Harga Telur Meroket, Ini Penjelasan Kadis Peternakan Mimika

Kadis Peternakan Mimika

MIMIKA, BM

Harga telur melambung tinggi di pasar merupakan ulah dari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab dengan memanfaatkan kesengsaraaan dan kepanikan masyarakat terhadap penyebaran Covid-19 di Mimika.

Pihak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak & Keswan) Kabupaten Mimika, Yosefine Sampelino mengklaim bahwa harga telur dari peternak atau kandang tetap normal dan tidak mengalami kenaikan.

"Telur dari kandang kami itu harganya hanya Rp55 ribu jadi seharusnya di pasar itu hanya dijual dengan harga maksimum Rp60-65 ribu tapi ini sudah sangat keterlaluan,"tutur Kepala Dinas Yosefine Sampelino saat diwawancarai di Mozza, Rabu (25/3).

Katanya, pihaknya akan melakukan sidak (inspeksi mendadak) kepada mereka yang memanfaatkan kesengsaraan rakyat saat ini untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Dinas ini juga akan mencari tahu para pelaku atau pemilik telur dengan harga selangit itu untuk dimintai pertanggungjawaban mereka.

"Yang jelas yang bisa kami kontrol adalah dari kandang karena kami ada perhimpunan yang mengatur harga dan tidak boleh lebih dari yang sudah ditetapkan. Sampai sekarang kami punya produksi tetap normal 10-11 ton per hari, kalau naik harga tiba-tiba ini tidak wajar dan ini adalah kelakuan dari pedagang-pedagang yang tidak bertanggungjawab,” ujarnya.

Ia pun menjamin, bahwa para peternaknya tidak akan permainkan harga jual kepada pedagang. Kondisi ini kadang terjadi jika harga jual sebelum ke pasar juga melambung. Akibatnya pedagang menjual dengan harga selangit.

"Saya jamin dari kandang atau peternak tidak akan menaikkan harga. Kalau di pasar kami tidak bisa awasi yang kami awasi adalah di kandang. Ini yang akan kami caritahu,"tegasnya.

Ia menjelaskan, ketika harga jua dari peternak mahal maka pihaknya dapat melakukan pemesanan telur dari luar daerah.

Jika kondisi ini terjadi, sudah tentu para peternak lokal akan mengalami kerugian sehingga selama ini mereka tidak mempermainkan harga dan biasa berkisar Rp55 ribu untuk satu rak telur.

“Ini bisa terjadi kecuali harga pakan ayam naik maka pasti harga jual telur ayam juga naik. Kalaupun demikian, biasanya kita duduk bersama dengan Hipukami dulu untuk menentukan kenaikan harganya. Jadi tidak mungkin akan sebesar itu,” jelasnya.

Yosefine Sampelino menegaskan, untuk Mimika tidak ada distributor telur. Hanya ada peternak binaan pemerintah yang bekerjasama dengan Hipukami.

Sebelum di pasarkan, pedagang biasanya membeli langsung di peternak. Ia juga tidak mengetahui jika mungkin ada yang berlaku nakal, membeli banyak dan menimbun kemudian menjual dengan harga saat ini.

“Selama ini peternak berupaya agar menjaga kestabilan telur pasar karena kalau telur kurang dan didatangkan dari luar maka itu ancaman bagi mereka. Karena jika peternak menjual mahal maka akan didatangkan yang lebih murah,” ujarnya.

“Kalau yang bermain pedagang maka itu di luar pengawasan kami. Peternak itu tidak sembarangan menentukan harga. Kami himbau kepada pedagang agar membeli telur dari peternak dan harga maksimum yang dijual di pasar adalah Rp65 ribu," tegasnya. (Shanty

 

 

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top