Budaya

Pertegas 7 Hal, Lemasa Mulai Tata Tanah Adat di Mimika

Amungeme Nagawan, Menuel Jhon Magal dan Direktur Eksekutif Lemasa, Fransiskus Pinimet membuka tirai papan nama tanah adat masyarakat Amungme

MIMIKA, BM

Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA) sudah menata dan menyelamatkan seluruh tanah adat di Mimika, Provinsi Papua Tengah.

Penataan tanah adat untuk keberlangsungan hidup generasi penerus Amungme ini adalah program kerja pertama lembaga yang diketuai Menuel Jhon Magal.

Penataan tanah adat ini dilakukan agar tidak ada lagi masyarakat Amungme yang menjual tanah, dan hanya boleh disewakan saja.

Program kerja pertama ini diawali dengan acara ibadah, bakar batu bersama lima suku kekerabatan, pembacaan pernyataan sikap yang ditandai dengan membuka tirai papan nama batas wilayah adat Amungme di Jalan SP V, Jumat (4/8/2023).

Tokoh Masyarakat Amungme, Yanes Natkime dalam sambutan mengatakan, masyarakat suku Amungme dan Kamoro harus bersatu dan tidak boleh berbicara tentang tanah dan diri pribadi.

"Harus tahu mana kita punya dan mana orang lain punya. Amungme tidak boleh melangkahi ambil tanah Kamoro, tidak boleh ambil tanah sampai di Mioko. Itu melangkahi hukum adat,“ tegas Yanes.

Selain Amungme, suku Kamoro juga tidak boleh mengambil tanah sampai di kaki gunung, atau mengambil hak masyarakat Amungme.

Ia juga berpesan agar jika ingin berbicara masalah tanah maka harus duduk secara bersama.

"Jaga kekerabatan satu dan lain dengan baik, jangan ada permusuhan diantara kita. Pemerintah juga harus duduk kerja sama dengan Lemasa," ujarnya.

Tokoh Amungme, Agustinus Anggaibak pada kesempatan yang sama mengatakan, tanah papua adalah tanah adat yang tidak bisa dipermainkan siapapun.

Lemasa jangan hanya sampai di sini saja, jika ada masalah di masyarakat harus bantu selesaikan.

“Jangan Lemasa orientasinya hanya Freeport untuk dapatkan uang. Saya mau Lemasa bekerja keras untuk mengembalikan hak dasar orang asli Papua," ungkapnya.

Sementara itu, Amungeme Nagawan (Ketua Lemasa) Menuel Jhon Magal mengatakan, kegiatan ini adalah program pertama untuk menetapkan tapal batas tanah-tanah masyarakat Dani dan Amungme agar tidak ada permasalahan kedepannya.

"Lemasa patok ikuti garis batas yang kita buat. Hampir 30 tahun Amungme tidak pernah identifikasi tanah, jadi pengurus kali ini akan menata tanah-tanah yang ada agar kita tahu berapa luas tanah yang dimiliki oleh Amungme," terang Menuel.

Ia menghimbau kepada masyarakat luar agar jangan resah dengan apa yang dibuat ini karena pihaknya juga akan menghormati setiap orang yang ada di Timika dan sama sekali tidak mengganggu.

Berikut pernyataan sikap Suku Amungme dibawah naungan Lemasa yang memandang tanah adalah mama.

Tanah Amungsa merupakan titipan leluhur kepada Amungme secara turun temurun Kami memiliki kedaulatan adat atas tanah, kekayaan alam, dan segala yang ada di bumi dimana hak kedaulatan tersebut kita kenal dengan sebutan "Amungun".

Tanah termasuk hak milik Amungme yang berada dalam wilayah kedaulatan adat suku Amungme yang tidak dapat diintervensi oleh siapapun.

Tanah Amungsa, Amungme maknai sebagai Mama Amung-in yang selalu menyediakan segala kebutuhan hidup sehari-hari bagi anak-anaknya. Adapun makna tanah di pandangan Amungme sebagai berikut:

Amungme memandang bahwa tanah-tanah di bawah kedaulatan wilayah adat "Amungun" adalah Mama kandungannya.

Mereka harus setia menjaga Mama dan tidak diperjual belikan kepada orang asing maupun sesama suku bangsa Amungme.

Harus setia menjaga dan memelihara tanah air titipan leluhur sebagai sumber kehidupan masyarakat adat suku Amungme.

Setia menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya Amungme, warisan leluhur, dan titipan bagi anak cucu.

Pemerintahan Adat dan 1 wilayah diaspora, menyatakan sikap sebagai berikut :

Pertama, tanah di seluruh wilayah Kabupaten Mimika yang berada dalam kedaulatan adat suku Annungme sepenuhnya milik Amangme dan tidak dapat diintervensi.

Kedua, Undang-undang Otsus No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua jangan diterobos, dirampas oleh siapapun.

