Pesan Wabup John Untuk OKIA Mimika

Foto bersama pengurus OKIA dengan Wabup John

MIMIKA, BM

Raimondus Kelanangame dan Antonius Tapipea berdasarkan Surat Keputusan Nomor 02/Kep/Mus-kep/OKIA/2020 dilantik sebagai ketua dan wakil ketua Organisasi Kaum Intelektual Amungsa (OKIA) Periode 2020-2022.

Pelantikan keduanya bersama badan pengurus dengan tema Aimuramo Yauware- Poka Aimikamo dilakukan di Hotel Serayu, Jumat (6/3) dan dihadiri oleh Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob, Kepala Kesbangpol dan Ketua KNPI Michael Gomar.

Dalam sambutannya, Wabup John memberikan motivasi, semangat dan dorongan agar organisasi OKIA hadir dan berkembang menjadi sebuah organisasi yang menjadi ujung tombak bagi Mimika.

“Mulai pelantikan ini saya berharap anak-anak Amunge dan Komoro harus mulai bangkit. Harus betul-betul hadir di kabupaten ini. Munculkan jati diri kalian sebagai anak-anak intelektual yang ada di tanah kita ini. Semua badan pengurus harus saling bekerjasama dan saling mendukung organisasi ini,” ujarnya.

Wabup John berharap OKIA menjadi jembatan dan mitra pemerintah serta mitra seluruh masyarakat.

“Kita mau minta siapa kalau bukan kalian? Kita harus tunjukan, rubah sikap dan perilaku yang selama ini menghambat kita untuk maju dan berkembang. Ini organisasi intelektual. Jangan ada apa-apa, kita puruta. Tunjukan bahwa apa yang kita lakukan sesuai dengan nama organisasi ini,” ajaknya.

Ia meminta OKIA untuk memberikan masukan dan pandangan kepada pemerintah daerah. Wabup meminta orgasisasi ini jangan tertutup namun terbuka bagi semua orang.

“Saya jadi wakil bupati dampingi bupati baru enam bulan tapi belum pernah OKIA datang cerita-cerita dengan saya. Saya dan bupati adalah anak Amunge dan Komoro. Mari kita buka diri bersama-sama untuk membangun negeri ini,” ungkapnya.

Setelah dilantik, ia meminta agar OKIA segera membentuk AD/ART organisasi dan mendaftar di Kesbangpol untuk mendapatkan pengakuan.

Wabup juga meminta OKIA membuka komunikasi dengan organisasi KNPI dan organisasi kepemudaan serta kemasyarakatan lainnya.

“Tunjukan bahwa OKIA itu ada. Anak-anak Amungme dan Komoro itu ada. Tunjukan kita ini satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jangan sampai anak-anak Amungme dan Komoro kehilangan jati diri. Sekarang sudah terjadi, ada yang mulai lupa dengan bahasa daerah sendiri. Ini sekarang terjadi dan harus menjadi tanggungjawab OKIA,” ungkapnya.

Wabup mengatakan mereka telah berjuang agar bahasa Amunge dan Komoro masuk dalam kurikulum dasar pendidikan. Bahkan sudah di launching.

Sedari awal ia dan bupati juga telah mencanangkan penggunaan salam amolonggo dan nimouwitiwi sebagai salam pembuka dan penutup di semua kegiatan baik pemerintahan, swasta, agama maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya.

“Salam Horas saja semua orang di Papua tahu masa orang-orang tinggal bertahun-tahun di Mimika tidak tahu salam dan bahasa kita,” ungkapnya diiringi tepuka meriah para peserta.

Ia meminta OKIA dan anak muda Amungme Komoro agar tidak terlena pada situasi-situasi yang membuat mereka menyesal di kemudian hari.

“Jangan sampai suatu saat kita bilang adoo kita yang punya tanah di sini baru tidak ada yang perhatikan kita. Kita harus buat sesuatu agar orang akan perhitungkan keberadaan kita. OKIA harus tanpail dalam semua hal untuk menjadi teladan dan ujung tombak bagi Mimika,” ujarnya.

