Tidak Kantongi Izin Pemda, SMK di Timika Mulai Belajar Tatap Muka. Salah Siapa?

200 Pelajar SMK Tunas Bangsa Kembalikan Surat Persetujuan

MIMIKA, BM

Pandemi Covid-19 yang kini menghantui Mimika selama setahun lebih sudah tidak mampu membendung kerinduan murid maupun guru untuk melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara normal.

Terbukti, meski belum mengantongi izin Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika beberapa SMK di Kabuapten Mimika telah melakukan belajar tatap muka pada, Rabu (14/4).

Menanggapi tindakan beberapa sekolah yang nekat belajar tatap muka tanpa izin dari Pemda Mimika , Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK se Kabupaten Mimika, John Lemauk mengatakan kecewa dan sangat sesalkan tindakan tersebut.

Menurutnya, untuk memulai belajar tatap muka seharusnya ada izin atau komando terlebih dahulu dari Pemda Mimika.

“Memang sangat disayangkan kalau sekolah sudah jalan tapi belum ada komando secara resmi. Apalagi kalau guru-guru belum vaksin. Walaupun sudah vaksin juga memang tetap harus satu komando,” tutur Ketua MKKS SMK, John Lemauk saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (14/4).

Dikatakan, pihaknya telah memasukkan permohonan kepada pemerintah, namun sampai saat ini belum mendapatkan jawaban apakah disetujui untuk melaksanakan tatap muka atau tidak.

“Kami sudah masukkan surat. Tapi sampai sekarang belum ada perintah dari sana bahwa oke SMA-SMK sudah bisa melakukan tatap muka. Belum ada jawaban itu,” tuturnya.

Selain itu, sekolah yang sudah menerapkan belajar tatap muka belum memberikan informasi secara resmi melalui surat pemberitahuan kepada MKKS. Penyampaiannya hanya disampaikan secara lisan.

"Pemberitahuan harus disampaikan secara tertulis agar bisa menjadi pegangan pengurus. Artinya ada beberapa sekolah yang sudah buka tapi belum memberitahukan kepada kami pengurus MKSS, harap supaya segera memberitahu," ungkapnya.

"Harus ada pegangan kepada kami pengurus supaya kalau ada pertanyaan dari pemerintah atau masyarakat maka kami juga bisa jawab. Secara tertulis belum ada yang masukan surat ke MKKS agar kami bisa teruskan kepada Pemda Mimika bahkan ke Pemerintah Provinsi Papua menyangkut yang sudah tatap muka ini,” jelasnya

Ia mengatakan sekolah yang sudah menerapkan tatap muka yakni SMK Tunas Bangsa, SMKN 1 Mimika, SMK Don Bosco dan SMK Amamapare.

Ketika ditanya wartawan BM terkait apakah sekolah-sekolah ini akan mendapatkan teguran? Ia mengatakan mereka harus siap menerima konsekwensi yang akan diberikan.

"Konsekuensi kembali ke kepala sekolah masing-masing karena berani buka berarti siap bertanggung jawab. Intinya bahwa dari pengurus MKKS belum ada komando secara tertulis karena kami keluarkan komando tatap muka itu apabila sudah dikomandoi dari Pemda Mimika, ”ungkapnya.

John berharap, pemerintah bisa segera mengeluarkan penegasan sebagai jawaban dari surat yang mereka sudah ajukan agar sekolah yang belum belajar tatap muka bisa mengambil langkah selanjutnya.

“Menurut kami itu kalau bisa ada persetujuan. Mengapa? Karena sudah lebih satu tahun sekolah ini mubazir. Semua tidak efektif,” ungkapnya.

200 Pelajar SMK Tunas Bangsa Kembalikan Surat Persetujuan

Berdasarkan pantauan BeritaMimika, Rabu (14/4), 200 pelajar SMK Tunas Bangsa yang merupakan siswa kelas X dan XI mengembalikan surat persetujuan yang ditandatangani orang tua diatas materai 10 ribu sebagai bukti mereka setuju belajar tatap muka.

Jurusan di Sekolah Tunas Bangsa ada tiga program keahlian yakni perawatan sosial, akomodasi perhotelan dan administrasi perkantoran.

Sekolah ini telah melakukan proses belajar mengajar tatap muka namun tetap menjalankan protokol kesehatan secara ketat.

Sebelum masuk sekolah, siswa terlebih dahulu memeriksa suhu tubuh kemudian diarahkan mencuci tangan dan siswa pun diwajibkan menggunakan masker.

Jam belajar siswa dimulai pukul 07.30 Wit hingga jam 12.30 WIT. Tidak ada jam istirahat. Dalam sehari hanya 3 mata pelajaran. Proses belajar pun berlangsung dari Senin hingga Jumat.

“Kenapa kami tidak seperti SD dan SMP yang hanya tiga kali pertemuan dalam seminggu untuk masing-masing siswa, karena mata pelajaran kami tidak sama dengan mereka. Di SMK ada 16 mata pelajaran sehingga tidak bisa mengikuti teknis SD dan SMP,” jelas Wakasek Kurikulum SMK Tunas Bangsa, Amsar Sampetoding.

Dijelaskan, alasan SMK Tunas Bangsa sudah menerapkan belajar tatap muka adalah karena sekolah melihat proses belajar dari rumah tidaklah efektif. Bukan hanya pengetahuan dan interaksi namun juga pengenalan siswa terhadap lingkungan sekolah dinilai sangat minim.

Banyak siswa kelas X yang belum mengenal siapa guru mereka. Bahkan para siswa pun tidak saling mengenal karena selama ini hanya mengikuti proses belajar dari rumah.

“Coba dibayangkan, belajar dari rumah sudah satu tahun, tapi siswa kelas X belum kenal gurunya. Belum tahu siapa yang mengajar. Bahkan ada tadi satu yang tidak tahu kelas jurusannya. Ini adalah efek dari belajar dari rumah. Dan hari ini baru dia tahu,” ujarya.

Katanya, antusiasme siswa untuk kembali belajar tatap muka sangat tinggi. Terbukti ketika sekolah mengumumkan akan menerapkan belajar tatap muka, siswa yang tadinya tidak pernah mengambil modul dan mengumpulkan tugas langsung setuju untuk belajar tatap muka. (Shanty)

 


 

Top