H-2 Lebaran, Pedagang Musiman Ketupat Mulai Ramai

Mama-Mama Papua saat berjualan musiman lebaran
MIMIKA, BM
Ketupat menjadi salah satu makanan yang wajib ada saat lebaran. Tidak heran, pada momen ini para pedagang kulit ketupat pun ramai berjualan.
Tidak hanya di Pasar Sentral, para pedagang mulai berjualan juga di seputaran Jalan Bougenvile. Dari pagi, mereka mulai terlihat
menjajakan dagangannya.
Pantauan Berita Mimika, Selasa (11/5) para pedagang kulit ketupat musiman ini kebanyakan adalah mama-mama Papua yang berasal dari Muare, Pomako.
Salah satunya, Mama Martha mengaku menjadi pedagang kulit ketupat musiman. Dirinya membanderol harga sekitar Rp5.000 - 20.000.
"Untuk yang harga Rp5.000 ukuran kecil isinya 6 kulit ketupat. Sedangkan kalau kulut kelapa saja ada 10 lembar harganya juga Rp5.000," tutur Martha.
Martha mengatakan, bahwa daun kelapa untuk dijadikan kulit ketupat didapatkan langsung dari pohon miliknya yang ada di halaman rumah.
"Saya anyam ini sejak malam lalu bawa ke sini untuk jualan. Kadang saya bawa 20 ikat, kadang 50 ikat juga," tuturnya.
Katanya, jualan seperti ini hanya mendapatkan keuntungan kecil karena habis di ongkos biaya transportasi.
Dari Muare ke SP1 biaya Rp13 ribu dan dari SP1 ia harus menggunakan ojek ke tempat lokasi jualan dengan biaya Rp15 ribu.
Jika pulang pergi biaya yang ia keluarkan untuk transportasi adalah Rp56 ribu. Namun jika dagangan yang dibawa 50 ikat maka keuntungan yang didapatkan sebesar Rp250 ribu.
Setelah di potong biaya ongkos transport maka keuntungan bersih yang didapat Rp194 ribu. Ini belum termasuk pengeluaran biaya lainnya.
"Tapi kalau saya hanya 20 ikat saja maka saya hanya bawa pulang 50 ribu saja. Susah juga karena kadang kita sudah kasih murah tapi pembeli masih minta kurang lagi," katanya.
Martha mengakui penjualan kulit ketupat jauh lebih laris ketimbang janur yang belum dirajut. Menurutnya karena kulit ketupat sudah praktis jadi.
"Biasanya saya datang mulai jam 8 pagi, sore jualan saya sudah habis,"ungkapnya. (Shanty)



