Olah Raga

18 Laga Ditandingkan di Final Tarung Derajat PON XX Papua

Raihan Al Farizi, petarung Kalimantan Barat ditandu keluar arena pertandingan pada laga semi final PON XX Cabor Tarung Derajat saat melawan Muhammad Rizki Firdaus di kelas 64,1-67 Kg. Foto Humas PPM/ Rahmat Julaini

MIMIKA, BM

Technical Delegate Tarung Derajat, Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, Klaster Mimika, H Noves Narayana mengharapkan dalam gelaran Final Tarung Derajat, Selasa (12/10) ini, para finalis menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Tetapi disisi lain ia berharap atlet tidak dipaksakan mengejar 'kehormatan' maupun 'bonus' agar tetap bisa tampil tanpa beban.

Noves Narayana, Senin (11/10) menyatakan, dalam gelaran Final Tarung Derajat, ada 18 partai yang akan ditampilkan termasuk dari kategori Seni Gerak.

Gelaran ini akan dimulai Selasa (12/10) pukul 09.00 WIT pagi dan ditargetkan rampung pada pukul 14.00 WIT.

Penyerahan medali dalam laga final akan dilakukan usai seluruh pertandingan usai digelar. Pemberi medali akan dilakukan oleh pejabat yang hadir dalam laga final.

“Sedangkan untuk penonton yang datang kami harapkan bisa datang tepat waktu seperti biasanya. Supaya tidak ketinggalan pertandingan,” himbaunya.

Sementara itu, untuk para atlet, ia kembali menitip pesan agar besok nanti masing-masing dapat menunjukan penampilan terbaik dengan tetap memeprhatikan semangat cabor ini.

“Jangan emas jadi tujuan. Medali emas itu anggap saja cita-cita saat latihan, sedangkan di laga final adalah bagaimana menampilkan yang terbaik dari hasil latihan selama ini,” harap Noves.

Jalannya Laga Semi Final

Dalam laga semifinal Tarung Derajat hari ini, 18 laga seni tarung dan 5 laga seni gerak-gerak campuran telah dipertandingkan.

Noves menyebut dari seluruh laga pada semifinal di hari kedua, setidaknya tercatat ada dua pertandingan yang dihentikan wasit.

“Di salah satu pertandingan, ada yang kalah-roboh. Setelah dihitung sampai 10 tidak bisa bangun lagi, maka wasit memberhentikannya,” jelasnya.

Ia menilai adanya cedera dikarenakan semangat atlet yang begitu menggebu agar dapat melahu ke partai puncak. Akibatnya, ada yang lengah.

“Walau demikian, alhamdulilah hanya luka ringan saja,” ungkapnya.

Final Tarung Derajat

Pertandingan final Cabor Tarung Derajat, Selasa (12/10) berisikan 14 laga tarung dan 4 laga seni gerak yakni gerak-getar putera, gerak tanger puteri, gerakh gharang putera dan gerak-getar campuran.

Pertandingan pertama di kelas 49,1-52 Kg akan mempertemukan Imanuel B Fakdawer dari Papua melawan M Marcel Ferdinoor dari Kalimantan Timur.

Di pertandingan kedua, di kelas 52,1-55 Kg mempertemukan Yoseph Amoreus dari NTT dan Chairul Nam asal Lampung.

Pertandingan ketiga di kelas 55,1-58 Kg mempertemukan Rudi Nurudin dari Bali melawan Lukman Hakim dari Kepulauan Riau.

Pertandingan keempat mempertemukan atlet Putri di kelas 45,1-50 Kg dimana Vinka Widyaningrum dari Jawa Tengah versus Beatriks Arwam dari Papua.

Pertandingan kelima masih di kategori putri kelas 50,1-54 Kg mempertemukan Novianyanti dari Kalimantan Barat dengan Sri Hurhayatri SPd dari Jawa Barat.

