Hasil Sensus 2020 : Generasi Milenial Penduduk Terbanyak di Mimika

Wabup John saat mendengarkan laporan kepala BPS dan Dukpencapil Mimika

MIMIKA, BM

Hasil Sensus Penduduk Tahun 2020 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Mimika pada Setember 2020, menyatakan bahwa jumlah penduduk di Mimika saat ini berjumlah 311.969 jiwa. 

Hasil Sensus itu kemudian dikategorikan per generasi dan generasi milenial merupakan penduduk yang mendominasi jumlah jiwa di Mimika.

Secara klasifikasi, kelahiran 1946-1964 disebut generasi Baby Bomer. 1965-1980 generasi X, 1981-1996 adalah generasi milenial sementara 1997-2012 disebut sebagai generasi Z.

Generasi milenial terbanyak karena usia 24-39 di Mimika mencapai 39 persen, disusul generasi Z yang adalah usia 8-23 tahun sebanyak 25 persen, usia 40-45 atau generasi X 19 persen dan usia 60-65 atau generasi bab bomer hanya 1 persen.

"Saya harap para generasi milenial yang ada di Mimika bisa ikut mengembangkan Kota Mimika. Generasi milenial juga bisa ikut berperan serta mengembangkan Mimika lebih maju dengan segala kreatifitas yang dimilikinya,"harap Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob.

Harapan Wabup John Rettob disampaikan usai mendengar pemaparan BPS bersama Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Mimika beberapa waktu lalu di rumah jabatan SP II.

Terkait masalah jumlah kependudukan, Wabup John memberikan apresiasi karena BPS dan Dukpencapil Mimika tidak lagi memiliki perbedaan yang jauh terkait data pasti jumlah penduduk di Mimika.

"Ini yang kita mau samakan supaya jangan ada perbedaan. Kita juga mau tahu persis berapa jumlah penduduk di Mimika. Karena pendekatan yang dilakukan oleh BPS adalah pendekatan bukan per KTP tetapi kategori de jure," ujar Wabup John saat itu. 

Ia mencontohkan secara de jure, seorang penduduk memiliki KTP Mimika namun saat ini sedang berdomisili di Jakarta, mungkin karena sedang mengikuti kuliah. Walau penduduk tersebut merupakan penduduk asli Mimika namun sudah menjadi penduduk Jakarta.

Selain itu, ada juga warga yang kerjanya di Mimika bahkan telah menetap selama 6 bulan namun tidak memiliki KTP Mimika.

"Inilah yang di data oleh BPS. Sedangkan,  kalau Dispencapil itu bicara soal warga Mimika yang mempunyai KTP," ungkapnya.

Diakui Wabup John walau tidak terlampau jauh namun terbukti masih ada perbedaan data sensus penduduk antara BPS dan Dukpencapil Mimika sebanyak 373 jiwa.

"Tapi kita akan cek lagi perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Data BPS saat ini adalah 311.969 jiwa yang ada di Mimika. Artinya, sudah ada perbedaan cukup jauh dari tahun sebelumnya. Sensus penduduk terakhir kan tahun 2010 dan ada peningkatan dari 2010 ke 2020 sebesar 5,54 persen," jelasnya. 

Wabup juga mengakui bahwa sebenarnya belum semua masyarakat Mimika yang terdata dalam sensus 2020. Hal ini karena situasi covid dan adanya sejumlah penolakan oleh sejumlah warga untuk di data.

"Pendataan nanti akan dilanjutkan di September 2021 karena pendataan yang ada ini tidak bisa dilihat berapa jumlah KK, pendidikannya seperti apa, masuk kategori miskin atau tidak dan lain-lain, itu yang belum. Nanti, di 2021 bulan September akan dilaksanakan pelaksanaan sensus penduduk lagi," jelasnya.

Wabup juga mengatakan bahwa penolakan sebagian warga karena tidak ingin disensus lebih diakibatkan karena kurangnya sosialisasi.

"Saya himbau supaya ke depan dilakukan sosialisasi kepada masyarakat mungkin mulai dari tingkat lurah, RT maka masyarakat akan tahu,"tuturnya. 

Dikatakan Wabup John, hasil sensus penduduk 2020 ini juga menyebutkan ada peningkatan usia hidup di atas 65 tahun mencapai 2,23 persen. Hal ini menurutnya sangat positif.

