Mimika Sport Complex Semakin Cantik Dengan Adanya Dua Spot Mural di Venue Basket

Muhammad Adnan Garibaldi

MIMIKA, BM

Banyak ikon di Mimika yang kini telah menjadi kebanggaan masyarakat Mimika, salah satunya Mimika Sport Complex (MSC) yang dibangun oleh PT Freeport Indonesia.

MSC merupakan salah satu tempat yang akan menjadi venue dua olahraga pada perhelatan PON XX di Mimika yakni atletik dan bola basket.

Bangunan MSC yang berdiri megah, kini semakin kelihatan cantik dengan adanya dua spot mural yang mengindahkan mata dan dijamin bakal menjadi swafoto bagi penonton yang akan menonton pertandingan basket dan atletik pada PON nanti.

Bagi kita yang awam, mural kadang dianggap sama dengan gravity. Namun sebenarnya berbeda. Mural merupakan cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen. Alat yang digunakan hanyalah cat dan kuas.

Ditemui BeritaMimika di MSC, Senin (20/9), Mural Artist, Muhammad Adnan Garibaldi mengatakan ia dan empat rekannya dipercaya PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui salah satu vendor untuk membuat mural di MSC.

Adnan yang merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2015 ini menuturkan dua spot mural tersebut menggambarkan dua hal yang berbeda dari PTFI.

Spot mural yang berada di bagian kiri pintu masuk menggambarkan tentang PTFI di masa depan (modern) sementara di sisi sebelah kanan merupakan Corporate Social Responsibility atau apa saja yang selama ini telah menjadi tanggungjawab sosial PTFI kepada masyarakat Papua lebih khusus Mimika.

“Tembok satu adalah gambaran PTFI dimasa depan seperti design operator yang pakai remote sehingga menggerakan alat di underground. Jadi dikendalikan dari atas. Ada juga objek kereta yang membawa batu tambang, ornamen-ornamen khas Papua, alat angkut dan perahu untuk mengangkut hasil tambang serta alat konsentrat,” jelasnya.

Sementara gambar tembok kedua menceritakan tentang penanaman pohon di Grasberg, ada juga jembatan serta pesawat terbang dimana PTFI berkontribusi terhadap pendidikan dan kemajuan masyarakat di Papua.

“Ada gambar kopi yang melambangkan hasil kekayaan alam asli seperti Amungme Gold, lapangan atletik di MSC, artefak dari Papua, dan burung Cenderawasih juga ada dalam bidang kesehatan. Yang terutama adalah gambar seorang gadis Papua dengan noken yang melintasi seluruh design, ini melambangkan ia sedang membawa mimpi dan harapan untuk Papua,” imbuhnya.

Ide dalam pembuatan mural ini disebutnya merupakan hasil kolaborasi antara PTFI dan perusahaannya yakni Lascaux Murale.

“Idenya berasal dari hasil diskusi. Saya buat referensi seperti apa gambarannya lalu diaplikasikan ke design. Pihak PTFI meminta agar jangan terlalu formal tetapi lebih fun dan full color yang lebih modern, ini cocok untuk kawula muda,” ungkapnya.

Adnan mengatakan bahwa PTFI memberikan batas waktu pengerjaan 10 hari namun ia dan rekan-rekannya sudah menyelesaikan hanya dalam waktu 3 hari untuk 1 design.

“Kami satu tim ada lima orang. Sejak tanggal 16 kami tiba di Timika dan besoknya langsung mulai bekerja. Perusahaan kami ini Lascaux Murale. Ini pertama kalinya kami buat di Papua, sebelumnya kami sudah membuat mural di Jakarta, Bandung, Makassar dan Bali. Kami juga pernah buat di kantor Google, Shopee, Bank Mandiri, Honda dan perhotelan di Jakarta,” terangnya.

Walau sudah di Timika namun ia sekalipun belum berkeliling menyusuri kota ini. Rasa penasarannya tentang Mimika masih ia pendam karena ia dan rekan-rekannya terlebih dahulu harus menyelesaikan pekerjaan mereka.

"Kami senang ke Papua, ini pengalaman pertama bagi kami. Ingin sekali jalan-jalan lihat Kota Timika tetapi mungkin belum waktunya. Kemarin saya juga sudah disuruh coba rasa papeda tapi belum sempat. Setelah ini semua beres, saya mau makan papeda," ujarnya dengan senyum.

Kepada BM, Adnan juga memberitahukan arti nama perusahannya, Lascaux Murale. Ia mengatakan nama ini diambil dari nama salah satu goa yang ada di Perancis. Dalam goa itu berisikan banyak ornamen yang mengidentikan mural di jaman purba.

“Kalau sekarang sudah tidak boleh masuk lagi ke sana karena ada radiasi tapi ternyata di Indonesia juga ada goa mural yakni di Makassar," ujarnya.

Dikisahkan Adnan, pertama kali ia memilih berprofesi sebagai mural artist berawal dari keisengan akibat suka menggambar.

"Semua bermula dari keisengan, saya terus menggambar kemudian jadi bisnis. Sudah berapa tahun saya lakukan pekerjaan ini dan saya sangat menikmatinya. Mungkin karena ini berawal dari hobi yang menjadi sebuah pekerjaan," ungkapnya.

Sementara itu, untuk bahan dasar pembuatan mural di MSC ada yang dibawa dari Jakarta dan ada yang dibeli di Timika.

"Kalau bahannya saya pakai pigmen ini dibawa dari Jakarta tapi kalau cat ada disini dan kami beli kemudian saya racik sendiri,” pungkasnya.

Bagi kawula muda dan masyarakat Mimika yang penasaran dengan hasil karya Muhammad Adnan Garibaldi dan rekannya, dapat mengunjungi dan memfollow akun IG Lascaux_murale. (Elfrida)

Top