Sekolah Tatap Muka Dimulai Senin, Hal-Hal Ini Harus Dipahami Baik



Bupati Mimika Eltinus Omaleng saat menandatangani perpanjangan AKB

MIMIKA, BM

Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika telah memperpanjang Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) hingga satu bulan ke depan.

Satu hal yang sudah disepakati bersama agar dilakukan adalah membuka kembali proses belajar tatap muka di sekolah yang diatur secara teknis oleh Dinas Pendidikan. 

Walau sekolah nantinya dibuka, namun hanya dikhusususkan bagi siswa kelas VI dan IX yang nantinya melakukan ujian pada April mendatang.

Hanya saja keikutsertaan siswa dalam KBM harus mendapatkan surat persetujuan orang tua. Jika ada orang tua yang tidak setuju anaknya mengikuti sekolah tatap muka maka tetap mengikuti metode belajar daring atau online. 

Kepala Dinas Pendidikan Dasar Mimika, Jeni O Usmani mengatakan, proses belajar tatap muka akan mulai dilaksanakan pada, Senin (22/3) bagi sekolah yang benar-benar sudah siap.

Sebelum memulai proses belajar tatap muka, sekolah harus mempersiapkan beberapa hal salah satunya wajib membentuk Satgas covid-19 untuk memastikan protokol kesehatan betul-betul dilaksanakan dan diterapkan selama siswa berada di sekolah.

“Tatap muka kita usahakan akan diterapkan Senin, tapi itu juga tergantung kesiapan sekolah karena mereka harus siapkan fasilitasnya. Namun, harusnya sekolah sudah siap karena ini kita sudah sosialisasi dari jauh-jauh hari,” tutur Jeni. 

Dijelaskan, ketentuan untuk belajar tatap muka di sekolah yang telah disepakati dalam pertemuan Dinas Pendidikan dan para guru adalah, sebelum masuk kelas siswa diwajibkan mencuci tangan, diperiksa suhu tubuhnya, wajib menggunakan masker dan kelas hanya diisi oleh 50 persen.

“Jadi misalnya kelas 6A jumlahnya 30 orang maka saat proses tatap muka artinya yang akan diisi hanya 15 saja,”ujarnya. 

Lainnya, guru tidak diperbolehkan menyentuh siswa dan tidak ada jam istirahat karena proses belajar hanya dilakukan empat jam dan siswa akan dibuatkan shif belajar.

Selain itu waktu belajar di sekolah dalam satu minggu hanya diperbolehkan tiga hari dan hal penting yang juga harus diperhatikan adalah tempat duduk siswa tidak boleh tertukar atau berpindah. Guru juga harus memantau aktifitas dan komunikasi anak di kelas.

Lanjutnya, setiap hari siswa hanya diperbolehkan menerima 2 mata pelajaran. Setelah proses belajar selesai, satgas covid-19 sekolah akan kembali mensterilkan ruangan.

Usmani meminta orangtua harus terus memantau anak-anak mereka. Orangtua bertanggungjawab mengantar jemput anaknya ke sekolah atau memastikan anaknya dijemput, supaya anak tidak berkeliaran selepas sekolah. Selain itu juga, guru baru dapat mengizinkan anak keluar kelas jika jemputannya telah ada. 

Guru Wajib Rapid Antigen Sebelum Belajar Tatap Muka

Sementara itu, Kepada BeritaMimika, Rabu (17/3) via telepon seluler Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Mimika Mantho Ginting mengatakan salah satu poin yang wajib diikuti oleh sekolah adalah guru wajib rapid antigen.

“Guru diwajibkan untuk rapid antigen dan ini tidak gratis. Mengenai biayanya dari mana itu akan dibicarakan lebih lanjut karena jumlah guru yang tidak sedikit,” tuturnya.

Dikatakan bahwa total keseluruhan guru yang ada di Mimika sebanyak 2.000 lebih yang tersebar di kota dan pedalaman.

“Kalau untuk di pedalaman masih zona hijau sehingga KBM masih berjalan namun tetap harus memperhatikan protokol kesehatan. Sementara di kota ada sekitar 1.500-an guru,” imbuhnya

Guru wajib rapid antigen guna mencegah dan memutus mata rantai Covid-19 namun untuk pelajar tidak diwajibkan rapid antigen.

“Untuk pelajar wajib cek suhu tubuh menggunakan thermo gun, mencuci tangan, jaga jarak dan yang terpenting memakai masker,” jelasnya.

Ketika ditanya BM mengenai vaksin, Mantho menjelaskan bahwa vaksin belum melayani seluruh masyarakat dan belum 100 persen menjamin guru dan pelajar tidak tertular Covid-19.

“Vaksin itu adalah kekebalan tubuh (imun) dan bisa dikatakan masih 60 persen hingga 70 persen sehingga guru dan pelajar harus tetap menjaga kesehatan dan patuh pada protokol kesehatan,” ungkapnya

Mantho juga berharap agar orang tua turut berperan aktif dalam memperhatikan anak-anaknya pada saat pergi dan pulang sekolah.

“Peran orang tua sangat penting kalau di sekolah pasti aman karena menerapkan protokol kesehatan ketat, namun setelah selesai KBM para guru tidak bisa memantau mereka (pelajar-red) saat diluar sekolah jangan sampai mereka pergi ke mall atau tempat lain. Jangan sampai pihak sekolah disalahkan karena KBM ini salah satunya bisa berjalan atas ijin orang tua,” tandasnya. (Shanty & Elfrida)

Top