Ini Kriteria Penilaian Yang Perlu Diperhatikan Peserta Pesparani II Mimika

Juri Kategori Lomba Paduan Suara dan Mazmur Pesprani II Katolik Kabupaten Mimika, Pastor Berri Rahawarin, Pr

MIMIKA, BM

Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II Katolik Kabupaten Mimika resmi dibuka di pelataran Graha Eme Neme Yauware pada Rabu (15/11/2023).

Terdapat tujuh kontingen paroki yang siap berlomba untuk meriahkan Pesparani II di 4 mata lomba yakni Lomba Paduan Suara, Lomba Mazmur, Lomba Cerdas Cermat Rohani (CCR) dan Lomba Bertutur Kitab Suci.

Untuk lomba Paduan Suara dan Mazmur menghadirkan salah satu juri yang juga pernah dipercaya menjuri saat pagelaran Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) XIII di Tanah Papua bernama Pastor Bernard Rahawarin, Pr atau lebih akrab disapa Pastor Berri.

Ditemui BeritaMimika di Hotel Horizon Ultima Rabu (15/11/2023) ia mengatakan untuk penjurian pada kategori paduan suara berprinsip pada kriteria-kriteria penilaian musica mundi namun disesuaikan.

“Kita buat penyesuaian dari apa yang kita kenal dengan kriteria musica mundi. Tapi kita tidak terapkan, namun kita mengambil inspirasi dari itu lalu membuat penyesuaian mengingat ini Pesparani tingkat kabupaten," ungkapnya.

"Kita buat penyesuaian karena sebuah kriteria itu jangan melupakan situasi riil di tempat dimana dilaksanakan lomba. Tetapi tetap juga pada faktor intonasi, kualitas suara, kesetiaan kepada partitur dan impresi artistiknya,” jelasnya.

Sementara untuk kategori mazmur, menurut Pastor Berri dipakai kriteria tersendiri yakni kemerduan, penghayatan dan penampilan.

“Pembawaannya dalam perayaan misa kudus sehingga kemerduan suara itu memang perlu, kemudian teknik pembawaan sangat penting karena mazmur dalam bahasa Indonesia berbeda kalau dalam bentuk Gregorian, sehingga itu perlu membedakan dalam hal teknis,” terangnya.

Pastor Berri menuturkan penghayatan berkaitan dengan tuntutan mazmur baik yang sifatnya inkulturatif umum atau mazmur yang Gregorian.

“Penghayatan lebih tentang bagaimana dia membawakan, bertolak dari syair, kemudian akan muncul dalam penafsiran, ekspresi, komunikasi, bernyanyi dengan umat jemaat liturgis. Secara penampilan, untuk panggung umum berbeda pada konteks liturgis,” imbuhnya.

Menurutnya, peserta lomba harus menguasai materi karena ini sifatnya sangat fundamental ketika tampil.

“Setelah kuasai materi, kita menggembangkan dengan penafsiran yang mendukung penghayatan nanti. Penafsiran itu berdasarkan syair. Karena lagu liturgis itu diciptakan dengan metode melodi mengabdi syair, sehingga pesan di lagu-lagu itu ada pada syair," jelasnya.

"Dan dia mesti kuasai dulu materi. Familiar materi untuk menunjang pembawaannya dari situ dia bisa tampil dengan optimal. Kalau tidak maka tidak optimal atau kebetulan, namun itu sangat minim terjadi,” terangnya.

Pada kesempatan itu Pastor Berri menjelaskan bahwa Pesparani Katolik Kabupaten Mimika yang pertama digelar pada saat Almarhum Mgr. John Philip Saklil masih ada.

“Yang kedua dibuat outdoor (luar gedung-red) seremoninya supaya ada gemanya di masyarakat Mimika. Penyelenggaraan ini sasaran pertamanya adalah pembinaan, yang penting ada even ini umat bisa berkumpul. Karena ketika berkumpul banyak hal bisa dibuat untuk saling mendukung dan memotivasi,” paparnya.

Pesparani ini dikatakan Romo Berri adalah suatu bentuk pembinaan yang sangat kongkrit dengan bernyanyi.