Jumlah ini meningkat jika dibandingkan sensus 2000 dan 2010. Tahun 2000 hanya 0,84 persen, sementara 2010 turun menjadi 0,54 persen.

Artinya dulu banyak warga yang belum mencapai usia 65 tahun telah meninggal namun saat ini banyak warga Mimika yang sudah mencapai bahkan melebihi usia tersebut.

"Ini artinya mungkin kesehatan sudah lebih baik sehingga usia 65 tahun keatas meningkatnya cukup banyak. Kenaikan juga terjadi pada usia antara 0-14 tahun artinya banyak keluarga muda, banyak anak yang lahir sehingga presentasinya naik," jelasnya.

Perlu diketahui, selain pendataan jumlah penduduk oleh BPS, Dukpencapil juga tengah melakukan hal yang sama dan kini telah mencapai 66 persen pencatatan kependudukan terhadap seluruh masyarakat Kabupaten Mimika. Pencatatan belum selesai dilakukan namun akan lebih ditingkatkan.

Pendataan masih membutuhkan waktu karena masalah pandemi saat ini dan belum meleknya sebagian warga Mimika terkait pendataan via online.

Wabup John berharap agar sensus yang dilakukan Dukpencapil dilakukan mulai dari masyarakat pesisir dan pegunungan. Ia mengatakan saat ini banyak warga pegunungan di Timika sehingga hal seperti ini harus diperhatikan sehingga tidak terjadi pendoubelan.

"Saya kira mungkin 10-20 ribu orang belum di data. Dari sensus ini saya melihat ada hal-hal positif yang kita bisa ambil, contoh usia harapan hidup dibanding di tahun 2010 dengan 2020 sensusnya ternyata tinggi," ungkapnya. 

Kepala BPS Mimika, Ir Trisno L Tamanampo juga mengakui bahwa masih ada perbedaan data kependudukan antara BPS dan Dukpencapil Mimika.

"BPS dengan Dukpencapil hitungannya sama walaupun kami tetap memakai data dasar Dukpencapil untuk kita verifikasi lapangan dan hanya selisih 373 jiwa. Cukup kecil, karena ini kan sesuai dengan Perpres 39 tahun 2019 menuju 1 data Indonesia. Kita masih menuju hal ini sehingga di tahun 2024 semua sudah harus sama," jelasnya.

Terkait perbedaan ini, Trisno mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan sharing dengan Dukpencapil agar sebelum 2024 telah ada kesamaan data.

"Nanti kami juga akan lakukan sensus penduduk lanjutan, dengan banyak indikator yakni sebanyak 99 pertanyaan yang akan ditanyakan kepada responden. Tetapi ini nanti sampel saja, tidak semua penduduk yang didata. Kita juga akan melihat yang perbedaan-perbedaan data yang ada di Dukpencapil mungkin bisa terjawab di sensus penduduk lanjutan,"tuturnya. 

Sementara itu, Kepala Dukpencapil Mimika, Slamet Sutejo mengatakan, selama ini data yang terjadi begitu signifikan antara BPS dengan instansibya.

"Ini semua beproses tetapi pada prinsipnya saya sangat apresiasi sekali kepada BPS atas kerja sama yang baik dengan Pemda Mimika sehingga kita sudah sangat mendekati data ini. Jadi hanya selisih 373. Bagi kita itu kan kemarin di September 2020, sementara data di kami kan dinamis antara September sampai Januari karena pasti ada orang lahir, pindah dan meninggal," jelasnya. 

Slamet Sutejo juga tidak terlalu mempersoalkan perbedaan itu karena data yang disampaikan BPS adalah September 2020 sementara Dukpencapil update datanya pada Desember 2020.

"Jadi sebenarnya nyaris sama. Ini luar biasa, karena selama ini datanya selalu berbeda, bingung mau memakai mana untuk acuan. Sementara untuk DAU, DAK dan lainnya, indikator kemiskinan selalu dari statistik sementara terjadi keep yang begitu besar," ungkapnya. 

"Kita bersyukur ini sudah mulai menipis, tinggal sedikit. Hampir samalah menurut saya karena tidak terlalu jauh perbedaannya. Mudah-mudahan kita bisa mewujudkan 1 data nasional yang falid, akurat dan juga multi guna sehingga bisa dijadikan dasar pengambilan kebijakan, keputusan yang tepat oleh pemerintah maupun pihak-pihak yang memang membutuhkan base data kependudukan,"ungkapnya. (Shanty)

 

 

Top