Ia mengatakan faktor ini bisa terjadi jika tidak adanya kebersamaan, saling menjatuhkan, tidak ingin yang lain berkembang dan maju serta memiliki ego berlebihan dalam diri.

“Jangan merasa kalian hanya sendiri dan yang lain tidak, rangkul semua. Kalau kita jalan sama-sama maka kita akan menjadi satu untuk negeri ini. Lemasa dan lemasko juga harus buka diri, jangan menutup diri. Kita sedih dengar bahwa Lemasa ada persoalan kepemimpinan. Saya harap ke depan jangan lagi seperti begitu. Kita harus satu dan OKIA merupakan bagian dari dua lembaga ini,” tegasnya.

Ia meminta semua badan pengurus OKIA 2020-2022 agar tidak mementingkan kepentingan pribadi. Dalam berorganisasi harus ke depankan semangat kebersamaan dan kekeluargaan.

“Jangan ada yang maju sedikit, kita puruta. Harus maju dan dukung sama-sama. Orang lain berhasil karena mereka saling mendukung. Kenapa kita tidak? Jangan yang satu maju, yang lain tekel dia supaya jatuh dan mundur. Ini tidak boleh,” ungkapnya.

“Hilangkan perasaan Paiti, malu hati tinggi. Kita harus berani tampil dan buat sesuatu di rumah kita sendiri. Hilangkan juga perasaan takut berlebihan dalam diri karena ini akan membuat kita susah berkembang dan maju,” tambahnya.

Wabup berpesan agar OKIA juga tampil secara intelektual dalam menghadapi berbagai persoalan. OKIA harus menunjukan jati diri sebagai anak-anak Amunge dan Komoro.

“Pesan saya kalau kalian berbuat sesuatu pakai pemikiran intelektual. Jangan gunakan gaya preman dan buat orang lain takut. Karena orang mau bilang apa saja, Lemasko, Lemasa dan OKIA yang punya tanah ini. Kabupaten Mimika ini ada karena ada orang Amunge dan Komoro,” ungkapnya.

Ia menambahkan, banyak orang ke Mimika untuk mencari hidup dan pekerjaan. Mereka yang datang dan membangun negeri ini, harus didukung.

“Kalau mereka membangun, kita dukung itu. Kita sebagai tuan rumah berikan dukungan penuh kepada mereka. Tapi ingat, Anak-anak Amunge dan Komoro harus tampil lebih dari pada ini,” ujarnya.

Satu hal lain yang membuat Wabup John merasa sedih adalah keterwakilan orang Amunge dan Komoro di DPRD periode saat ini.

Ia meminta agar ke depan semakin banyak generasi muda anak-anak Amunge dan Komoro mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin masa depan bagi Mimika.

“Saya sedih anggota DPRD Kabupaten Mimika saat ini berapa orang? Tahun 2024 Amunge dan Komoro harus isi parlemen karena dengan begitu akan membuka akses kita lebih jauh untuk membangun negeri sendiri. Kita harus memulai semua ini dengan bersatu dan bersama. OKIA sebagai organisasi intelektual juga harus memikirkan hal ini,” harapnya.

Sementara itu kepada BeritaMimika, Ketua OKIA, Raimondus Kelanangame mengatakan visi misi awal kepemimpinannya adalah bagaiama mempersiapkan SDM di organisasi ini.

“Ini hal utama yang akan kami lakukan karena SDM akan sangat menentukan perkembangan organisasi ini ke depan,” ungkapnya.

Ia juga mengakui bahwa belum semua intelektual Amunge dan Komoro menerima keberadaan organisasi ini. Ini akan menjadi tugas besarnya untuk memperkenalkan dan mengembangkan amanah organisasi ini kepada mereka.

“Beberapa mempersoalkan masalah nama tapi kami sudah sepakati dan sudah ada rekomendasi untuk dibahas di mubes. Kami juga akan lakukan pendekatan dengan Lemasa dan Lemasko sebagai pelindung dan pengayom serta sebagai orangtua kami. Untuk dualisme di Lemasko, dalam waktu dekat kami akan duduk bersama untuk mengajak Lemasa kembali bersatu sebagai payung bagi masyarakat Amunge dan kami OKIA,” terangnya. (Ronald)

Top