“Entah dia mencapai hasil yang sangat gemilang atau tidak, tetapi dengan berpratisipasi, para peserta sudah dimasukan dalam konteks action (aksi-red) pembinaan. Jadi ketika dia pulang ke paroki masing-masing kita sudah punya orang untuk mem-follow up kegiatan ini sesuai mata lomba masing-masing,” terangnya.

“Kedepan siapa tahu dia bisa jadi pelatih di tempatnya berbekal latihan selama ini. Karena belajar harus terjun kalau tidak akan ada kesulitan untuk maju. Supaya banyak orang dibina untuk kemudian dia bisa melaksanakan tugas ini didalam perayaan liturgi,” imbuhnya.

Ia menyebut apa gunanya Pesparani meriah tapi perayaan liturgi kosong? Sasaran paling nyata yakni ketika bernyanyi bagus maka berdampak bagus pada perayaan liturgi. Kalaupun belum nantinya juga akan menjadi bagus walau perlahan.

“Sasaran jangka panjang adalah pengembangan sumber daya manusia (sdm) mencakup dia (peserta-red) bisa menjadi pelatih. Itu saja yang kita perlu capai tapi susah untuk dicapai,” ujarnya.

Lanjutnya, untuk mencapai semuanya diperlukan frekuensi yang tetap agar Pesparani berjalan baik dan teratur. Paduan suara atau pemazmur di gereja pasti akan berkembang karena hal ini  terbukti di tempat lain. Kesenjangan kemeriahan liturgi antara paroki-paroki di kota dan di luar kota juga akan semakin terjembatani.

“Tadi (pembukaan seremoni-red) saya lihat paduan suara saat misa ada potensi. Dimana-mana ada potensi sehingga perlu ada kegiatan atau even untuk kemudian potensi itu ada tempat yang subur dimana bisa tumbuh dan berkembang,” pungkasnya.

Pastor Berri Adalah Ketua Komite Lomba Provinsi Maluku, Juara Umum Pesparani Nasional III

Dalam kesempatan tersebut, Pastor Berri  yang juga merupkan Ketua Komisi Lomba Provinsi Maluku berbagi pengalamannya ketika mengikuti Pesparani Nasional III di Jakarta pada bulan Oktober lalu.

Provinsi Maluku berhasil keluar sebagai juara umum untuk kedua kalinya di ajang ini.

“Pesparani melembaga mulai dari “Maluku untuk Indonesia”. Buah yang kita bisa lihat secara kongkrit adalah kesenjangan antara suara di desa dan kota itu semakin kecil. Kalau ikut misa dimana saja ke Maluku ini rata-rata paduan suaranya rata-rata sama. Itu suatu hasil dari Pesprani yang dibuat berjenjang. Itu jiwa pembinaan dan pengembangannya dapat,” tuturnya.

Dikatakan untuk mengumpulkan orang tidak mudah tetapi harus konsisten. Kuncinya ada di konsistensi.

“Penjadwalan kegiatan perlu konsisten. Maluku juara umum Pesparani nasional orang melihat juaranya tapi dibalik itu kita berdarah-darah,” katanya.

Perjuangan untuk mempertahankan konsistensi itu perlu kerja keras, menyelenggarakan seleksi yang adil, proposional dan objektif.

“Kuncinya adalah dimana segala kebijakan itu dibicarakan bersama. Kalau pada tingkat provinsi maka melibatkan semua kabupaten/kota dalam penetepan regulasinya sehingga semua mengerti. Dengan demikian, regulasi yang ada semua pihak merasa dia punya, sehingga halangan-halangan bisa diminimalisir karena tidak gampang mengatur manusia,”  jelasnya.

“Jika dikerjakan secara bersama-sama mulai dari tingkat regulasi sampai petunjuk teknis pelaksanaan itu nanti lebih membantu kita untuk makin berkembang dalam teknis penyelenggaraan,” lanjutnya.

Ia menambahkan pada tingkat kabupaten/kota maka seluruh elemen yang ada harus ikut terlibat. Jika semua orang tahu, maka jangankan potensi konflik, kesulitan yang riil juga akan bisa dihadapi.

“Konsistensi, transparan dan dikerjakan bersama seluruh unsur. Strategi rekrutmen peserta dan pelatihan persiapan untuk even dikaji secara teliti karena tidak bisa memisahkan rekrutmen dan pelatihan,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)

Top