Peringati Waisak, Umat Budha Dipesan Kedepankan Eling dan Waspada Membangun Kepedulian Sosial

Umat Budha di Mimika usai merayakan Sembayangan Waisak

MIMIKA, BM

Umat Budha di Mimika memperingati Hari Raya Waisak 2565 TB yang berlangsung sederhana namun penuh khidmat. Pada perayaan Waisak ini umat Budha dipesan agar mengedepankan Eling atau berfikiran sehat dan waspada membangun kepedulian sosial.

Peringatan Tri Suci Waisak 2565 TB Tahun 2021 di Mimika, di pimpin Pandita Kartyadi berlangsung di Vihara Bodhi Mandala, Jalan Hasanuddin Irigasi, Rabu (26/5).

Perayaan Waisak diawali prosesi puja dengan persembahan lilin sebagai simbol cahaya memancar terang, menghapus keadaan suram menjadi terang dan penghormatan kepada Budha yang telah mencapai penerangan sempurna, penghapus selaput ketidaktahuan.

Persembahan air, sebagai simbol persembahan bhakti dengan kerendahan berdasarkan belas kasihMu, uang dipancarkan kepada umat. Dupa terdiri dari wangi-wangian khusus untuk menghormati wadah persembahan termasuk persembahan buah dan bunga.

Hari raya Waisak merupakan bulan penuh berkah yang dinanti-nantikan oleh umat Budha seluruh dunia. Dimana Purnama Siddhi telah bersinar, kelahiran Agung Bodhisatva, Pencerahan Agung Petapa Gotama dan Mahāparinibbāna Buddha diperingati dalam bulan penuh berkah ini.

Tiga peristiwa agung ini sebagai teladan yang menjadi semangat bagi umat Budha untuk senantiasa teguh dalam Budha - Dharma.

Hal ini disampaikan Ketua Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Kabupaten Mimika Jemmy Mulyono saat membacakan pesan dari Dewan Pimpinan Pusat, Sangha Agung Indonesia oleh Ketua Umum Khemacaro Mahathera Sangha Agung Indonesia.

"Eling dan Waspada, yang lebih dikenal dengan istilah sati sampajañña merupakan proses belajar, berlatih dan praktik dengan perhatian dan pemahaman sejati yang mengedepankan kebijaksanaan, "ujar Jemmy saat membacakan pesan tersebut.

Dengan "Eling dan Waspada”, sudah selayaknya umat Buddha di Indonesia menyadari dengan perhatian dan pemahaman sejati bahwa umat Buddha di Indonesia adalah bagian dari makhluk sosial yang tidak hidup sendiri.

Katanya, umat Buddha di Indonesia hidup dalam keberagaman, hidup berdampingan dengan beragam suku, agama, bahasa, adat, budaya, ras dan antar golongan lainnya, menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan keragaman dengan bersemboyankan "Bhinneka Tunggal Ika”.

Sebagai siswa Buddha yang hidup dalam kebhinnekaan hendaklah mengembangkan perasaan cinta kasih yang tak terbatas kepada semua makhluk (Sn.149).

"Sebagai praktik kepedulian sosial, hendaklah cinta kasih dikembangkan kepada seluruh lapisan masyarakat di Indonesia tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan,"ujarnya.

Dikatakan, sebagaimana, Guru Agung junjungan para dewa dan manusia mengajarkan kepada para siswa-Nya untuk berdana kepada siapa saja, bukan hanya berdana kepada mereka yang merupakan penganut agama Buddha (A.I.161).

Lanjutnya, kepedulian sosial juga ditunjukkan oleh Buddha dengan mengibaratkan seekor lebah yang mengumpulkan madu dari bunga-bunga tanpa merusak warna dan baunya, demikianlah hendaknya siswa Buddha mengembara dari desa-ke desa (Dh.49).

"Hidup di masyarakat yang majemuk, hendaklah para siswa Buddha dapat bermanfaat bagi masyarakat dengan menghindari perselisihan dan perilaku menimbulkan pertikaian serta mengganggu keharmonisan dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,"pesannya.

Ia mengatakan, sebab Mereka yang selalu memperhatikan dan mencari-cari kesalahan orang lain, maka kekotoran batin dalam dirinya akan bertambah, dan ia akan semakin jauh dari penghancuran kekotoran-kekotoran batin (Dh.253).

Siswa Buddha sebagai makhluk sosial hendaknya dapat hidup berdampingan dengan penuh cinta kasih dan saling peduli, baik di masa pandemi seperti saat sekarang ini dan di masa mendatang. Melakukan yang terbaik dalam kehidupan dan berlatih Dharma, siaga dan penuh konsentrasi, pada waktunya akan pergi melampaui kekuatan kematian (S.I.52).

Oleh karena itu, kata Jemmy, hendaklah para siswa Buddha memiliki kepedulian sosial dengan sesama umat Buddha, dengan umat beragama lain dan dengan pemerintah.

"Dengan "Eling” mari kita memahami pentingnya membangun kepedulian sosial, dengan "Waspada” mari tingkatkan perhatian membangun kepedulian sosial. Membangun kepedulian sosial demi terwujudnya keharmonisan Bangsa dan Negara Republik Indonesia,"ujarnya.

Ia berharap, semoga berkah Waisak Puja 2565 TB tahun ini senantisa melimpahkan berkah usia panjang, paras rupawan, kebahagiaan, kekuatan, kesehatan, kesejahteraan, kemasyuran dn kedamaian bagi semua makhluk untuk saat ini dan untuk selama-lamanya.

"Semoga berkat kekuatan perlindungan pada Buddha, Dharma dan Sangha mampu menjadi penopang yang terbaik bagi perkembangan dan kemajuan agama Buddha di Indonesia," ungkapnya. (Shanty)

Top