Tahun 2021 tentang Otsus Jilid 2 merupakan kebijakan negara dalam rangka mengembalikan hak-hak dasar Orang Asli Papua (OAP), karena itu, negara wajib mengembalikan hak-hak kami salah satunya tanah-tanah adat kami harus diakui dan dikembalikan kepada masyarakat adat.

Ketiga, masyarakat adat Amungme adalah tuan tanah (land lord) negeri Amungsa dan dilindungi oleh LEMASA, maka dalam kasus tanah di Timika, maka Amungme tidak boleh diadili di Pengadilan Negeri.

Keempat, sertifikat yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Fak-Fak tidak di berlakukan sebab hanya mengeluarkan sertifikat untuk merampas hak-hak masyarakat adat Amungme dan Kamoro di Kabupaten Mimika.

Kelima, surat pelepasan tanah dan hak garapan yang dikeluarkan oleh Badan Pemerintah Kabupaten Mimika, ditarik oleh LEMASA. Karena LEMASA merupakan Pemerintahan Adat yang sah dan sebagai pemilik tanah lebih relevan mengeluarkan surat-surat tersebut.

Keenam, berdasarkan keputusan Musyawarah Adat (MUSDAT) LEMASA III tahun 2023 tanah-tanah di Timika yang menjadi bagian dari tanah adat Amungme akan berlakukan hak pakai dan hak sewa dan suku Amungme tidak boleh jual belikan tanah karena hal tesebut sama dengan jual mama sendiri.

Ketujuh, siapapun suku bangsa dari berbagai wilayah Republik Indonesia yang datang ke Timika, masuk di rumah adat Amungme yang berdomisili di wilayah adat suku Amungme, karena itu, wajib menghargai dan menghormati kedaulatan adat kami. (Shanty Sang)

Angkat Budaya Lokal, Performing Art Laku Dalam Ruang Segera Hadir di Mimika

Foto bersama Panitia Perform Art Laku Dalam Ruang.

MIMIKA, BM

Laku Dalam Ruang, sebuah performing art yang merupakan salah satu program dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) akan segera ditampilkan di Kota Timika, Papua Tengah.

Pementasan seni budaya yang termasuk dalam pekan kebudayaan ini direncanakan bakal digelar selama sehari penuh pada tanggal 29 September 2023 mendatang di lokasi Pasar Minggu, SP1, Timika.

Hal itu diungkapkan Alfo Smith selaku Pimpinan Produksi Laku Dalam Ruang saat ditemui di Timika pada Kamis (7/9/2023) malam.

Dijelaskan bahwa di dalam pagelaran ini, sejumlah komunitas kreatif dan sanggar-sanggar seni di Kabupaten Mimika akan turut dilibatkan untuk menampilkan buah hasil karyanya.

Beberapa perform yang sempat disebutkan yaitu penampilan tari-tarian dari berbagai sanggar dan pertunjukan musik 100 ukulele, serta parade fashion show yang mengikutsertakan puluhan peserta berbakat.

Di samping itu, adapun penampilan kolaborasi antara pelaku-pelaku seni di Mimika dan dua seniman terbaik yang terpilih dalam open call seluruh Indonesia oleh Kemendikbudristek, yakni Gelar Prakosa, seorang penulis asal Kediri, Jawa Timur dan Nusa Wicaca, seniman dari Jakarta.

"Jadi, nanti mulai tanggal 10 September 2023, kedua seniman ini akan tinggal di Timika untuk bersama-sama saling bertukar ilmu dengan komunitas kreatif di Mimika. Selanjutnya, mereka akan berkolaborasi mengemas sebuah pertunjukan yang akan ditampilkan di tanggal 29 September 2023 nanti," jelas Alfo.

Lebih lanjut Kevin Christo Nanlohy selaku Koordinator Lapangan pada event ini menyampaikan bahwa selain pertunjukan seni, acara ini pun telah menjalin kerja sama dengan sejumlah UMKM untuk memasarkan produk-produk terbaiknya, mulai dari pernak-pernik khas Papua hingga jajanan kuliner yang tentunya akan dijual dengan harga yang lebih terjangkau.

"Ikon yang mau kita tunjukkan di sini itu lebih kepada budaya Papua, khususnya Mimika, sehingga kami melibatkan semua pelaku seni dan budaya, termasuk para UMKM yang ada. Kami mau supaya para pelaku seni dan UMKM di Mimika ini bisa hidup dari hasil karya dan produksinya," kata Kevin yang juga aktif di sanggar Team Haleluya.

Di sisi lain, Yanpit Maniani yang berperan sehagai Harvesting Laku Dalam Ruang, menyebutkan bahwa event ini nantinya dapat menjadi batu loncatan bagi pelaku-pelaku seni di Mimika untuk tetap eksis dalam berkarya dan terus berkelanjutan mengadakan event-event serupa.

