Budaya

Berjalan Aman, Perayaan Ibadah Jumat Agung Dikawal 127 Personel Polres Mimika

Foto Istimewa/Nampak personel Polres Mimika saat melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas.

MIMIKA, BM

Suasana tenang dalam perayaan Jumat Agung, mempunyai arti penting bagi umat Kristiani karena merupakan perwujudan mengenang peristiwa wafatnya Yesus Kristus di Kayu Salib.

Untuk itu, guna menciptakan situasi aman dan kondusif sebelum, selama dan sesudah pelaksanaan Ibadah, sebanyak 127 personel Polres Mimika dikerahkan untuk melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas di 14 gereja yang tersebar di wilayah Distrik Mimika Baru pada Jumat (18/04/2025).

Selain itu, pengamanan juga dilakukan oleh jajaran Polsek di wilayah Polsek Kuala Kencana, Polsek Tembagapura, Polsek Mimika Timur, Polsek Kokonao, Polsek Agimuga dan Pelabuhan Poumako.

Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman melalui Kasi Humas Polres Mimika, Iptu Hempy Ona, menyampaikan bahwa pengamanan ini merupakan bentuk komitmen Polres Mimika dalam menjamin rasa aman dan nyaman bagi umat Kristiani yang melaksanakan ibadah.

"Personel Polres Mimika menjalankan tugas pengamanan dengan penuh rasa tanggung jawab, humanis, dan tetap waspada. Kegiatan pengamanan dan pengaturan arus lalu lintas ini sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat,” ujar Hempy.

Disampaikan Kasi humas Polres Mimika bahwa agar seluruh rangkaian ibadah dapat berjalan aman dan lancar, koordinasi dengan tokoh agama dan pengurus gereja sangatlah penting.

"Dengan pelaksanaan pengamanan ini, diharapkan situasi kamtibmas di wilayah Mimika tetap kondusif, dan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang." ujar Hempy. (Ignasius Istanto) 

Cerita George Valentino Usai Berperan Sebagai Yesus

Momen ketika Yesus disalibkan

MIMIKA, BM

George Valentino (21) salah satu Orang Muda Katolik (OMK) dari Gereja Santo Stefanus Sempan, Timika dipercaya untuk berperan sebagai Yesus dalam tablo Kisah Sengsara Yesus atau Jalan Salib Hidup yang dilaksanakan Jumat (18/4/2025) pagi.

Peristiwa Jalan Salib Hidup sebagai jalan penderitaan Yesus ini dimulai dari Gedung Tongkonan di jalan Sam Ratulangi dimana perhentian pertama dimulai ketika Yesus dijatuhi hukuman.

Kemudian, Yesus menyusuri jalan Sam Ratulangi menuju jalan Yos Sudarso sambil memikul salib. Dalam perjalanannya, cambukan dan teriakan terus terdengar sambil mengelu-elukan Yesus.

Hingga tiba di halaman Gereja Santo Stefanus Sempan, pada perhentian kesebelas yakni Yesus disalibkan suasana haru terasa. 

Suara seruan Salibkan Dia! Salibkan Dia! terus berkumandang dari para pemeran tablo lainnya.

Suasana sedih pun kian terasa saat peristiwa perhentian ke-12 Yesus Wafat di kayu salib hingga Yesus diturunkan dari kayu salib dan dimakamkan. 

Umat yang ikut dalam Jalan Salib Hidup dan menyaksikan tablo itu tak sedikit yang meneteskan air mata.

Usai memerankan Yesus kepada BeritaMimika, George berkata momen ketika perhentian VIII yakni Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangisi-Nya merupakan momen yang berkesan baginya.

“Momen yang saya rasakan sedih ketika di perhentian VIII Putri Yerusalem. Ada salah satu adik perempuan berdiri, menangis lalu peluk saya. Disitu saya rasa haru. Sedih sekali,” katanya.


George Valentino usai memerankan Yesus

Cambukan yang dia terima dalam memerankan tablo ini terasa sakit namun itu adalah salib yang harus dia pikul.

“Dipukul sakit tapi dari awal kita puasa, pantang dan perbanyak berdoa minta kekuatan perlindungan dari Tuhan sama yakin kalau Jalan Salib ini akan berhasil. Masih sakit tapi tidak apa-apa, memang beban dan cobaannya besar sekali,” ungkapnya.