Pertandingan keenam kembali ke kategori putra dimana mempertemukan Andika Dwiki Arislan dari Jawa Barat dengan Gede Dicky Handika Putra dari Bali di kelas 58,1-61 Kg.

Pertandingan ketujuh mempertemukan atlet putra di kelas 61,1-64 Kg yakni Farhan Attamamil Arda dan Elim Tabuni dari Papua.

Selanjutnya pertandingan akan dilanjutkan dengan final seni gerak dari seni gerak getar puterautra, seni ranger puteri, seni gerak gharang putera dan seni gerak getar campuran.

Selanjutnya, kembali di laga tarung untuk pertandingan kedelapan yang mempertemukan atlet kelas 64,1-67 Kg putra antara Muhammad Rizki Firdaus dari Sumatera Utara melawan I Made Ardi Arimbawa dari Bali.

Pertandingan ke sembilan dilanjutkan dengan pertemuan atlet putri antara Akdamina S Epa dari Papua melawan Vebi Sesmita Husna dari Sumatera Barat.

Iageng Rizki Ariani dari Kalimantan Barat akan berhadapan melawan Ni Made Yogi Astrini dari Bali di pertandingan ke sepuluh di kelas 58,1-62 Kg putri.

Pertandingan kelas 62,1-66 Kg putri,yang mempertemukan Julyana Dewi Amelia dari Nusa Tenggara Barat yang berhadapan melawan Darlin Asso dari Papua merupakan pertandingan kesebelas.

Tiga pertandingan terakhir mempertemukan Alex Asyerem dari Papua melawan Nikolaus Toni Sega dari Kalimantan Timur di kelas 67,1-70 Kg putraz

Kandar Hasan dari Aceh akan bertarung melawan Robertus Asso di kelas 70,1-75 Kg Putra sementara pertandingan kelas 75,1-80 Kg mempertemukan Eko Yusuf Sodik Putra dari Jawa Barat dan Andre Surya dari Bali.

Dari catatan jadwal tersebut, diketahui Papua mempunyai atlet terbanyak yang lolos ke laga semifinal. Namun sampai saat ini, belum ada pernyataan dari official dan pelatih mengenai kesiapan jelang laga final.

Pelatih Tarung Derajat NTB dan Aceh Nyatakan Siap Rebut Emas

Pelatih NTB Abdul Khair mengatakan dalam pertandingan final besok, atlet Julyana Dewi Amelia akan tampil lebih baik dari pertandingan sebelumnya.

"Kita harap atlet bisa tampil prima dan maksimal besok. Target kita adalah atlet terakhir ini bisa meraih emas," ujarnya.

Menurutnya, target dari KONI NTB adalah merebuat dua medali. Namun sayang, satu atlet mengalami cedera ketika melawan Banten dan tim medis telah menyampaikan bahwa dia tidak boleh melanjutkan pertandingan.

"Untuk itu, harapan kami hanya di atlet terakhir sehingga kami bisa berlanjut dan cabor unggulan ini bisa dipertahankan,"tuturnya.

Diakuinya, target untuk meraih emas ini ada dasarnya karena Julyana saat mengikuti Pra PON mendapatkan medali emas. Ini menjadi dasar kuat bagi NTB untuk bisa meraih medali emas di PON XX ini.

Sementara itu, pelatih Kontingen Aceh, Yanyan Rahmat mengatakan pihaknya telah mencoba semaksimal mungkin di PON ini. Aceh menurunkan 5 petarung puteri dan 1 petarung putera ada PON XX Papua.

