Kasus Cerai di Pengadilan Agama Mimika Ciptakan Rekor Baru


Kepala Kantor Pengadilan Agama, Supian Delani

MIMIKA, BM

Kasus perceraian di Kantor Pengadilan Agama Mimika hingga bulan ke-4 tahun 2021 meningkat drastis hingga 100 persen, bahkan memecahkan rekor jumlah kasus perceraian terbanyak baik selama satu bulan maupun empat bulan terakhir.

Kepala Kantor Pengadilan Agama Mimika, Supian Delani mengatakan hingga Selasa (13/4) tercatat ada 98 kasus perceraian dan jumlah ini merupakan jumlah terbanyak selama beberapa tahun terakhir.

“100 persen meningkat. Saya tidak tahu apakah ini karena masalah kau covid atau karena kami kurang sosialisasi secara door to door ke masyarakat,” ujarnya.

Supian Daelani tidak menyebutkan penyebab uatama tingginya kasus perceraian namun ia mengatakan kasus perceraian meningkat bukan hanya disebabkan karena masalah ekonomi namun juga karena KDRT dan perselingkuhan.

“Intihnya ada pertengkaran dalam rumah tangga mereka. Ini termasuk tinggi karena biasa paling banyak 10 kasus dalam sebulan tapi sekarang satu bulan 30 kasus cerai. Jadi minimal dalam 1 hari ada 1 kasus cerai. Tahun lalu jumlah keseluruhan kasus cerai ada 185, sekarang baru masuk April saja sudah 98,” terangnya.

Laporan atau aduan perceraian menurut Supiani lebih banyak dilakukan oleh perempuan. Sementara secara tingkatan ekonomi didominasi oleh kelompok ekonomi menengah ke atas.

“Terbanyak di Distrik Mimika Baru. Karyawan yang mendominasi. Dari 98 kasus, 75 persennya karyawan. Freeport juga ada, privatisasi juga termasuk karyawan yang ada di kota yang paling banyak,” ujarnya.

Secara tingkatakan ekonomi, ia mengatakan banyak karyawan memiliki pendapatan yang tergolong mumpuni namun dalam pengelolaan kadang menjadi masalah, karena pendapatan yang didapatkan tidak semua diberikan kepada isteri.

"Secara formalitas mereka ajukan cerai karena ekonomi. Kalau karyawan, mereka kadang tidak sepenuhnya kasih pendapatan dia ke isterinya. Ada yang hanya 20 atau 30 persen dari gajinya jadi tidak tahu lebih banyak larinya ke mana," ujarnya.

Supian Daelani berharap hal ini juga harus menjadi perhatian bersama dengan Pemerintah Daerah Mimika. Pemda diminta untuk aktif melakukan penyuluhan tentang perkawinan kepada masyarakat agar tingginya kasus perceraian tidak sampain menjadi fenomena baru di Mimika. (Ronald)

 


 

Top