George yang sudah bergabung dengan OMK selama delapan tahun ini mengatakan lega setelah usai melaksanakan tugasnya sebagai Yesus.

“Rasanya lega karena untuk memerankan Yesus tidak sembarang orang mau. Itu memang harus dari niat. Menjadi Yesus adalah beban tersendiri untuk kita. Jadi, kalau kita tidak laksanakan itu menjadi beban pikiran. Kalau sudah selesai beban itu hilang,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Jika apa yang kita kerjakan meskipun berat tetapi kalau kita percaya pada-Nya maka akan selesai,” imbuhnya.

Ia menuturkan bahwa tahun lalu dia seharusnya memerankan Yesus tetapi karena kendala sakit baru tahun ini ia siap.

“Jangan mudah menyerah dan percaya kepada Yang Maha Kuasa, karena disaat kita percaya disitulah ada kekuatan. Kalau tidak percaya kita lemah disitu. Untuk OMK tetap aktif semuanya dan saling bekerja sama. Disaat ada masalah jangan tinggalkan suatu masalah tapi bersama untuk mencari jalan keluarnya,” harap George. (Elfrida Sijabat)

90-an Anak Muda Katolik Santo Stefanus Sempan Sukses Visualisasikan Jalan Salib Hidup

Anak-anak muda Katolik Santo Stefanus Sempan berfoto bersama usai melaksanakan tugas dalam Jalan Salib Hidup

MIMIKA, BM

Sebanyak 90-an anak muda Katolik di Gereja Santo Stefanus Sempan, Timika sukses memvisualisasikan Jalan Salib Hidup yang dilaksanakan pada Jumat (18/4/2025) pagi.

Anak muda tersebut terdiri dari Orang Muda Katolik (OMK), Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria (THS-THM) dan Misdinar.

Kolaborasi yang sangat menjiwai peran masing-masing membuat Jalan Salib Hidup begitu nyata terasa seolah umat dibawa ke masa 2000 tahun lalu dimana Yesus saat itu dijatuhi hukuman padahal IA tidak bersalah, disiksa, dan disalibkan hingga wafat di kayu salib.

Usai melaksanakan Jalan Salib Hidup, Ketua OMK Santo Stefanus Sempan, Wens Arianto Ngutra kepada BeritaMimika mengatakan persiapan yang dilakukan selama dua bulan.

“Selama satu minggu kita latihan tiga kali, jadi persiapan sekitar dua bulan lebih. Kami rapat bersama dan menentukan peran-peran penting duluan misanya seperti Yesus, Bunda Maria, Tiga Raja dan Maria Magdalena, sisanya baru lanjut dipilih,” katanya.

Untuk pemeran Yesus sendiri Wens menuturkan harus dari hati masing-masing apakah dia siap atau tidak.

“Karena persiapannya sangat sulit, cape dan melelahkan. Waktu latihan juga tidak bermain-main tapi dia serius untuk latihan sebagai Yesus,” ungkapnya.

“Saya sendiri sebagai Pilatus. Sebenarnya saya sudah empat kali memerankan Pilatus sejak 2022. Ya, Ketika memerankan Jalan Salib ini kita harus siap dengan konsekuensi yang ada dan bertanggungjawab dengan peran masing-masing,” imbuhnya.

Wens mengatakan anak muda yang terlibat sudah bekerja keras dengan latihan yang maksimal, sehingga ia berharap agar pada saat kegiatan OMK nanti turut melibatkan orang muda yang ada di Gereja Santo Stefanus ini.

“Di Paroki Santo Stefanus Sempan anak mudanya sangat banyak tapi kurang aktif terlibat di dalam gereja. Harapan saya mereka lebih sadar akan pentingnya anak muda dalam membangun gereja Katolik ini. Mereka punya peranan sangat penting sebagai tulang punggung gereja,” harapnya.

Pantauan wartawan media ini, usai melaksanakan tugas mereka berkumpul di Goa Maria dan nampak saling meminta maaf dan memeluk dengan berurai air mata. (Elfrida Sijabat)

 

Top