Ribuan Umat Katolik Ikut Misa Pembakaran Daun Palma Menyambut Rabu Abu

Pembakaran Daun Palma kering di Gereja Katedal Tiga Raja
MIMIKA, BM
Dalam rangka menyambut Masa Prapaskah, ribuan umat Gereja Katedral Tiga Raja mengikuti Upacara Pembakaran Daun Palma yang dilaksanakan pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 18.00 WIT.
Upacara ini merupakan bagian dari rangkaian Misa Rabu Abu yang sarat makna akan pertobatan dan pembaruan iman.
Kegiatan diawali dengan Misa Kudus yang berlangsung khidmat di dalam gereja. Misa kudus dipimpin oleh Pastor Beni Magai, Pr.
Pastor Beni Magai, Pr dalam homilinya yang diambil dari Injil Markus mengatakan, bahwa belajar dari kisah Petrus, yang.a a kisah Petrus ini sangat kontekstual dalam situasi hidup manusia, baik saat tertentu Petrus sebelum tobat dan berjumpa dengan Tuhan.
"Saat tertentu kita ada dalam percobaan, dan saat tertentu kita akan alami penyesalan. Petrus pun mengalami hal itu, mengapa? Pertama ia berjumpa dengan seorang Guru yaitu Yesus dan berbicara berapi-api, saya akan mencintai-Mu apapun soal, saya akan percaya pada-Mu,"kata Pastor Beni.
Mengapa demikian? Karena Petrus dia tidak alami tantangan, godaan maupun zona kesulitan maka dia bicara dengan percaya diri juga apa adanya.
Tiba-tiba apa yang terjadi? Yesus yang disebut guru ditangkap. Dan sebagai manusia lemah Petrus berfikir akan ditangkap dan dibunuh akhirnya dia menyangkal.
Lalu pada saat ia menyangkal tiga kali ramalan Yesus yang disampaikan saat ia bergebu-gebu itu terjadi, sebelum atau setelah ayam berkokok engkau akan menyangkal Saya (Yesus-red).
Maka, saat itu juga Petrus menangis dan sedih bahwa apa yang dikatakan gurunya benar-benar terjadi.
"Dalam kehidupan kita tentu mengalami tiga zona yang dialami oleh Petrus. Hal itu setiap pribadi tidak mengenal satu sama lain, hanya kita saja yang tahu. Saya dengan Tuhan, saya dengan sahabat saya, saya dengan keluarga saya," Katanya.
Oleh sebab itu, maka pada saat ini belum terlambat, dengan membawa daun palma kering itulah hal-hal kesombongan, menyangkal sesama atau acuh tak acuh dalam satu tahun ini agau dosa terhadap Tuhan dan sesama mari bersama daun palma kering kita bakar.
"Dengan membakar daun palma kering, kita menjadi pribadi Petrus yang terakhir, menangis tersedu-tersedu untuk menimba kekuatan, memohon belas kasih untuk menjadi Petrus yang merdeka, luar biasa hebat untuk mewartakan injil dan misteri kebangkitan kepada siapa saja,"ucapnya.
Pastor Beni menambahkan, kembali lagi ke diri kita dan melihat dosa dan salah apa saja dalam satu tahun ini yang telah diperbuat.
”Mari kita merenung dan bakar dosa-dosa itu dan kita mulai dan siap meneguhkan dan mulai menemukan harapan-harapan bahwa Yesus akan membangkitkan kita,” tutupnya. (Shanty Sang)





























