PT Freeport Indonesia Gunakan Vaksin Sinopharm

Johnny Lingga, Vice Presiden PTFI Bidang Hubungan Pemeritahan

MIMIKA, BM

Managemen PT Freeport Indonesia (PTFI) akan menggunakan vaksin Sinopharm untuk melakukan vaksinasi terhadap karyawan dan keluarga mereka baik di highland maupun lowland.

Manajemen PTFI telah memesan vaksinnya dan tahap pertama akan tiba pekan depan sebanyak 11 ribu vaksin.

"Kita sudah komitmen akan gunakan vaksin gotong royong, vaksin sinopharm dari Bio Farma. Kita sudah atur administrasi untuk laksanakan vaksinasi tahap pertama," tutur Vice Presiden PTFI Bidang Hubungan Pemerintahan, Jonny Lingga saat diwawancarai di Rimba Papua Hotel, Rabu (9/6).

Jonny mengatakan, vaksin sinopharm sebanyak 11 ribu ini yang akan menjadi prioritas adalah karyawan-karyawan yang berinteraksi langsung dengan publik, misalnya pangan sari, operator logistik truck, security, SLD dan govrel.

Diakui Jonny, bahwa tahap pertama vaksin sebany 11 ribu ini belum sesuai kebutuhan karena pihaknya telah memesan 75 ribu vaksin.

"Jadi masih banyak yang kita butuhkan. Sejauh ini kami menunggu penyaluran selanjutnya. Kami sudah optimis bahwa nanti akan terpenuhi semua tinggal tunggu waktu saja. Kita sudah tanda tangan dengan bio farma dan semua berjalan lancar. Tinggal nanti penyuntikannya, aplikasinya dilakukan oleh ISOS," jelas Jonny.

Katanya, kalaupun langsung datang sekaligus 75 ribu juga tentu membutuhkan waktu dalam vaksinasinya. Sehingga, bagus juha jika datangnya memang bertahap.

"Satu hari kita bisa memvaksinasi katakanlah 500 orang. Tenaga vaksinator dari ISOS sudah cukup dan sudah mempunyai ijin juga. Sudah cukup banyak juga 500 orang dalam satu hari kita lakukan vaksin," tutur Jonny.

Ditegaskan, vaksinasi diberikan kepada karyawan dan keluarga mereka dilakukan secara gratis. Pada saat vaksinasi nanti diperkirakan 500 lebih akan divaksin dalam satu hari.

"Vaksin itu pilihan, kalau ada yang tidak mau maka managemen pun tidak bisa memaksa. Itu terserah mereka. Konsekuensinya kita tidak tahu. Tapi kalau pemerintah menerapkan suatu kebijakan dimana yang sudah vaksin tidak perlu lagi tes maka yang menolak vaksin harus terima,"ujarnya.

Dikatakan, bagi para karyawan dan keluarga yang sudah vaksin nantinya akan menerima sertifikat yang dikirim ke 119.

"Walau sudah vaksin namun karyawan naik turun Tembagapura tetap melakukan antigen karena belum ada kebijakan baru dari pemerintah. Kalau ditemukan reaktif tidak boleh naik, begitu juga yang dari atas kalau maka reaktif tidak boleh turun," ungkapnya. (Shanty)

Top