"Kami juga akan membuat film dokumenter dari event ini sehingga bisa memotivasi dan memacu semangat para seniman untuk terus menghasilkan karyanya," ungkap Yanpit.

"Ya harapan kami, event ini nantinya terus berlanjut sehingga pelaku seni di Mimika bisa hidup, serta tradisi dan budaya kita juga tidak lekang di makan zaman yang terus berkembang," imbuhnya.

Diketahui, sampai dengan saat ini, persiapan performing art Laku Dalam Ruang sudah mencapai sekitar 50 persen.

"Untuk persiapan sudah sekitar 50 persen. Kami juga masih membuka kesempatan bagi para UMKM untuk ikut terlibat meramaikan event ini," kata Stage Management, Ina Elena.

Bagi pelaku UMKM yang ingin bergabung, lanjut Ina, dapat menghubungi via telpon/WA 081247401886 (Yan) dan 081240899092 (Mia). (Endy Langobelen)

Peserta Mimika Dance Karnival Siap Guncangkan Mimika

Terlihat beberapa talent-talent mengikuti pemotretan kostum

MIMIKA, BM

Untuk mensukseskan Mimika Dance Karnival dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Mimika ke-28 tahun 2023 agar berjalan dengan lancar serta mengguncang kemeriahan di Kabupaten Mimika, para peserta mulai antusias dengan mengikuti beberapa workshop dari tim Jember Fashion Carnival (JFC).

Hal ini dilakukan mengingat pertama kalinya Pemda Kabupaten Mimika melalui Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga melaksanakan kegiatan dengan menggandeng Jember Fashion Carnival (JFC), yang mana JFC merupakan penyelenggara festival nomor 1 di dunia.

Selaku Direktur JFC Global Indonesia, Anditia Kombat kepada awak media, Rabu (20/09/2023) di Kantor Sekretariat Mimika Dance Karnival mengaku sangat senang, pasalnya para peserta atau talen-talent yang punya bakat ini terlihat antusias dan luar biasa.

"Kami lihat adik-adik ini perkembangannya luar biasa, yang mana awalnya belum mengenal fashion secara profesional tapi dengan kedatangan kami yang kedua disini itu terlihat auranya keluar dan begitu semangat. Kami sangat yakin talenta-talenta terbaik muncul di Mimika Dance Karnival,"ungkapnya.

Kata Anditia, pihaknya sudah lima hari fokus melakukan workshop secara gratis kepada seluruh talent yang ada di Mimika.

"Kurang lebihnya hampir 100 talent semuanya mengikuti workshop makeup, workshop runway, workshop fashion dance. Dan di hari ini (kemarin) tepatnya talent semua melakukan napak tilas, yakni perjalanan dari star gedung Eme Neme Yauware hingga finis di lampu merah Budi Utomo,"katanya.

Lanjutnya,"Dimana dalam perjalanan tersebut ada dua titik performen yaitu depan bank BCA dan depan kantor Sekretariat Mimika Dance Karnival dan di finis itu adik-adiknya juga melaksanakan performen untuk dance. Dan hari ini diikuti kurang lebih 80 peserta runway, fashion dance,"sambungnya.

Dalam memperkenalkan runway sepanjang 2 km lebih, kata Anditia, agar kepada para talent memahami dan tahu titik-titik dimana mereka perform serta mengukur kemampuan, stamina dan power selama berjalannya fashion runway.

"Disini juga kita memperkenalkan kepada masyarakat Mimika serta mengajak masyarakat Mimika untuk bersama-sama mensukseskan event Mimika Dance Karnival di tanggal 15 Oktober nanti. Jadi kami juga selain berlatih juga mempromosikan kepada masyarakat di Mimika,"katanya.

Sementara itu Aminudin selaku project manajer tim lokal Mimika Dance Karnival menyampaikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan sore hari ini adalah rangkaian dari promosi dan sosialisasi untuk memperkencang informasi kepada masyarakat Mimika.

"Jadi talent-talent yang ikut tadi itu sebanyak 80 orang, dan itu perwakilan dari 500 talent-talent yang sudah terdaftar. Mereka asli anak-anak terbaik dari putra-pitri di Mimika, 90 persen anak-anak Amungme dan Kamoro," ujarnya.

Sedangkan untuk progres persiapan panitia lokal sendiri hingga saat ini, kata Aminudin sudah 70 persen, dan saat ini panitia sedang rekrut tim iven.

"Jadi tim-tim ini nantinya membantu mulai dari LO, mulai dari asisten manajer, asisten direktur, asisten artis dan asisten makeup. Semuanya kita rekrut juga sebagian dari anak-anak Amungme dan Kamoro,"katanya.

Perlu diketahui bahwa dalam Mimika Dance Karnival juga dilibatkan paguyuban suku-suku diluar Papua yang ada di Timika. Dan untuk target pesertanya itu sebanyak 1000 orang. (Ignasius Istanto)

Top