"Di kelas putri kita gagal dan di kelas putra kita gagal. Tapi keempat putra kami berhasil mengantongi medali perunggu. Intinya kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan sangat menghormati perjuangan para atlet kami," jelasnya sambil berharap empat nomor di seni gerak yang tersisa bisa mendulang emas.  (Humas PPM/ Aprina Lestari Hutapea, Rahmat Julaini dan Ronald Renwarin)

 

Lalu M Zohri Tidak Terbendung, Sabet Emas Kedua di PON XX Papua

Lalu Muhammad Zohri atlet asal NTB bernomor punggung 195 saat memasuki finish di nomor lari 200 meter putra pada PON XX Papua yang digelar di Mimika Sport Complex, Senin (11/10/). Foto: Humas PPM/Joseph Situmorang

MIMIKA, BM

Atlet lari nasional Lalu Muhammad Zohri kembali menunjukkan kelasnya di nomor lari cepat. Pembuktian ini terlihat dengan peraihan medali emas untuk kedua kalinya di Cabang Olahraga (Cabor) Atletik PON XX Papua.

Dimana, pada nomor lari 100 meter putra, Zohri juga mendapatkan medali emas.

Kemudian, dinomor lari 200 meter putra yang digelar di Mimika Sport Complex (MSC), Senin (11/10/2021) berhasil menyabet emas untuk kedua kalinya dengan catatan waktu 21.31 detik.

Kemudian diurutan kedua ditempati Eko Rimbawan (Kalimantan Tengah) catatan waktu 21.51 detik. Sementara ketiga ditempati I Dewa Made Mudiyasa (Bali) catatan waktu 21.65 detik.

"Saya bersyukur kepada Allah SWT telah mendapat emas kembali di 200 meter dan ini merupakan suatu hal luar biasa bagi daerah. Medali ini untuk almarhum ibu dan bapak, serta masyarakat NTB," kata Zohri.

Zohri mengakui, catatan waktu masih tidak sebagus di Kejurnas. Hal ini karena kurangnya persiapan untuk nomor lari 200 meter. Ditambah program pelatihan dilakukan 2 minggu sebelum PON dan itu dilakukan hanya 1-2 kali saja.

Karenanya, waktu yang diperoleh tadi jelek. Dimana sebelumnya bisa mencapai 20 detik, tapi kali ini 21 detik.

"Kedepan, mudah-mudahan bisa menjadi terbaik untuk Indonesia," ujarnya.

Adapun atlet nomor lari 200 meter putra, yakni
1. Lalu Muhammad Zohri (NTB) catatan waktu 21.31 detik.
2. Eko Rimbawan (Kalimantan Tengah) catatan waktu 21.51 detik.
3. I Dewa Made Mudiyasa (Bali) catatan waktu 21.65 detik.
4. Gerardo Yehezkiel S (Jawa Timur) catatan waktu 21.68 detik.
5. M Bisma Diwa Abina (Jawa Timur) catatan waktu 21.87 detik.
6. Okky Setyo Utomo (Jawa Tengah) catatan waktu 21.97 detik.
7. Subur Santoso (Jawa Tengah) catatan waktu 22.36 detik
8. Izrak Udjulu (Gorontalo) diskualifikasi.
(Humas PPM/Reyno Guritno/Mujiono)

Alex Asyerem : Sopir yang Pindah Dari Cabor Taekwondo dan Lolos Final PON di Tarung Derajat



Alex Asyemrem menangis sambil memeluk pelatihnya, usai menang dari Aceh. Foto : (Humas PPM/ Elfida Sijabat)

MIMIKA, BM 

Hari keempat babak Semi Final Tarung Derajat berlangsung di Graha Eme Neme Yauware Senin (11/10) telah menyelesaikan 18 kelas tarung dan 5 kelas seni tarung.

Pada pertandingan kelas 67,1 - 70 kg putra antara tuan rumah Papua Alex Asyerem melawan Muhammad Lhadafi asal Daerah Istimewa Aceh, berhasil dimenangkan oleh Alex.

Alex sebenarnya sempat tertinggal pada ronde pertama dan kedua namun ia berhasil bangkit dan agresif mencuri poin dari lawannya, Muhammad Lhadafi. Alex pun menang dengan skor tipis.

Kebahagiaan Alex Asyerem bersama pelatih dan rekan-rekan lain mereka curahkan sepenuhnya dalam keheningan dan air mata ketika berdoa bersama di ruang belakang venue Tarung Derajat.

