2 Kasus Kaki Gajah Ditemukan, Dinkes Mimika Gelar Workshop

Foto bersama di sela kegiatan

MIMIKA,BM

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika menggelar workshop tatalaksana kasus kronis filariasis (kaki gajah) di Hotel Grand Tembaga, Rabu (1/7/2026).

Workshop yang dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinkes Mimika, Sisma HL ini diikuti oleh Promosi Kesehatan (Promkes) Pj Filariasis dan Dokter.

Adapun, tujuan workshop ini untuk membekali tenaga kesehatan dengan keterampilan medis dan edukasi perawatan mandiri (seperti menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi sekunder dan perawatan kaki bengkak) untuk menekan angka kecacatan.

Sekretaris Dinkes Mimika, Sisma HL mengatakan, bahwa kenapa dilakukan workshop ini karena pihaknya menemukan dua kasus kronis filariasis (kaki gajah) di Timika. Oleh sebab itu, dengan adanya kegiatan ini maka dapat segera melakukan tatalaksana penanganan berupa pemeriksaan, pengobatan, serta pemantauan lanjutan.

"Tidak hanya itu, langkah pencegahan massal juga kami siapkan untuk memutus rantai penularannya," Kata Sisma.

Sisma menegaskan, penanganan tidak hanya pengobatan, tetapi juga penguatan fungsi promosi kesehatan (Promkes) dan surveilans. Bahkan keterlibatan masyarakat menjadi tantangan utama yakni, kesediaan warga untuk melakukan pemeriksaan dan mengikuti pengobatan.

Menurutnya, banyak hal yang harus dipersiapkan sama halnya dengan melakukan surveilans ilmiah, di mana masa inkubasi filariasis setelah gigitan nyamuk berkisar 6–12 bulan, kemudian nyamuk dapat hidup dan menularkan dalam 2–4 minggu.

"Hal inilah yang harus kita waspadai,” ujarnya.

Dijelaskan, tatalaksana ini harus ada strategi penanganan, yakni penguatan Promkes, edukasi agar masyarakat mau diperiksa dan berobat, kemudian surveilans ilmiah, pemahaman siklus hidup nyamuk dan masa inkubasi untuk menentukan waktu pemeriksaan.

Katanya, dengan adanya kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tokoh masyarakat dan lintas program maka kegiatan ini tidak sekadar formalitas dan pemeriksaan mikrofil, di mana hasil bisa berbeda tergantung waktu pemeriksaan (siang/malam).

“Tantangannya itu, kesadaran masyarakat rendah, masih ada warga yang menutup-nutupi kondisi kesehatan, kemudian keterbatasan hasil pemeriksaan. Maka itu saya harap kegiatan tidak boleh sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama,”ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M), Kamaludin mengatakan, tahun 2026 ini ditemukan 2 kasus kronis filariasis di Kabupaten Mimika. Filariasis disebabkan cacing filaria di kelenjar getah bening, menimbulkan pembesaran kaki, tangan, dan alat kelamin bila tidak diobati.

Program pencegahan yang dilakukan Dinkes Mimika yakni melaksanakan POP M (pemberian obat pencegahan massal) selama 8 tahun berturut-turut.

“Tujuan kegiatan ini untuk peningkatan keterampilan diagnosis, bagi petugas puskesmas dan rumah sakit, kemudian melatih tenaga kesehatan dalam tatalaksana pasien, memperkuat edukasi masyarakat agar mau diperiksa dan berobat dan terpenting meningkatkan cakupan laporan ke Dinkes Mimika,”tutur Kamaludin.

Ia berharap, tatalaksana kasus kronis berjalan sesuai standar, program POPM selektif untuk kasus baru, kunjungan rumah bagi pasien kronis dan semua kasus kronis terlapor ke Dinkes Mimika.

“Hari ini kita punya narasumber dari Kementerian Kesehatan RI dengan metode, presentasi, diskusi, dan simulasi perawatan kasus kronis. Kami harap dengan adanya kegiatan ini di tahun 2030 Mimika mendapatkan sertifikat bebas filariasis bila seluruh tahap lulus,” pungkasnya. (Shanty Sang)

Top