Dikaitkan Dengan Isu 'Otsus Jilid II' Sebagian Warga Mimika Tolak Dilakukan Sensus Penduduk

Kepala BPS Mimika, Trisno Tamanampo
MIMIKA, BM
Sebagian masyarakat di Distrik Mimika Baru, Mimika Timur dan Kuala Kencana menolak petugas sensus BPS Mimika. Mereka menilai sensus penduduk ada kaitannya dengan Otsus Jilid II yang kini ramai dibicarakan.
Kepada BeritaMimika, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika Trisno Tamanampo mengakui hal tersebut.
"Memang ada isu secara global bahwa di Papua sensus kali ini dikaitkan dengan otsus jilid II sehinga banyak warga terprovokasi dengan isu ini sehingga mereka menolak didata. Padahal tidak ada hubungannya," ungkapnya.
Selain isu Otsus Jilid II, warga juga tidak ingin memberikan data karena mereka menilai pendataan ini ada hubunganya dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Mereka menolak karena ada yang berpendapat sampai saat ini belum menerima bantuan usai beberapa kali dilakukan pendataan serupa.
"Mereka merasa pendataan ini tidak ada gunanya. Ada pembagian BLT dan sebagainya mereka sudah diminta data tapi ketika dibagikan yang lain dapat mereka tidak. Mereka kecewa dan tidak mau memberikan data ke petugas kami. Ini beberapa alasan mengapa proses sensus tidak berjalan sebagaimana seharusnya," jelasnya.
Trinso menjelaskan, tujuan dilakukan pendataan penduduk (sensus) setiap 10 tahun sekali untuk menyediakan data ril terkait jumlah, komposisi, distribusi, dan karaketristik penduduk Indonesia menurut de facto dan de jure.
Lanjutnya, data-data ini nantinya akan digunakan untuk pengambilan keputusan oleh pemerintah terutama dalam mengolah bantuan kepada masyarakat.
"Di tiga distrik ini akan kami benahi. Ada juga penolakan karena ternyata mereka tidak paham sensus ini apa, apalagi sensus dilaksanakan setiap 10 tahun sekali," terangnya.
Ia mengakui, saat ini ada pembahasan otsus jilid II, namun masyarakat jangan menyangkutkan sensus dengan hal tersebut.
Sensus dilakukan untuk mengetahui kondisi ril masyarakat dari berbagai aspek. Data sensus penduduk akan dijadikan patokan untuk banyak hal.
"Jadi sekarang ini kita harus benahi untuk lebih ril karena kita harus sinergi dengan instansi lain guna memperbaiki data yang ada di Mimika," ujarnya.
Walau terjadi penolakan di beberapa distrik seputaran Kota Timika, untuk distrik pedalaman dan pesisir pantai justru sebalinya. Warga sangat kooperatif.
"Satu bulan waktu nasional sudah dijalankan, dan memang kita akui banyak kendala lain juga di lapangan. Tetapi yang menggembirakan itu di daerah pedalaman dan pesisir. Di sana kita tidak ada hambatan, kita diterima dengan baik dan sudah 100 persen berjalan dengan maksimal," ungkap Trisno. (Rafael)





