40 Sanggar Ikut Pelatihan Manajemen Sanggar

Para peserta dari beberapa sanggar mengikuti pelatihan

MIMIKA, BM

Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika menggelar kegiatan pelatihan manajemen Sanggar yang diikuti oleh 40 sanggar lokal dengan seni anyam dan ukir.

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Keuskupan Loresa, SP3 dibuka secara resmi oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Mimika, Ananias Faot.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Mimika, Ananias Faot dalam sambutannya menyampaikan, dengan mengusung tema mengelola karya merawat budaya ini bukanlah sekedar rangkaian kata-kata indah melainkan mengandung filosofi yang sangat mendalam.

"Tema ini merupakan panggilan hati bagi kita semua khususnya para pegiat budaya dan seni untuk terus menjaga, merawat dan mengembangkan serta mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus," kata Ananias.

Selama ini, kata Ananias, para pegiat seni dan budaya telah menjadi ujung tombak dalam menjaga warisan leluhur yang sangat berharga. Dimana, karya seni lahir dari kreativitas, ketekunan, dedikasi serta kecintaan terhadap budaya.

Menurutnya, karya yang baik tidak akan bertahan lama apabila tidak dikelola secara profesional, demikian pula budaya tidak akan tetap lestari apabila tidak dirawat secara sadar, berkelanjutan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Oleh karena itu, pelatihan ini hadir untuk menjembatani dua hal yang sangat penting yaitu bagaimana mengelola karya secara profesional sekaligus bagaimana merawat budaya dengan penuh tanggung jawab," ujarnya.

Ia mengatakan, kedua aspek tersebut merupakan pondasi utama dalam menjaga keberlangsungan sanggar Kebudayaan sebagai pusat pembelajaran kreativitas dan pelestarian identitas budaya masyarakat.

Ananias menegaskan bahwa sanggar kebudayaan dan seni yang tersebar di Kabupaten Mimika merupakan benteng dalam menjaga identitas budaya di tengah derasnya harus globalisasi, perkembangan teknologi informasi serta budaya digital yang terus berkembang.

"Sanggar kebudayaan harus tetap menjadi ruang hidup bagi tumbuh dan berkembangnya tradisi tempat nilai-nilai luhur yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya," tuturnya.

Menurutnya, sanggar yang modern, transparan, akuntabel, profesional serta berkelanjutan merupakan kunci agar sanggar mampu bertahan menghadapi perubahan zaman sekaligus berkembang menjadi lembaga kebudayaan yang kuat, mandiri dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Melalui pelatihan ini diharapkan para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan teknis mengenai manajemen sumber daya manusia, administrasi tata kelola sanggar, manajemen produksi, strategi pemasaran maupun pengelolaan keuangan yang baik dan akuntabel.

"Lebih dari itu saya berharap pelatihan ini mampu membangun cara pandang baru serta meningkatkan kapasitas para pengelola sanggar untuk mampu mengembangkan organisasi seni dan budaya secara profesional, mandiri, kreatif dan berkelanjutan sekaligus tumbuh bagi generasi muda yang mencintai seni dan budaya di daerah kita," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan Daniel Orun mengatakan, kegiatan ini diikuti oleh 40 sanggar dimana masing-masing sanggar mengirim 3 peserta. 40 sanggar ini dari keterampilan menganyam dan ukir.

"Pelatihan ini diadakan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan sanggar agar lebih profesional dan berkelanjutan tanpa kehilangan nilai tradisi," ujar Daniel.

Adapun tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan keterampilan peserta tentang manajemen organisasi sanggar,  memberikan keterampilan praktis dalam administrasi pemasaran sumber daya manusia dan pengelolaan keuangan dan mendorong profesionalisme tanpa meninggalkan nilai budaya tradisional. (Shanty Sang)

Top