Budaya

Berkah Rahmadhan, Pelajar SMP N 11 Mimika Bagi 250 Paket Takjil

Sejumlah pelajar dan guru SMP N 11 Mimika foto bersama usai membagikan takjil

MIMIKA, BM

Jelang berbuka puasa SMP N 11 Mimika membagikam 250 paket takjil gratis bagi warga yang melintas di depan bekas Kantor Lantas Polres Mimika, Jalan Budi Utomo, Kamis (28/4) sore.

"Tujuan kita melakukan pembagian takjil adalah untuk berbagi bersama masyarakat khususnya bagi yang menjalankan puasa di bulan ramadhan ini," kata salah satu pelajar bernama Kesya.

Dirinya berharap takjil yang dibagikan di bulan suci ini menjadi berkah bagi yang berbuka puasa bersama keluarga mereka.

"Kami hanya memberi dari apa yang ada sehingga hanya bisa di lakukan di tempat ini saja," ujarnya.

Sementara itu, guru SMP N 11, Ariaty Arik yang hadir bersama anak didiknya mengatakan pembagian takjil sudah menjadi agenda tahunan sekolah mereka.

"Sebenarnya kegiatan ini sudah kita rencanakan sebelum hari H-nya. Dan ini sudah menjadi budaya tahunan, bukan cuman memasuki bulan Ramadhan saja tapi di Natal juga kita lakukan hal yang sama ," ungkapnya. (Ignas)

Pesta Adat Karapau Wajib Terus Dijaga Dan Dilestarikan

Kepala Distrik Mimika Tengah, Samuel Yogi saat mengikuti pesta adat Karapau di Kampung Kamora

MIMIKA, BM

Di Kampung Kamora, Distrik Mimika Tengah, pada Kamis (21/4) diadakan acara pesta adat Karapau.

Kepala Distrik Mimika Tengah, Samuel Yogi memberikan apresiasi kepada masyarakat Mimika Wee yang senantiasa peduli dalam menjaga kekayaan budayanya lewat pergelaran pesta adat ini.

Samuel mengatakan, Pesta Karapau harus terus dilestarikan karena merupakan tradisi turun-temurun leluhur Mimika Wee kepada anak cucu.

"Ini merupakan ritual adat pendewasaan anak, yang mana sampai hari ini masih dijalankan Masyarakat Mimika Wee sehingga kami sangat mengapresiasi hal itu," ujarnya

Dia menjelaskan pesta Karapau ini biasa dilakukan masyarakat Mimika Wee sebagai bentuk pendewasaan terhadap anak-anak yang umurnya telah beranjak ke usia 15-19 tahun.

"Selain sebagai identitas diri, Pesta Karapau merupakan kekayaan budaya peninggalan dari nenek moyang. Oleh karena itu ritual adat ini sudah seharusnya tetap dilestarikan dan dijaga agar tidak hilang dimakan zaman yang terus berkembang pesat," ucapnya.

Yogi juga berharap pesta-pesta adat semacam ini dapat terus dilakukan dan didukung penuh agar masyarakat tidak kehilangan jati diri sebagai orang Mimika Wee yang mendiami wilayah pesisir Kabupaten Mimika.

"Sebelumnya pada bulan Februari pesta Karapau diselenggarakan di kampung Atuka. Tahun lalu di Kekwa. Kali ini baru di Kamora. Saya berharap ini bisa terus dilanjutkan oleh anak cucu Mimika Wee, biar ke depan kita masih mengenal kekayaan budaya dan tradisi orang Mimika Wee itu seperti apa, karena itu adalah jati diri dan identitas sebagai orang Mimika Wee," jelasnya. (Ade)

PHBI Mimika Bicara Kesiapan Menyambut Idul Fitri, Diantaranya 80 Masjid Akan Digunakan

Ketua PHBI Mimika, Laitam Gredenggo

MIMIKA, BM

Pemerintah pusat telah mengizinkan pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1443 Hijriah (2022) dilakukan di mesjid maupun lapangan terbuka.

Izin tersebut dikeluarkan melalui Surat Edaran (SE) Kementerian Agama (Kemenag) No 8 Tahun 2022. 

Walau demikian, pelaksanaan Shalat Ied nanti tetap merujuk pada penerapan protokol kesehatan yakni memakai masker dan menjaga jarak.

Dengan edaran ini, Pantia Hari Besar Islam (PHBI) Mimika telah melakukan sejumlah persiapan guna memperlancar proses perayaan Idul Fitri nanti.

PHBI Mimika telah memastikan berapa banyak mesjid yang akan digunakan untuk Shalat Ied termasuk lapangan dan areal bangunan lainnya.

PHBI juga telah mendatangkan berapa ustad dari luar Mimika untuk membantu pelaksanaan Shalat Ied di Timika. Selain itu, malam takbiran nanti akan dipadukan juga dengan lomba mobil hias.

"Totalnya ada 80 masjid termasuk di Kokonau dan di Eme neme. Sholat Ied akan dimulai pukul 06.30 waktu setempat," ujar Ketua PHBI Mimika, Laitam Gredenggo di Masjid Babusalam Timika, Senin (25/4/).

Graha Eme Neme Yauware digunakan sebagai sentral Shalat Ied karena juga memiliki lahan yang luas dan represntatif.

"Kita akan masksimal di dalam tetapi kota juga akan sipakan di luar untuk antisipasi banyaknya jamaah. Bahkan bisa kita gunakan sampai ke badan jalan," jelasnya.

Laitam menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan nanti, ada beberapa ustad yang juga didatangkan untuk memimpin sholat Idul Fitri.

"Banyak ustad yang didatangkan. 65 merupakan mubalik lokal, sementara 15 lainnya adalah ustad tamu. Sebenarnya ustad tamu ini sudah merupakan satu kesatuan dengan Ramdhan kemarin yang belum pulang sekaligus untuk menjadi Khotib di masjid-masjid," jelasnya.

Terkait malam takbiran yang akan dipadukan dengan lomba mobil hias, Laitam mengatakan pesertanya adalah DMM dan paguyuban.

"Hingga technical meeting tadi (Senin-red), ada 53 peserta yang sudah terdaftar dari DKM dan beberapa paguyuban. Jadi masing-masing peserta juga sudah dibatasi yakni hanya 2 kendaraan roda empat saja," terangnya.

Ia juga mengakui bahwa pada saat malam takbir nanti pasti ada yang terlibat namun bukan sebagai peserta. Menurut Laitam mereka akan tetap diakomodir dan menjadi tanggungjawab PHBI.

"Star dimulai dari pusat pemerintahan SP3 dan finish di Graha Eme Neme Yauware. Kita lakukan dari atas untuk hindari roda dua karena dalam pawai ini roda dua dilarang," ujarnya.

"Pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, kita buka di Eme Neme tapi kita tidak bisa bendung banyaknya roda dua karena mereka pasti tetap akan masuk," jelasnya.

Sementara hasil lomba nanti akan diumumkan oleh dewan juri pada saat Sholat Idul Fitri.

"Terkait keamanan secara keseluruhan, terutama saat malam takbir sudah dikoordinasikan dengan pihak keamanan, Satpol PP dan perhubungan. Harapan kami dengan rute yang panjang ini, semua bisa berjalan dengan baik. Kita juga belajar dari kekurangan di tahun-tahun sebelumnya," ungkapnya. (Ade)

 

Top