Pendidikan

TK Kartika VI-31 Kembangkan Motorik Siswa Melalui “Tepung Party” di KFC Gelael

Foto Bersama Guru dan Siswa TK Kartika Kelas B1

MIMIKA, BM

Motorik menjadi tolak ukur untuk dapat melihat dan memantau perkembangan anak. Melihat pentingnya hal tersebut, TK-Kartika VI-31 Mimika melaksanakan kegiatan “Tepung Party” di KFC Gelael pada Senin (5/12/2022).

Mengembangkan motorik anak diluar kelas dapat memberikan pengalaman tersendiri bagi para siswa karena menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dan bermakna.

Siapa yang tidak mengenal Kentucky Fried Chicken (KFC), anak-anak kerap menyukainya.

Kepada BeritaMimika, Wali Kelas B1 Ibu Junita mengatakan kegiatan ini baru pertama kali dilaksanakan bagi para siswa untuk melihat secara langsung proses pembuatan ayam KFC.

“Anak-anak diajak touring kitchen dan diajarkan praktek cara membuat ayam KFC secara mandiri. Praktek langsung ini dapat menstimulasi perkembangan bahasa anak ketika anak-anak diberi arahan oleh kaka di KFC bagimana langkah-langkah membuat ayam KFC,” tuturnya.

Lanjutnya, perkembangan fisik dan motorik terjadi saat siswa menggunakan tangannya sendiri untuk membuat ayam KFC seperti memasukan ayam kedalam tepung, kemudian diremas-remas dan dicelup kedalam air. Kemudian, anak-anak memasukan kembali ayam ke dalam tepung, diremas untuk kemudian di goreng dan dinikmati bersama.

“Dengan begitu, jari-jari tangan anak-anak jadi tidak kaku. Yang nantinya pada saat tahap literasi awal yaitu cara memegang pensil maka jari-jari sudah lemas dan tidak kaku,” imbuhnya.

Junita menambahkan dengan kegiatan tersebut anak-anak juga bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan petugas yang ada di KFC.

“Harapannya untuk anak-ana TK Kartika dimana dalam Kurikulum Merdeka Belajar TK berada di fase fondasi sehingga diharapkan kedepannya anak-anak bisa bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, mandiri dan akan menjadi kenangan masa kecil yang tidak akan terlupakan bagi mereka,” tutupnya.

Sementara itu, Asisten Manager KFC Gelael Timika Andhika Akbar mengatakan even Tepung Party merupakan program KFC yang dilakukan setiap bulan selain Burger Party.

“Tujuan dari event kami ini mengajak teman teman sekolah terutama taman kanak-kanak untuk mengenal lebih jauh lagi tentang KFC dan mengedukasi. Untuk saat ini Tepung Party dan Burger Party target kami teman-teman yang di sekolah, next time event (even selanjutnya-red) akan kita kembangkan. Terimakasih anak-anak TK Kartika sudah datang ke KFC,” ungkapnya. (Elfrida Sijabat)

SATP Gelar Mini Workshop Parenting Bagi Pembina dan Guru

Foto bersama para peserta kegiatan

MIMIKA, BM

Untuk memberikan wawasan tentang pentingnya peran pembina dan guru serta pendidikan dalam tumbuh kembang anak-anak Papua, Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) menggelar mini workshop Parenting.

Workshop yang digelar di Hotel Horison Ultima Timika, Rabu (7/12/2022) diikuti oleh 150 orang pembina asrama dan guru-guru SATP.

Kepala Sekolah SATP, Johana Tnunay mengatakan, kegiatan mini workshop ini memang lebih kepada parenting bagi guru dan pembina karena anak-anak di SATP adalah anak-anak dari suku Papua. Sementara, sebagian besar pembina dan guru di SATP adalah non Papua.

"Sehingga, kita perlu untuk belajar bagaimana kita mengasuh dan membimbing anak-anak. Di situ kita duduk sama-sama agar kita bisa satu persepsi. Dan hal yang sama dilakukan di sekolah juga harus dilakukan di asrama, supaya anak itu terpola dengan baik oleh kita selaku orang tua baik di asrama maupun sekolah,"terang Johana.

Johana mengatakan, sesuai dengan kurikulum merdeka dalam hal ini revolusi belajar dengan kurikulum berbasis kontekstual, inti kurikulumnya adalah anak memiliki pengalaman nyata untuk membangun konsep pengetahuan membentuk karakter.

"Karena pembina dan guru juga ada yang dari Papua sehingga kita sama-sama mengeluarkan apa sebenarnya yang ada, potensi apa yang bisa kami pakai sebagai peluang untuk kami dapat membentuk anak-anak ini," ujarnya.

Katanya, sekalipun itu bukan potensi melainkan kelemahan namun pihaknnya akan memakainya sebagai suatu potensi dan kekuatan untuk bisa menangani anak dengan baik dan benar. Kalau sudah baik dan benar berarti penanganannya tepat sasaran.