Kepada media, Alex mengungkapkan bahwa kemenangannya adalah mujizat dari Tuhan karena sebelum bertarung dia merasakan kekhawatiran berhadapan dengan Muhammad.

“Pas masuk memang ada khawatir sedikit karena beberapa kali lawan punya pukulan masuk ke muka saya, tapi itu jadi semangat untuk saya agar di ronde ketiga harus balas dia. Saya cukup takut juga tapi puji Tuhan saya bisa menang,” katanya.

“Saya berterimakasih untuk Tuhan Yesus karena Tuhan berikan saya kekuatan dan kesehatan sehingga dari awal main hingga sampai selesai dengan kekuatan yang baik, tidak ada cedera semua itu karena Tuhan Yesus,” ungkapnya.

Ia menuturkan PON XX Papua merupakan PON pertamanya bertanding setelah sebelumnya mengikuti kejuaraan nasional dari cabang olahraga Tae Kwon Do.

“Dua tahun sudah Trainning Centre (TC) di Jayapura. Basic saya Tae Kwon Do lalu pindah ke Tarung Derajat karena di Tae kwon Do semua kelas full jadi saya ke Tarung Derajat di kelas ini,” ungkapnya.

Alex Asyerem (25) yang bekerja sehari-hari sebagai sopir berasal dari Biak dan khusus untuk PON XX Papua ia bergabung dengan Jayapura.

“Menariknya di tarung derajat adalah pukulan gerakan tinju dipadu dengan tendangan kalau Tae Kwon Do hanya kaki saja. Ini merupakan PON pertama kali. Saya berusaha menjadi yang terbaik untuk bisa meraih emas. Lima teman sudah lolos ke final. Saya akan berusaha di final,” ucapnya.

Di tempat yang sama, pelatih Tarung Derajat Papua, Manuel Maker mengatakan setelah pertandingan tadi banyak yang harua dievaluasi.

“Kalau secara teknik kita kekurangan tetapi modal semangat dari atletnya. Sempat tertinggal mangkanya itu mujizat dari Tuhan. Evaluasi memang sangat banyak karena pertolongan Tuhan Yesus kita bisa menang,” ujarnya.

Dikatakan, ke depan Alex Asyerem dapat menjadi atlet yang diperhitungkan apabila ia fokus berlatih di kelas ini.

“Tapi dia ini masih baru, kendala kita ini tidak pernah try out jadi penampilan kita seperti ini saja. Kita sendiri. Secara teknik memang kita kurang jadi sering dapat pelanggaran dan teguran karena pelatih hanya satu dan dua asisten jadi kita memang kesulitan. Hanya saja sejak berjalan, memang kita tidak mulus ada banyak kisah tapi kita tidak bisa cerita,” ungkapnya.

Karena kisah itulah ia mengatakan para atlet setiap kali selesai tampil selalu menangis. Mereka menangis bukan karena cenggeng namun bahagia dan terharu atas pencapaian mereka selama ini. Mereka tidak pernah menyangka bisa bertahan hingga saat ini di PON XX Papua.

“Kita biasa dibantu oleh perguruan kalau ada kekurangan kita sharing ke sana, tetapi kalau kesulitan teknik harus ada yang betul-betul melatih kita di lapangan tapi terus terang ini tidak ada,” imbuhnya.

Bahkan untuk seni gerak pun kontingen Papua tidak memiliki pelatih khusus. Selama ini mereka hanya berlatih mandiri.

“Kita sendiri jadi kadang-kadang atlet selesai tampil menangis karena terharu, yang tadinya kita ragu tidak bisa tetapi berjalan baik. Puji Tuhan, DIA menyertai kita selama ini. Inilah kondisi kita di lapangan dan kalau dikisahkan panjang sekali. Tentunya sudah di final Alex Asyemrem sudah harus siap,” tukasnya. (Humas PPM/Elfrida Sijabat dan Ronald Renwarin)

 

 

Top