-masing.

"Kita tidak akan menyia-nyiakan segala sesuatu yang ada pada kita bila kita mempersembahkan semua itu kepada Tuhan karena Ia sangat memerlukannya," ungkapnya.

Pastor Max mengatakan, Tuhan Yesus sudah menyediakan dan memberikan banyak hal kepada manusia namun seringkali persediaan dan pemberian Tuhan disalahgunakan. 

"Misalnya Tuhan memberikan kita rezeki  lewat usaha namun kita gunakan uang itu untuk foya-foya dalam permainan judi atau minum mabuk. Kita tidak menggunakan uang tersebut untuk membeli makanan bagi keluarga atau membiayai sekolah anak," jelasnya.

Tuhan juga telah memberikan waktu kepada umatnya agar bekerja selama enam hari namun waktu itu diisi dengan banyak libur, mengangggur dan berleha-leha. Tuhan juga memberikan tanah namun tidak diolah sehingga tandus, ditumbuhi ilalang dan rumput.

"Inilah kelemahan manusia dalam hidup ini yaitu memanfaatkan segala anugerah pemberian Tuhan dengan salah. Kita berdosa bila kita memakai segala hal itu secara tidak manusiawi. Kita akan menderita dan tidak akan mengalami kedamaian bila kita berbuat jahat dengan semua pemberian Tuhan," terangnya.

Pastor Max berharap di momen Minggu Palma ini, umat Katolik menyerahkan diri dan segala yang dimilikinya kepada Tuhan sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan baginya dalam kehidupan ini.

"Semoga hari minggu Palma ini atau pekan sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan ini, kita merefleksi kembali sejauh mana kita membiarkan diri dan harta kita diperlukan oleh Tuhan di dalam kehidupan kita masing masing," ujar Pastor Max kepada umat Katolik Sempan. (Ronald Renwarin)

 

 

Top