Untuk menangani 1080 anak SD dan SMP SATP memang membutuhkan satu persepsi sebab tidak bisa masing-masing dengan penanganan sendiri.

"Ketika anak-anak datang tidak lagi kita melihatnya antara kamu dan saya tetapi sudah menjadi kita. Sinergitas dalam penanganan itu penting, kalau kita tidak sinergi itu tidak bisa. Kita harus membuat kesepakatan bersama, komitmen bersama untuk melihat hal ini dan bagaimana kita menanganinya," ungkapnya. (Shanty Sang)

SMA YPPK Tiga Raja Gelar Pentas Seni Hasil Dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Kepala Sekolah SMA YPPK Tiga Raja Yohanes Pramana didampingi para siswa

MIMIKA, BM

Sebagai sekolah penggerak, SMA YPPK Tiga Raja Mimika melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang dikemas dalam pentas seni, bazaar, perlombaan dan pameran.

Hal ini juga merupakan hasil implementasi kurikulum Merdeka Belajar yang diterapkan pada siswa kelas X selama satu semester.

Kegiatan pentas seni, bazaar, perlombaan dan pameran diadakan di halaman supermarket Gelael selama dua hari terhitung sejak Jumat (2/12/1022) kemarin hingga hari ini, Sabtu (3/12/2022).

Ditemui BeritaMimika disela kegiatan, Kepala Sekolah SMA YPPK Tiga Raja Mimika Yohanes Pramana mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka implementasi kurikulum Merdeka Belajar.

“Ada lima sekolah penggerak yakni 2 TK, 2 SD dan satu SMA sehingga menjadi tanggungjawab kami sebagai sekolah penggerak tingkat SMA di Mimika menyampaikan karya, program dan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaann kurikulum Merdeka Belajar dan program sekolah penggerak. Kali ini dalam bentuk pameran, perlombaan, pasar murah dan pentas seni kami gabung,” tuturnya.

Lanjutnya, pameran berguna untuk menunjukkan hasil karya para siswa dan mengasah kewirausahaan, dimana hasil penjualan untuk siswa, sekolah hanya menjembatani.

“Kita berkolaborasi dengan pemerintah daerah yakni Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, Dinas Pendidikan dan beberapa dunia usaha seperti Indoprima, Bank BRI, UMKM-UMKM dan Koperasi Bintang Laut. Untuk tempat sendiri kita dibantu dari Keuskupan Timika,“ jelasnya.

Yohanes menambahkan pada hari Sabtu (hari ini-red) akan digelar perlombaan tarian kontemporer untuk tingkat SMP dimana enam sekolah telah terdaftar.

“Tadi (kemarin-red) ada lomba mewarnai dan menggambar untuk tingkat TK dan SD. Kalau tingkat SMA karena butuh waktu panjang jadi lomba mural. Kalau SMP sabtu,” ucapnya.

Dikatakan, di dalam Kurikulum Merdeka Belajar guru tidak lagi berpatokan pada pencapaian kurikulum melainkan pencapaian pada pengembangan karakter, skill dan pengetahuan siswa.

“Jadi kita mengajar sesuai apa yang anak bisa, tidak melihat harus ada target sekian. Tetapi bagaimana setiap anak itu berkembang semaksimal mungkin sesuai kemampuan dia saat itu sehingga guru-guru harus berubah tidak lagi dengan metode khusus tetapi harus memulai dengan asesmen diagnostik yang kemudian memilah dia akan berdiferensiasi apa dalam proses belajar mengajar apakah diferensiasi proses, konten atau produk,” paparnya.

Diakuinya, dalam satu semester ada siswa yang sedikit kurang kemampuan pada pengetahuan tetapi mereka memiliki kemampuan di kreasi seni, menggambar, menyanyi, menari bahkan berorganisasi.

“Ada yang pentas seni, menggambar kemudian dilelang dan laku lukisan Rp500.000. Harapan kami nanti setelah lulus SMA dia mampu memilih kuliah di jurusan apa yang paling sesuai jadi tidak ikut teman. Kurikulum Merdeka Belajar masih diterapkan di kelas X,” ujarnya.

Ia menambahkan Kurikulum Merdeka Belajar kontennya tidak sebanyak kurikulum 2013 karena yang dikejar bukan banyak konten tetapi tema materi kontennya, sehingga kemampuan setiap siswa tentu akan berbeda.

“Harapannya anak-anak tidak lagi tertekan. Sekolah itu bukan sesuatu yang menakutkan tetapi menyenangkan dan bermakna. Jadi, ada sesuatu yang bisa siswa dapatkan untuk kehidupan di masa depannya,” tandasnya. (Elfrida Sijabat)

Top